Sejauh apapun kau pergi. Yakinlah, jodoh akan menemukan mu.
🌸🌸🌸
Meti Aninta seorang wanita yang mempunyai hobby menonton film ini sering mengoleksi macam-macam genre film dirumahnya. Terlebih genre yang sangat ia sukai adalah genre horror.
Suatu hari, ketika sedang berada di toko penjualan dvd bersama Nia dan Rey. Ia bertemu seorang lelaki yang hobby nya sama seperti dirinya. Lelaki itu mempunyai hobby mengoleksi film, tapi film bergenre roman. Berbanding terbalik dengan Meti yang suka genre horror. Entah itu takdir atau kebetulan cerita mereka berlanjut.
Brukkk...
Lelaki itu tidak sengaja menabraknya. Akhirnya, dvd yang ia bawa berjatuhan. Lelaki itu mengambil semua dvd yang berjatuhan dilantai.
"Maaf, aku tidak segaja!" ucap lelaki itu.
"Tidak apa-apa." ucap Meti seraya tersenyum.
"Mmm ... Biar aku bantu. Ngomong-ngomong, kau suka film horror, ya?"
"Ya, kamu?" Meti tersenyum.
"Aku lebih suka genre roman," ucap lelaki itu.
"Kita berberda selera," ucap Meti tertawa kecil.
Setelah membayar, mereka keluar bersama. Mereka berbincang banyak hal tentang film terutama Meti dan Erlan. Kemudian, mereka menjadi sangat akrab hanya karena menceritakan beberapa film.
"Kita belum berkenalan?" ucap Erlan.
"Iya ... Perkenalkan namaku Meti."
"Namaku Erlan. Senang mengenalmu." Erlan tersenyum manis.
Meti dan Erlan saling mengulurkan tangan dan saling bersalaman. Sejak pertemuan hari itu mereka sering bertemu dan kemudian mereka saling bertukar nomor telepon. Mereka saling mengirim pesan dan saling menelepon jika sedang luang.
Lama- kelamaan, Erlan merasa ia sangat cocok kepada Meti. Meti type orang yang ramah dan mudah berteman. Sedangkan Erlan type orang yang menutup diri. Tapi setelah bertemu Meti, Erlan mulai membuka diri dan sering bercerita banyak hal kepada Meti.
Mereka berdua sering bertemu untuk sekedar mencari film terbaru, makan bersama.
Hari itu, Erlan memberanikan diri menyatakan perasaannya kepada Meti. Erlan sudah siap jika ditolak. Namun, Meti membalas perasaan Erlan. Erlan begitu bahagia mendengar ucapan Meti.
Sebulan, dua bulan mereka saling mencintai. Setiap hari mereka saling berkomunikasi, bahkan hanya sekedar menanyakan hal-hal sepeleh. Sampai suatu hari, Meti menjadi sulit dihubungi. Seminggu sudah Erlan tidak bisa menghubungi Meti.
Erlan memutuskan menunggu didepan rumahnya. Terdengar kekacauan di dalam rumahnya seperti suara orang sedang bertengkar. Yah, Meti mempunyai masalah keluarga yang rumit. Kedua orang tuanya setiap hari selalu bertengkar dan ingin bercerai.
Meti keluar dari rumahnya. Erlan datang menanyakan ada apa di dalam rumahnya. Tapi urung karena raut wajah Meti yang masam dan mata berkaca-kaca menahan tangis. Pikirannya berkecamuk didadanya. Ia sangat terkejut melihat sosok Erlan menunggu di depan rumahnya. Meti menarik napas panjang dan membuang sembarang.
"Ada apa kesini?" tanya Meti.
"Aku mengkhawatirkanmu. Kau kemana saja? Kenapa kau hilang kabar selama seminggu ini?" tanya Erlan seraya mencecari beberapa pertanyaan.
"Aku sangat sibuk sekarang, bisa kau pulang saja! Aku sedang malas menemui siapapun."
"Kenapa? Harusnya kau mengabariku. Aku ini kan pacarmu."
"Kau itu hanya pacar! Kenapa banyak menuntut?"
