Judul: Dalam Pelukan Dua Dunia
Di sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh pegunungan, hiduplah seorang pemuda bernama Raka. Dia adalah seorang kakak yang penyayang bagi adik laki-lakinya, Awan, yang baru berusia lima tahun. Sejak kelahiran Awan, Raka merasa ada sebuah ikatan yang kuat antara mereka, seolah-olah dia bukan hanya seorang kakak, tetapi juga seorang ayah bagi adiknya. Pengalaman ini membentuk apa yang orang sebut sebagai "babyboy daddy brother complex" — hubungan yang erat, penuh kasih sayang, tapi terkadang rumit.
Raka adalah siswa SMA yang aktif, tapi ia tidak pernah mengabaikan tanggung jawabnya sebagai kakak. Setiap pulang sekolah, ia selalu meluangkan waktu untuk bermain bersama Awan, mengajarnya membaca, dan sesekali membacakan cerita sebelum tidur. Awan sangat mengagumi Raka, melihatnya seperti superhero yang selalu ada untuknya. Raka berusaha keras untuk memenuhi ekspektasi itu.
Namun, bisa dibilang, Raka merasa terjebak dalam peran yang dia mainkan. Di satu sisi, dia mencintai adiknya dan senang bisa menjadi sosok pelindung. Di sisi lain, ia juga merindukan kebebasan masa remajanya. Teman-teman di sekolah seringkali mengajaknya keluar, tetapi Raka merasa bersalah setiap kali membayangkan meninggalkan Awan sendirian di rumah.
Suatu hari, ketika Raka pulang dari sekolah, dia melihat Awan duduk sendiri di depan televisi, menonton acara kartun favoritnya. Raka tersenyum, tetapi ada sesuatu yang aneh di dalam Awan. Sepertinya adiknya merasa kesepian. Raka teringat betapa Awan sering berbicara tentang keinginannya untuk memiliki teman bermain. Raka berjuang sekuat tenaga untuk menjaga Awan tetap dekat, dan memutuskan sudah saatnya adiknya bersosialisasi di luar rumah.
“Bagaimana kalau kita mencari teman-teman baru?” tanya Raka dengan semangat. Awan langsung tersenyum, matanya berbinar.
Hari-hari berikutnya, Raka mengatur pertemuan dengan anak-anak tetangga. Awan mulai bermain dan bersosialisasi, dan Raka merasakan ada sedikit celah di dalam hatinya. Ia menyadari bahwa membiarkan Awan memiliki kebebasan dan teman-temannya membuatnya bahagia, meskipun itu berarti jarak antara mereka semakin lebar.
Namun, di malam hari, setelah mengantar Awan tidur, Raka tak bisa mengelak dari rasa khawatir yang menggerogotinya. Apakah dia akan kehilangan ikatan yang mereka miliki? Apakah Awan akan lebih memilih teman-temannya daripada kakaknya? Pertanyaan-pertanyaan ini membuntutinya, membuatnya terjaga sampai larut malam.
Suatu ketika, ada acara di sekolah Awan yang mengharuskan orang tua atau kakak untuk hadir. Raka merasa ini adalah kesempatan sempurna untuk menunjukkan betapa dia peduli. Dalam acara tersebut, Awan sangat antusias dan tak sabar untuk menampilkan hasil karyanya, yaitu lukisan besar yang dia buat tentang keluarga. Ketika pasangan tiba, dengan bangga Awan menunjukkan karyanya dan berkata, "Ini adalah Raka, kakak sekaligus pahlawanku!"
Mendengar kata-kata tersebut, Raka merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Di tengah keramaian, di antara teman-temannya, Awan tetap menganggap sebagai sosok penting dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa meski adiknya mulai membuka diri ke dunia luar, cinta dan penghargaan Awan padanya tidak akan pernah pudar.
Dari saat itu, Raka mulai belajar untuk melepaskan sedikit kendali. Dia mengerti bahwa peran sebagai kakak hanya salah satu bagian dari kehidupan mereka. Awan membutuhkan teman-teman, tetapi dia juga menginginkan kakaknya di sisinya. Dengan memupuk kepercayaan dan kebebasan Awan, mereka dapat menjalin hubungan yang lebih sehat.
Seiring berjalannya waktu, Raka menemukan keseimbangan antara perpisahan sebagai kakak dan sahabat bagi Awan. Dia tidak hanya mengajari Awan tentang dunia luar, tetapi juga membiarkan adiknya mengajarkannya tentang cinta yang tak terukur dalam sebuah hubungan. Mereka berdua tumbuh dan belajar bersama, menciptakan kenangan yang akan dikenang selamanya.
Di kota kecil itu, dengan pegunungan yang megah sebagai latar belakang, kisah mereka berlanjut. Raka dan Awan, dalam pelukan dua dunia, menemukan arti sejati dari keluarga, cinta, dan kebersamaan.