''Maria... Maria...'' Lantunan lembut itu bergema di sepanjang lorong ruangan. Seorang wanita paruh baya terlihat menyisir rambut panjang hitam milik anaknya yang terurai.
''Ma.. kapan Maria bisa melihat lagi? Maria ingin melihat burung-burung yang terbang bebas di langit,'' Ucap Maria lirih. Ia menggenggam dingin tangan ibunya.
Ibunya terdiam mendengar ucapan Maria. Dia tak tahu harus menjawab apa, ingin rasanya dia menangis. Ini adalah tahun ke 7 Maria kehilangan penglihatan nya, semenjak insiden kelalaian Ibunya sendiri. Sejak itu juga, kedua orang tuanya berpisah. Maria memutuskan untuk tinggal bersama Ibunya di rumah tua beratapkan genteng keramik.
"Maria.. Maafkan mama. Bagaimana kalau Minggu depan, kita pergi ke rumah Ayah?'' Tanya Ibunya meyakinkan.
Maria terdiam, pandangan mata nya tetap kosong. Ia masih saja menggenggam tangan ibunya, kali ini begitu erat.
''Ma.. Aku tidak mau bertemu dengan Ayah. Aku tidak mau, mama tersiksa oleh Ayah. Kita diam disini saja.. aku ingin mama tetap tersenyum. Walaupun aku tidak tahu jelas wajah Mama saat tersenyum,'' Lirih Maria. Ia mengambil sisir biru itu, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.
''Maria...''
''Yang pasti, mama Adalah wanita yang paling kuat.''
Ibunya tertegun sejenak, kemudian menitikkan air mata kepedihan lagi. Kata-kata itu terasa menancap dihatinya.
''Kamu berbohong. Aku bukan lah orang yang kuat. aku melampiaskan semuanya pada mu. Cukup untuk membual nya,'' Ucap Ibunya singkat, seakan menghemat perkataannya. Ia mengernyit kesal.
Maria mengerti perkataan Ibunya barusan. Semua luka memar ditubuhnya adalah pelampiasan kekesalan Ibunya sendiri.
BRAAAAAK
Tak beberapa lama Ibunya keluar dari kamar, terdengar dentuman keras dari lantai kayu. Maria terdiam, ia tersenyum tipis. Kemudian mencoba menghampiri asal suara itu.
''Ma...''
Langkahnya terhenti saat kakinya terhalangi oleh benda besar. Cairan hangat terasa menyentuh kaki kakinya. Anyir darah menyengat hidung nya.
''Ma!'' Maria berteriak, namun sepertinya tidak satu orangpun yang mendengarnya.
----
Seminggu semenjak kematian Ibunya, Maria di asuh oleh Ayah kandungnya. Namun.. tak semudah itu kehidupannya berjalan.
''Maria.. sudah tujuh hari dari kematian ibumu, apakah itu tidak ada hubungannya dengan mu? nak?'' Ayahnya masih saja menyelidiki kasus ini.
Setiap paginya, meja makan terasa menjadi meja persidangan. Tatapan mata Ayahnya seakan siap menghakimi. Lantas anak 12 tahun itu tak tahu harus menjawab apa.
''Aku tidak tahu apa-apa, yah. Sebagai gantinya, aku yang akan keluar dari rumah ini. Ayah juga bisa membunuh ku, jika ayah mau.''
----
Siang itu, Ayahnya pergi mengantar Maria kembali ke rumah Ibunya. sesuai dengan permintaannya sendiri. Dia lebih memilih mengurung diri.
''Sampai jumpa Maria.. Ayah akan kembali ke sini. Ayah pasti merindukan mu,'' Ucap Ayahnya sembari melangkah keluar.
Sementara Maria terlihat duduk diam di sofa dengan pandangan datar.
Tap.. Tap .. Tap..
Langkah kaki terdengar bergema menghampiri dirinya. Maria tetap terlihat tenang. Mungkin saja, itu adalah Ayahnya yang kembali. Namun.. ternyata bukan.
''Maria...'' Suara halus itu membuat Maria terbelalak, hingga terjatuh dari atas sofa. Suara yang sebelumnya tak pernah ia dengar.
''Jangan takut, Maria!'' Suara itu terdengar kasar sekarang.
Tangan-tangan dingin menyentuh kelopak mata Maria. Ntah apa yang barusan terjadi. setelah tangan terbuka, kedua mata Maria bisa melihat kembali. Namun, tak ada satupun orang yang ada di dekatnya. Lantas? Siapa orang itu?
