"Kak Lefan!!" Rengekku.
Aku melihat sosok berkacamata itu memasang wajah sungut penuh protes.
"Maaf, kak." Lagi, ku berdialog.
"Kenapa sih dek, konsumsi coklat lagi, sudah tahu ade belakangan ini begadang mulu. Masih aja makan pantangannya. Sekarang mau ngadu apa lagi ke kakak, hah?!" Sungutnya.
Seperti biasa. Aku memasang wajah tak berdosa, tanpa bersalah sedikit pun, sudah buat kakak fiksiku marah lagi.
"Kalau nenekmu masih ada, kamu nggak sebrantakan ini, dek, sekarang." Kak Lefan menatapku lamat-lamat, penuh lekat di wajah. Menampilkan kesedihan.
"Bodoh."
"Sikap malas tahumu ini sudah, yang tidak bisa kakak larang karna kalau kakak kasih perhatian, sebatas imajinasi saja. Dan.. Itu yang buat ade semena-mena di sana, lakukan hal-hal menyakiti diri lagi." Kak Lefan membuang napas lelah.
"Eng.. Kalau boleh menyampaikan, semalam aku kumat. Bukan psikis, tapi paru-paruku, kak, hehe. Jantungku semalam nyaris nggak berdenyut tahu. Gegara terlalu makan manis-manisan." Aku mengadu, tak berdosa sedikit pun.
"Dek.."
Mulai deh.
"Bye..bye, Kak Lefan!! Udah dulu yak! Aku mau nyuci pakaian dulu haha."
Tiba-tiba kepala serta denyut jantungku kembali perih, di saat aku berjalan ke arah mesin cuci.
Meringis. Kembali kambuh lagi. Serta.. Kepala ikutan sakit.
Tapi, setidaknya aku sudah bercerita walau tahu sebatas fiksi. Namun itu sangat menyenangkan. Karena sudah tidak memiliki tempat bersandar atau pun healing lagi. []