"Hanya pacar? Kau bilang hanya pacar! Kau egois, Met."
"Yah, aku sangat egois. Kenapa kau menjadi berlebihan seperti ini, kau ini membuatku semakin muak saja."
"Kau menyebutku muak? Aku ini mencintaimu. Wajar jika aku menanyakan kabarmu."
"Iya ... Tapi aku tidak suka. Cinta? Cinta itu bullshit. Kau banyak menuntut. Aku tidak suka. Seharusnya kita tidak pernah berpacaran."
"Apa maksudmu?"
"Aku ingin mengakhiri hubungan kita sampai disini saja sebelum menjadi berlarut-larut. Aku tidak suka lelaki sepertimu yang tidak bisa menonton film horror. Kau hanya suka roman. Kita sangat berbeda dan berbanding terbalik. Aku bercita-cita menjadi penulis, sedang kau hanya bercita-cita ingin membuka sebuah toko kaset saja. Yang benar saja? Kau bukan type ku! Aku tidak suka! Aku ingin lelaki yang mempunyai perusahan besar, agar hidupku bisa terjamin nantinya." ucap Meti menahan air matanya.
"Baiklah jika itu maumu," ucap Erlan bergetar seraya meneteskan air matanya.
"Sekarang kau pergi saja dari rumahku!" pekik Meti.
Setelah hari itu, mereka benar-benar putus dan hilang kabar. Meti benar-benar mengakhiri cinta pertamanya. Orang tuanya bercerai dan Meti memilih tinggal bersama ibunya. Meti sedikit takut menjalin hubungan dengan lelaki, karena ia takut akan kandas seperti orang tuanya. Oleh karena itu, ia terpaksa memutuskan Erlan. Padahal ia sangat mencintainya.
Di masa-masa sulitnya itu, hanya Nia yang menemaninya. Nia selalu setia mendengar keluh kesah Meti.
🍁🍁🍁
5 tahun berlalu ....
Ini hari pertama Meti bekerja disebuah perusahan besar Tristar group. Meti melongo menatap Presdir di perusahan itu ternyata Erlan.
Erlan membenci Meti, tapi hati kecilnya masih menyimpan rasa suka. Ia sangat benci karena diputuskan secara sepihak.
Erlan melihat Meti sudah berubah banyak dan semakin cantik. Begitu pula dengan Meti, ia tidak percaya orang yang dilihatnya itu adalah Erlan mantan pacarnya. Erlan terlihat sangat gagah dan sangat tampan.
Mereka berdua tidak saling menyapa dan berbicara, hanya melemparkan tatapan tajam satu sama lain.
Di suatu cafe, Erlan tidak sengaja bertemu Nia dan pacarnya Rey. Nia dan Rey melongo menatap Erlan yang memakai setelan kantor dengan jas lengkap.
"Sudah lama sekali?" ucap Nia.
"Ya, lima tahun kita tidak pernah bertemu." ucap Erlan.
"Kau kemana saja selama ini?" tanya Nia penasaran.
"Aku mengeyam pendidikan di Amerika selama 4 tahun dan setahun ini aku sibuk mewarisi Tristar group."
"Jadi selama ini kau orang seperti itu? Orang kaya?" tanya Nia terheran-heran.
"Kalian tidak pernah bertanya 'kan? Dan aku seperti ini karena terdorong oleh wanita jahat itu. Aku sebenarnya tidak ingin menjadi pewaris."
"Siapa? Gara-gara Meti?" tanya Rey.
"Ya ampun, kalian ini benar-benar saling menyiksa diri," ketus Nia.
"Menyiksa diri kenapa?"
"Meti itu sangat mencintaimu sampai sekarang, ia masih belum bisa move on."
"Tidak mungkin! Wanita jahat itu, dia yang memutuskanku dan bilang aku ini memuakkan. Dia bilang cita-citaku hanya membuka toko kaset, ia tidak suka. ia ingin aku mempunyai perusahan besar. Makanya aku memutuskan mewarisi perusahan keluargaku."
