Malam pertama setelah bulan madu, Seorang pria bernama Aditya terbangun dengan jantung berdebar kencang.
Ia tidak tahu kenapa.
Suasananya sunyi, hanya suara hembusan napas pelan dari wanita yang tidur di sampingnya—Keisha, istrinya.
Ia berbalik menatap wajah itu dalam redup cahaya lampu tidur. Wajah yang selama ini ia cintai. Namun, malam ini… ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya.
Ia tidak bisa menjelaskan apa, tapi perasaan itu menempel di tenggorokannya seperti debu yang sulit ditelan.
Keisha tampak damai. Namun ada sesuatu yang aneh pada wajahnya. Terlalu sempurna, terlalu tak bernyawa dalam tidurnya.
Seakan-akan… bukan dia.
Aditya menggeleng, mengutuk pikirannya sendiri.
Ini pasti hanya efek kelelahan. Pernikahan, bulan madu, kehidupan baru—semuanya pasti membuatnya terlalu paranoid.
Namun, malam-malam berikutnya, perasaan itu semakin kuat.
Keisha tidak lagi tertawa seperti dulu. Senyumnya tampak dibuat-buat, caranya berbicara sedikit lebih lambat, tatapan matanya seolah kosong—seperti seseorang yang sedang mengingat cara menjadi Keisha.
Dan Aditya mulai merasa… bahwa wanita yang bersamanya bukanlah istrinya.
Aditya mulai menggali apa saja yang ia temukan.
Lalu, ia kembali ke apartemen lama Keisha mencari sesuatu, apa saja yang bisa meyakinkannya bahwa ia hanya berlebihan.
Namun, yang ia temukan justru membuat tubuhnya meremang.
Di laci meja rias, ia menemukan sebuah album foto. Ia membukanya perlahan, melihat satu per satu potret kenangan mereka. Keisha tersenyum di berbagai sudut kota, di kafe favorit mereka, di bawah pohon sakura yang mekar saat liburan musim semi.
Namun, sesuatu terasa aneh.
Ia ingat pernah mengambil foto-foto ini, tapi ada detail kecil yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Tatapan Keisha di beberapa foto terlihat… kosong. Tidak seperti dirinya yang dulu.
Dan di halaman terakhir album, ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Sebuah foto mereka berdua di hari pernikahan.
Namun, di latar belakang, di antara para tamu undangan, wajah-wajah yang ia kenal begitu baik… tidak ada disana.
Orang tua Keisha.
Mereka seharusnya ada di sana. Ia ingat dengan pasti bahwa Aditya bertemu mereka. Ia ingat mereka duduk di barisan depan saat prosesi akad.
Tapi di foto ini… mereka tidak ada.
Tiba-tiba, sebuah kenangan menghantamnya seperti gelombang pasang.
Pernikahan mereka terasa seperti mimpi yang kabur, harinya dan siapa saja yang hadir. Ia mulai menyadari bahwa ada begitu banyak momen yang ia tidak bisa ingat dengan jelas.
Saat itu, ia merasakan ada yang tidak beres.
Tangannya gemetar saat ia menghubungi sahabat lama Keisha, Nita.
"Butuh bicara sebentar," katanya saat Nita mengangkat telepon.
Suara di seberang terdengar ragu. "Aditya… kau belum tahu, ya?"
Jantungnya mencelos. "Tahu apa?"
Hening sesaat, lalu suara itu terdengar lebih pelan, lebih ragu.
"Keisha sudah mati."
Dada Aditya langsung terasa kosong. Ia tertawa hambar, mencoba menyangkal. "Nita, apa maksudmu? Aku baru saja bicara dengannya pagi ini!"
"Tidak," sahut Nita lirih. "Keisha meninggal sebelum pernikahan kalian. Mobilnya ditemukan di jurang. Tapi… tubuhnya tidak pernah ditemukan."
Nafas Aditya tercekat. Dunia terasa berputar.
"Aku… menikah dengannya," bisiknya, nyaris tidak terdengar.
Di ujung telepon, Nita terdiam lama sebelum akhirnya berkata,
"Aditya, dengarkan aku baik-baik…Pernikahan itu tidak pernah terjadi."
Aditya terduduk di lantai mendengar informasi baru itu. Tangannya mencengkeram kuat kepalanya.
Tidak mungkin.
Ia ingat pernikahan mereka. Ia ingat Keisha mengenakan gaun putih, tersenyum padanya saat berjalan di altar. Ia ingat malam pertama mereka di hotel, bulan madu mereka di vila pinggir pantai…
Tapi semakin ia mencoba mengingat…
Semakin kabur semua itu.
Seperti mimpi yang direkayasa.
Seperti sesuatu yang dibuat-buat.
Tangannya gemetar membuka galeri ponselnya. Semua foto pernikahan mereka ada di sana—tapi sesuatu terasa aneh.
Di setiap foto, Keisha selalu ada.
Tapi dalam beberapa foto yang seharusnya diambil oleh tamu undangan, tidak ada yang benar-benar menatap langsung ke arah Keisha.
Seolah-olah…
Ia tidak ada di sana.
Jika Keisha sudah mati sebelum pernikahan… siapa wanita yang tidur di sampingnya selama ini?
Malam itu, Aditya pulang ke rumah dengan langkah yang berat.
Ia menatap wanita itu tengah berdiri di dapur sedang menyeduh teh dengan gerakan anggun.
Keisha menoleh, tersenyum lembut. "Kau sudah pulang?"
Suaranya terdengar sama. Matanya terlihat sama.
Tapi sekarang Aditya tahu.
Itu bukan istrinya.
Wanita itu berjalan mendekat menyentuh wajahnya dengan lembut seperti yang selalu Keisha lakukan. Namun, kini sentuhan itu terasa asing.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya wanita itu dengan kepalanya—sedikit miring.
Aditya menelan ludah. "Siapa kau?"
Wanita itu berkedip. "Aditya… ini aku. Keisha, istrimu."
"Tidak," bisiknya. "Aku tahu Keisha sudah mati."
Wajah wanita itu tetap tenang.
Lalu, ia tersenyum.
Namun kali ini, senyum yang bukan milik Keisha.
Dalam sekejap, leher Aditya dicekik kuat oleh wanita itu. Napasnya terhenti.
Ia melihat ke dalam mata wanita itu dan yang ia lihat adalah sesuatu yang kosong, dingin, dan tak manusiawi.
"Ssstt… Sudah kubilang, aku adalah Keisha," bisik wanita itu di telinganya. "Aku kembali… demi kau."
Seketika, ruangan terasa mencekam.
Bayangan di sudut-sudut ruangan bergerak, seakan-akan ada sesuatu yang bangkit dari gelap.
Dan untuk pertama kalinya, Aditya sadar…
Wanita ini mungkin bukan Keisha.
Tapi dia tahu segalanya tentang Keisha.
Termasuk bagaimana cara mencintainya.
Dan mungkin juga…
Bagaimana cara membunuhnya.
.
.
(Terima Kasih sudah membaca! Ayo mampir ke karyaku yang lain.💕)