''Sebagai permintaan maaf. Aku sudah menyembuhkan kedua mata mu. Maafkan aku yang bersikap jahil pada ibumu,'' Suara gadis kecil itu terdengar lagi.
''Kamu? Ternyata kamu.. apa kamu pikir, senyuman ibuku dapat digantikan oleh kedua Mata buta ini?'' Iris mata Maria terlihat berkaca.
Maria berlari menghampiri knop pintu rumahnya. Ia memandang langit yang sebelumnya gelap selama 7 Tahun. Namun perasaan ini sangat menyakitkan. mahkluk halus yang disebut sebagai ''temannya'' itu telah membunuh dan melenyapkan senyuman ibunya untuk selamanya.
''Aku tidak butuh mata ini!'' Maria berteriak.
Tap
''Nak? Kenapa kamu menangis?'' Seorang pria paruh baya menepuk bahu Maria yang tengah senggugukan.
''Aku benci mataku! Aku benci hidupku!'' Maria berteriak kembali.
''Apa kau tahu? Tuhan memberikan kita hidup untuk menjalaninya. Peluk dirimu, dan katakan 'Kau berharga.' Ibumu akan tersenyum disana..'' Lirih Pria itu sambil menyisipkan secarik nasihat.
Maria tersenyum.
''Bagaimana, kalau aku mengadopsi mu? Perkenalkan nama ku adalah Anton..''
------
5 Tahun berlalu sejak saat itu. Maria tinggal bersama Tuan Anton yang berprofesi sebagai Guru. Namun.. dia juga memiliki sisi gelapnya sendiri. Dia memiliki darah psycho, dan sulit untuk ditebak. Namun Maria tidak menghiraukannya. Menurutnya, dia adalah orang yang paling baik.
''Pak Anton belakangan ini aneh sekali..'' Max menaruh kecurigaan pada sikap Anton saat mengajar, seakan ia menyisipkan rencana pada Max.
Max adalah pacar Maria. Hubungan mereka baru terjalin sebulan lebih.
KRINGGG!
Bel berbunyi, waktunya istirahat tiba.
''Maria.. Jalan yuk,'' Max menghampiri Maria yang hanya terdiam di ambang pintu kelas.
Maria tersenyum lebar, lalu mengiyakan ajakan Max. Dari sebalik kaca matanya, Anton menyorot kedekatan antar mereka.
-----
Hari ini ada kelas tambahan. Beruntungnya Maria bisa satu kelas dengan Max. Semua tugas hari ini terasa ringan berkat keberadaan Max disampingnya.
''Nanti pulang bareng ya?'' Maria tersenyum lebar menjawab ajakan Max.
Anton menatap tajam keduanya.
-----------
Kelas hari ini usai. Maria hendak mengantar buku ke ruang guru. Sementara Max menunggu di atap sekolah sembari menikmati angin yang berhembus. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. Di sela itu juga, Anton menghampiri Max yang tengah bergema dalam hening.
''Jauhi anak ku,'' Anton datang membawa ancaman. Ia mencekik erat leher Max.
''Lepaskan!'' Max mengerang kesakitan.
''Ayah!'' Maria datang menghampiri.
Anton melepaskan tangannya saat Maria tiba. Seakan tak terjadi apa-apa.
''Ayah mu ini gila! Jauhi Psikopat gila ini!'' Max berteriak kencang. Terlihat bekas cekaman di lehernya.
''Apa maksudmu?''
Sepersekian detik, Anton mengeluarkan Pistol dari saku kemejanya. Lalu mengarahkannya pada Max. Lantas, keduanya terkejut
''Ayah, hentikan!''
''Maria! Jangan percaya dengan bocah tengik ini! Dia hanya membohongi mu, dia tidak mencintaimu. Maria, berikan keputusan mu.'' Seru Anton, suasana mencapai pada puncak ketegangan.
Maria tak tahu harus memilih apa. Kata-kata itu masih saja bergema di telinganya. Pistol itu disodorkan pada Maria.
DOR! DOR!
DOR! DOR!
''Huft.. Dua orang lagi, mati di tangan ku..'' Maria mengatur nafasnya yang berburu.
Langit gemuruh disertai angin kencang yang menerpa, menjadi saksi bisu malam ini. Gadis itu seakan menikmati suara tembakan yang tepat pada sasaran nya.
Kedua telapak tangan dingin nan pucat kembali menutup matanya kembali.
''Maria... Apa kau mengingat ku? Ikutlah dengan teman masa kecil mu ini...''
-------
TAMAT