"Kau tahu? Saat itu dia sangat terpukul, kedua orang tuanya setiap hari bertengkar, ia menjadi depresi. Ia berkata tidak mempercayai laki-laki karena ayahnya yang memperlakukan ibunya begitu kasar. Meti takut menjalin hubungan. Hari itu, saat kau kerumahnya adalah puncak dari permasalahannya, orang tuanya bertengkar hebat dan ingin bercerai. Meti sangat terpukul, ia hampir memutuskan ingin mengakhiri hidupnya."
"Kenapa dia sebodoh itu? Kenapa dia tidak bercerita padaku?"
"Meti sangat malu, ia tidak ingin kau mengetahui masalah keluarganya yang sangat berat itu."
"Aku merasa bersalah. hari itu aku tidak menanyakan kabarnya? Aku hanya mencecarinya banyak pertanyaan, padahal ia sedang sangat terpukul."
"Apa kau sudah bertemu dengannya? Bukannya hari ini dia mulai bekerja di Tristar group?" tanya Nia.
"Sudah, aku bertemu dirinya hari ini. Dia sudah sangat berbeda, semakin cantik. Apa dia sudah mempunyai pacar?"
"Belum, sudah aku bilang dia masih menunggumu."
"Benarkah? Terima kasih atas informasi ini. Jika kalian tidak menceritakannya, mungkin aku akan membencinya seumur hidupku."
"Sudah seharusnya aku cerita," ucap Nia.
Sepulang dari kantor ....
Erlan melihat Meti berjalan keluar dari kantor seraya membawa tas selempangnya.
Erlan berdiri di depan mobil menunggu supirnya. Erlan berteriak memanggil Meti. Meti kebingungan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ia menunjuk dirinya sendiri. Ia tak percaya bahwa Erlan memanggilnya.
"Memanggilku?" tanya Meti.
"Iya, sini."
"Ada apa?" tanya Meti seraya menghampiri Erlan.
"Ayo naik!" ucap Erlan tegas.
"Tidak. Terima kasih. Aku naik ojek saja."
"Kau membantahku? Aku atasanmu disini!"
"Bukan begitu, Pak. Maaf."
Setelah beberapa kali menolak, akhirnya Meti naik mobil bersama Erlan. Meti masih sangat tidak enak hati. Ia masih merasa bersalah karena memutuskan Erlan dulu secara sepihak dengan cara yang kurang baik.
Di perjalanan, suasana dalam mobil mendadak sunyi. Mobil itu berhenti di sebuah toko dvd. Meti mengernyitkan keningnya heran. Erlan menyuruh Meti turun. Erlan masuk kedalam toko dvd itu sedang Meti mengekori nya.
"Apa kau ingat kita pertama kali bertemu disini?"
Meti hanya mengangguk tidak bersuara.
"Kenapa kau bersikap begitu padaku? Kenapa kau tidak bercerita padaku bahwa kau keadaan sangat sulit waktu itu? Kenapa kau harus malu menceritakan masalah keluargamu? Bukankah aku adalah pacarmu saat itu? Maaf, aku juga tidak menanyakan kabarmu saat itu. Aku juga egois."
"Tidak, kau tidak egois! Aku yang egois saat itu. Kau tau dari mana semua ini?"
"Itu tidak penting."
"Bukankah bagus aku memutuskanmu? Kalau tidak kau mungkin tidak akan seperti sekarang ini."
"Ya, aku seperti sekarang ini karenamu. Kau yang mendorongku hingga aku berakhir menjadi pemilik perusahaan besar."
"Hmm ...." Erlan menatap Meti, lalu bertanya lagi, "Apa kau sudah punya calon suami?"
"Hah? Tidak. Aku seperti trauma bertemu lelaki."
"Apa kau masih menyukaiku? Aku masih menyukaimu, " ucap Erlan tanpa basa-basi.
Meti terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Erlan. Dalam hatinya Erlan masih mempunyai tempat yang istimewa. Tetapi ia berusaha menyangkalnya.
"Apa aku harus menjawabnya? Bukankah seharusnya kau membenciku?"
