Pagi itu, udara terasa dingin dan angin bertiup dengan keras. Aku duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat. Di kejauhan, aku melihat seorang pria berjalan mendekat. Itu adalah Ethan, mantan kekasihku. Kami telah putus sejak dua bulan yang lalu, tapi rasanya seperti kemarin.
Ethan, ada apa? tanyaku ketika dia sudah sampai di depanku.
Aku ingin bicara denganmu, Sasha. Bisakah kita duduk dan berbicara dengan baik? jawab Ethan sambil menatapku intens.
Aku mengangguk setuju dan kami pun duduk di bangku teras. Suasana hening terasa tegang di antara kami. Setelah beberapa saat, Ethan akhirnya membuka percakapan.
Sasha, sebenarnya aku masih mencintaimu. Aku merindukan semua yang pernah kita lakukan bersama, ucap Ethan dengan suara lembut.
Aku terdiam sejenak, mencoba untuk meredakan emosi yang berkecamuk di dalam diriku. Ethan, kita sudah berpisah. Itu adalah keputusan yang sudah kita ambil bersama. Aku pikir berpisah lebih baik, jika ego kita tidak bisa hilang, ujarku dengan mantap.
Ethan menatapku dengan penuh penyesalan. Tapi, Sasha, aku berjanji bahwa aku akan berubah. Aku akan menjadi lebih baik untukmu. Biarkan aku membuktikannya padamu, pinta Ethan sambil mencoba memegang tanganku.
Aku menarik tanganku dengan cepat. Ethan, aku sudah membuat keputusan. Aku tidak ingin kembali ke masa lalu yang penuh konflik dan pertengkaran. Kau harus memahami bahwa ini lebih baik untuk kita berdua, ujarku dengan tegas.
Ethan terdiam sejenak, seolah mencerna kata-kataku dengan pahit. Setelah beberapa saat, dia akhirnya mengangguk kecil. Baiklah, Sasha. Kalau itu keputusanmu, aku akan menghormatinya. Tapi, aku berjanji bahwa aku akan melupakanmu dan meninggalkanmu pergi, ucap Ethan sambil berdiri dari bangku.
Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk. Sebagian hatiku ingin memberinya kesempatan, tapi sebagian lainnya tahu bahwa berpisah adalah keputusan yang lebih baik. Dengan hati yang berat, aku mengucapkan selamat tinggal pada Ethan.
Malam itu, aku duduk sendirian di ruang tamu rumahku. Satu persatu kenangan bersama Ethan mulai memenuhi pikiranku. Aku merasa sedih, tapi juga lega karena akhirnya aku bisa melangkah maju tanpa beban masa lalu yang rumit.
Tiba-tiba, sebuah bunyi ketukan pintu membuatku terkejut. Aku berjalan perlahan menuju pintu dan membukanya. Di depanku, Ethan berdiri dengan tatapan penuh penyesalan.
Sasha, maafkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tahu aku salah, tapi aku janji akan berubah. Aku minta kesempatan kedua darimu, pinta Ethan dengan suara gemetar.
Aku terdiam sejenak, merasa campur aduk antara keinginan untuk memberinya kesempatan dan keputusan untuk tetap pada pendirianku. Setelah beberapa saat berpikir, aku akhirnya menjawab dengan mantap.
Ethan, aku rasa ini lebih baik jika kita berpisah. Aku tidak ingin ego kita menghancurkan hubungan kita lagi. Kita harus belajar untuk melepaskan dan melangkah maju, ujarku dengan tegas.
Ethan terdiam, seolah tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Dia menatapku dengan tatapan penuh kebingungan dan kesedihan. Tanpa berkata apa-apa, dia akhirnya berbalik dan pergi meninggalkanku sendirian di depan pintu.
Aku duduk di lantai ruang tamu, merasa sedih dan hampa. Meskipun hatiku hancur, aku tahu bahwa ini adalah keputusan yang lebih baik. Aku harus belajar untuk melepaskan ego dan memilih untuk bahagia tanpa mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat.
Dari situlah, aku belajar bahwa terkadang berpisah adalah pilihan yang lebih baik jika ego kita tidak bisa hilang. Kita harus belajar untuk memilih kebahagiaan daripada terus mempertahankan hubungan yang hanya membuat kita menderita. Jika itu yang terbaik untuk kita, maka biarkanlah ego kita mereda dan biarkanlah hati kita menuntun kita pada keputusan yang lebih baik.