"Kopi pahit lagi?" Tanya Deon pada gadis manis yang sudah dua hari ini menjadi pelanggan di kafenya.
Gadis itu mengangguk tanpa menoleh kearah Deon.
"Oke." Lalu Deon langsung pergi ke dapur untuk melaporkan pesanan pada temannya yang bekerja dibagian dapur.
"Kopi pahit lagi dia?" Tanya Fajar pada Deon yang baru saja datang.
"Ya, kayaknya dia doyan banget kopi pahit." Deon terkekeh.
"Ajak ngobrol atuh, siapa tau tu cewek lagi banyak masalah. Liat aja dari tatapannya natap layar laptop udah kayak natap masa depan yang suram." Ucap Fajar sambil sibuk membuatkan kopi.
"Iya sih, tapi gue takut ganggu." Deon menggaruk kepalanya.
"Nanya doang gak bakal ganggu, percaya sama gue." Fajar menaruh kopi itu ke nampan yang dibawa temannya ini.
Deon menatap temannya dengan tatapan penuh kepercayaan. "Awas lo ya, kalau gue ganggu dia kita bisa kehilangan pelanggan setia nih."
Fajar tertawa renyah. "Santai, pergi satu datang seribu. Udah sana!" Ia mendorong pelan temannya itu untuk memberikan dukungan.
"Ini kopinya." Deon menaruh kopi itu diatas meja, tepatnya disamping laptop gadis berkuncir kuda itu.
Gadis itu hanya melirik kopinya sekilas kemudian kembali menatap layar laptopnya kembali.
"Ekhm." Deon berdeham membuat gadis itu meliriknya. "Dari kemarin ngeliatin laptop terus. Lagi bikin apa emang mbak?"
Gadis itu menarik nafas panjang. "Gue lagi pusing." Kemudian ia menundukkan kepalanya diatas meja.
Akhirnya Deon ikut duduk di sampingnya. Ia menaruh nampan yang tadi ia pegang kebawah meja.
"Pusing kenapa?" Tanya Deon lagi. "Eh sorry gue kepo banget ya?"
Gadis itu kembali mengangkat kepalanya kemudian menggeser laptopnya menghadap ke arah Deon.
"Coba dong lo baca sinopsis cerita gue. Terus lo nilai menurut sudut pandang lo." Pinta gadis itu.
Deon mengangguk lalu membaca pelan sinopsis cerita itu.
"Bagus, sinopsisnya bikin gue penasaran sama ceritanya."
"Seriously?"
Deon mengangguk lagi. Memang benar sinopsis cerita ini sangat menarik. Kebetulan ia juga suka membaca.
"Tapi kok gue udah tiga kali ditolak sama penerbit?"
"Ohh, itu masalah yang bikin lo selama dua hari ini ngelamun sambil minum kopi disini."
Lagi-lagi gadis itu membuang napas panjang. "Iya nih,btw nama gue Vanessa." Ia mengulurkan tangannya.
Deon menerimanya dengan senang hati. Ternyata gadis bernama Vanessa ini ramah tidak cuek seperti dugaannya tadi.
"Gue Deon."
"Gue disuruh kuliah bisnis sama bokap gue. Tapi gue pengennya kuliah sastra. Dan satu-satunya cara supaya bokap gue menyetujui keinginan gue adalah dengan cara gue menerbitkan minimal 1 karya gue. Kalau gue gagal, gue harus nurut deh sama bokap gue buat kuliah bisnis." Vanessa menyeruput kopi pahitnya.
Deon mengangguk paham. "Gue punya kenalan yang bisa nerbitin buku. Kalo lo mau gue bisa kasih lo kontaknya."
Vanessa nampak bingung.
"Kenapa?" Tanya Deon yang melihat ekspresi kebingungan Vanessa.
"Gue takut ditolak lagi."
Karena dia sudah 3x ditolak, jadinya ia takut jika ia terlalu berharap.
"Gak masalah untuk coba sekali lagi. Gue boleh minta nomor lo buat ngirim nomor penerbitnya?"
Vanessa menatap ragu Deon.
"Dengerin ya Vanessa, Tuhan itu selalu memberikan yang terbaik buat kita. Kalau memang takdirnya lo jadi penulis lo pasti bakal jadi penulis meskipun perjalanannya harus melewati ribuan kali penolakan dari penerbit." Kata Deon sambil menatap manik Hazel gadis itu.
Vanessa mengangguk kemudian mengeluarkan handphonenya dan menyebutkan nomornya. Tak lama Deon mengiriminya nomor penerbit itu.
"Eum..kalau gue kesini pesen kopi susu berarti tandanya gue diterima. Tapi kalau gue kesini pesan kopi pahit lagi berarti tandanya gue ditolak."
"Oke, gue tunggu kedatangan lo dan kabar baiknya. Good luck Vanessa!"
"Thanks ya, senang bisa kenal sama lo."
Deon tersenyum dan menatap kepergian Vanessa dari cafenya.
*****
"Kopi susu atau kopi pahit?" Tanya Deon pada pelanggannya yang sudah satu minggu ini tidak mampir ke cafenya.
Gadis itu tersenyum pada Deon. "Kopi pahit."
Deon terkejut mendengar pesanan gadis ini. Naskahnya ditolak lagi? Tentunya tidak lupa dengan percakapan mereka minggu lalu.
Deon mencatat pesanan itu kemudian kembali lagi dengan pesanan yang sudah dinampan.
"Lo ditolak lagi?" Tanya Deon to the point.
Vanessa terdiam lalu menyeruput kopinya.
"AAAAKKK GUE DITERIMA!!" Vanessa tiba-tiba memeluk Deon, membuat laki-laki itu terkejut bukan main. Untung saja kafenya sedang sepi.
"Astaga Vanessa, lo bikin gue kaget. Terus kenapa lo mesennya kopi pahit? Bukannya kalau lo diterima lo bakal mesen kopi susu?"
Vanessa terkekeh. "Prank!!! Hahaha."
Deon menggeleng kepala tak habis pikir.
"Lagian gue lebih suka kopi pahit dari pada kopi susu."
"Oke deh, kopi pahit untuk si manis." Ucap Deon modus.
"Thanks ya, atas bantuan lo gue akhirnya dibolehin kuliah sastra sama bokap gue."
"Sama-sama, sesibuk apapun lo nanti jangan lupa mampir kesini buat ngopi."
"Pasti dong!!"
*****
TAMAT..