"Kenapa aku harus membencimu?"
"Aku telah menyakitimu, aku sangat bersalah. Aku minta maaf." ucap Meti lirih.
"Aku memang pernah membencimu, tapi rasa cintaku sangat besar. Kau itu cinta pertamaku. Aku selalu merindukanmu dibalik rasa benciku."
Sekali lagi Meti terdiam. Jemarinya ia remas kuat. Ia ingin jujur tapi terlalu memalukan. Ia masih malu atas ucapannya sewaktu dulu.
"Jika sangat sulit menjawabnya, kau bisa menjawabnya kapan-kapan. Aku akan bersabar."
Setelah memilih kaset dvd, mereka pulang. Erlan mengantar Meti sampai depan rumahnya. Meti tersenyum dan turun dari mobil.
***
Keesokan harinya ...
Meti bersiap-siap untuk bekerja. Ia sudah mengenakan kemeja kantor yang rapi. Meti ke kantor menggunakan motor matic kesayangannya.
Sesampainya di kantor, Meti melihat dikejauhan Erlan sedang tertawa-tawa bersama seorang wanita disampingnya. Ada rasa cemburu yang membakar hatinya. Dengan cepat, ia berjalan dan pura-pura tak melihat.
"Meti!" panggil Erlan.
Namun, Meti tak menggubrisnya. Wanita itu terlihat cemburu.
Ah, aku sadar diri. Wanita disebelahnya itu sangat cantik. Apalah aku yang pernah menyakitinya. Kenapa aku berharap bahwa ucapannya sungguh-sungguh. Meti, kau terlalu berharap. Akhirnya harapan itu menyakitimu sendiri.
Meti duduk lunglai di kursi nya. Erlan berlari dengan senyuman. Namun, Meti menundukkan pandangan. Seharian, ia uring-uringan.
Meti berjalan menuju kantin seorang diri. Langkahnya pelan. Kemudian, ia duduk. Dilihatnya sekeliling kantin orang-orang melirik ke arahnya. Meti terheran.
Tak lama, datang Erlan berjalan menuju ke arahnya dan duduk di kursi didepannya.
"Meti!" sapa Erlan dengan senyuman. Namun, Meti bersikap biasa saja.
"Apa aku ada salah?" tanya Erlan. Meti hanya menggelengkan kepalanya. "Apa kau memang tak menyukaiku? Kasian sekali aku." Erlan berdiri dan beranjak dari kursinya.
"Erlan!" panggil Meti. Erlan tersenyum dan membalikkan badannya.
"Kenapa? Aku tahu kau tak menyukaiku 'kan?"
"Bukan begitu. Kau sangat bahagia tadi dengan wanita cantik pagi tadi. Aku pikir kau tak menyukai ku lagi."
"Haha ... Aku senang kau bersikap begini. Aku sangat yakin bahwa kau masih menyukai ku."
Erlan menepuk tangannya tiga kali dan beberapa orang datang membawa bunga. Tiba-tiba, tulisan seperti spanduk besar terbuka dengan tulisan "Aku mencintaimu, Meti." Meti terheran dan kebingungan.
"Meti, will you marry me?" Erlan berlutut membukakan kotak cincin.
"Jangan ragu. Jangan mengelak lagi. Jadilah wanita pertama dan terakhirku. Aku akan membahagiakanmu. Tak akan aku biarkan kau menangis dan bersedih. Aku berjanji tidak akan seperti ayahmu. Aku akan mencintaimu hingga akhir maut memisahkan kita."
Meti melongo mendengar ucapan Erlan. Seketika air matanya jatuh tanpa ia sadari. Kemudian Erlan menyeka dengan jarinya lembut seraya tersenyum manis.
"Aku benar-benar sangat mencintaimu, Meti. Menikah denganku! Aku akan membahagiakanmu."
Meti tersenyum sumringah. Kemudian, ia menganggukkan kepalanya pelan dan malu-malu.
"Yes, i will. Dan berjanjilah kau akan selalu bersamaku sampai maut memisahkan kita."
"Ya, aku janji."
Tamat.