“Hai Dik!” sebuah suara nyaring menyapa Diki saat dirinya hendak membuka lokernya pagi itu.
Dengan refleks Diki menoleh ke arah asal suara tadi. Woah!! Diki hampir saja meloncat kaget ketika dilihatnya sosok yang berdiri disampingnya itu ternyata Leera.
“Kamu Lee, kok hari ini kayaknya tampilan kamu beda banget. Emang ada acara apa yah di kampus?” Diki mengamati penampilan Leera dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan teliti.
Wow! girly banget, rambut yang biasanya diikat ke belakang, atau di jepit asal kini dibiarkan tergerai lurus melewati bahu ditambah jepitan berwarna merah muda yang tertata di kiri kanan, menjadikannya terlihat manis dipadu blouse warna peach, kontras sekali dengan penampilan yang biasanya hanya kemeja panjang atau T-shit yang selalu ia kenakan saat ke kampus.
Lalu ditambah rok rempel selutut warna senada yang semakin menambah keserasian busana yang dipakainya kini dengan tinggi badan yang dimiliki Leera, juga highheel yang dipakainya karena benda itu paling dibenci sama Leera kini menempel dengan pas di telapak kakinya.
Apa dia nyaman pakai pakaian begini? begitulah kalimat yang terlintas di benak Diki sambil terus menatap dan menatap sosok Leera.
“Woyy, lo kenapa?” Leera mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Diki yang masih belum pulih dari keheranannya.
“Nggak, aku nggak apa - apa. Cuma kaget aja lihat kamu berubah kayak gini,” buru-buru Diki menyahut sembari tersenyum penuh arti. kurva di bibirnya tercetak jelas pada wajah tampannya.
Penampilan sih boleh girly banget tapi gaya bicaranya itu lho masih aja tomboyy!!!
“Lo seneng nggak lihat gue kayak gini?”
“Hmm... bisa seneng bisa nggak.”
“Kok gitu amat sih jawabnya,” Leera merengut mendengar jawaban Diki barusan. Bibirnya mengerucut diiringi lirikan tajamnya yang mengarah pada wajah cowok di depannya itu.
Diki masih tersenyum sambil menggeleng- gelengkan kepala, ”ya... seneng lihat kamu tampil rapi begini terlihat anggun, lebih girly cuma....”
“Cuma apa?” dengan cepat Leera memotong ucapan Diki, terdengar penuh nada ketidak sabaran.
Diki menarik napas perlahan. ”Aku sih lebih suka lihat kamu yang kayak dulu, pokoknya apa adanya gitu deh! Aku jadi kangen kamu yang dulu.”
Leera menatap Diki dengan sorot penuh kecewa. Ada sesuatu yang ingin diungkapkannya, tapi semua itu cuma tersirat dari pancaran matanya saja, dengan gontai Leera membalikkan badannya menjauhi Diki.
Namun baru beberapa detik ia melangkah tangannya sudah keburu dicekal Diki.
“Hey, kamu mau kemana buru - buru amat sih!” Diki menatapnya sambil tersenyum menggoda. ”Kamu tuh baru ketemu langsung kabur aja! Kita ke kantin dulu yuk!” sambung Diki lagi.
“Tadi aku nggak sempat sarapan,” Diki langsung menggandeng tangan Leera menjauhi lokernya.
“Yuk gue juga belum sarapan!” sahut Leera sambil mengangguk pelan.
Sebenarnya Leera masih kecewa dengan sikap Diki pagi ini, bukan karena Diki menyambutnya dengan biasa saja karena memang begitulah sikap Diki setiap harinya. Namun yang membuatnya sedih kali ini Diki tak peduli dengan penampilan barunya, malah yamg terlihat sepertinya cowok itu seolah-olah menertawakannya. Kenapa sih lo Dik? Kan elo sendiri yang bilang suka sama cewek yang girly yang penampilannya anggun, lemah lembut, feminin, tapi nyatanya saat lo lihat gue seperti yang lo inginin lo nggak peduli sama sekali. Lo jahat banget Diki!!!! Jerit Leera dalam hatinya.
Kalau saja ia berani, ingin dilemparnya wajah Diki dengan apa saja sampai puas dan membuat cowok itu menyadari kalau dia sudah menyakiti hatinya pagi ini.
Dan setalah itu pasti Diki akan minta maaf dengan penuh penyesalan dihadapannya, selayaknya seorang pangeran yang berlutut memohon kepada tuan putri. Huh!!! khayalan tingkat dewa!! Diki nggak bakalan kayak gitu deh! Leera masih ingat saat kejadian beberapa bulan yang lalu, waktu itu Diki datang terlambat menjemputnya ke acara ulangtahun Niken, dan dengan wajah polosnya Diki membiarkan dirinya ngambek beberapa hari, sampai empat hari sesudahnya baru dia meminta maaf. Sungguh keterlaluan Diki !!! dia memang terlalu cuek, gue kan cewek lo Diki!!!
Masih penuh kekesalan, ditatapnya Diki yang sedang asyik mengunyah siomay, rupanya dari tadi dia tak menyadari perubahan raut muka Leera.
Yah sudah deh! lo nggak peduli gue juga nggak peduli deh!! Gerutu Leera dengan kesal, ditusuknya sepotong telur di atas piring siomaynya dengan garpu begitu kerasnya, sehingga menimbulkan suara berderak.
“Kok kayak orang lagi marah?” goda Diki seraya tersenyum dengan tingkah Leera kini.
“Bodo amat!!” tukas Leera yang terlihat masih kesal.
--------
Diki jahatt!!!! Leera melempar sepatunya ke dinding kamar penuh kekesalan, lalu ia membantingkan tubuhnya ke atas tempat tidur sambil meremas- remas rambutnya penuh amarah.
Sebenarnnya lo itu suka cewek kayak gimana sih Dik??? Rutuk Leera sambil menghembuskan nafas dalam- dalam.
Leera menerawang langit-langit kamarnya mencoba menembus batas, samar-samar ia masih mengingat ucapan Diki waktu di taman sore itu.
“Eh Lee, lihat tuh cewek yang pakai baju merah disana,” tunjuk Diki ke arah cewek yang sedang duduk sendirian di sudut bangku taman.
Tampaknya cewek itu sedang menunggu seseorang, mungkin temannya atau juga pacarnya.
“kenapa emang tuh cewek?” Leera mulai penasaran bukannya cemburu.
Ughh sorry yah!! Nggak ada kata cemburu dalam kamusnya Leera. Malah kalau lagi jalan bareng Leera suka menggoda Diki setiap ada cewek yang lewat, tapi memang dasar Diki cuek banget, dia tidak pernah menanggapi candaan Leera.
Diki hanya tersenyum sambil melirik Leera, ”seneng aja lihat penampilannya anggun banget, penuh kelembutan, murah senyum gitu girly banget lah.”
Leera mencoba memperhatikan cewek tadi, blouse merah muda dipadu rok warna maroon, rambut tergerai sepinggang. Wah!! iya yah, benar-benar anggun!!
“Kalau suka dia kenapa gak lo samperin?” goda Leera sambil tersenyum nakal.
“Wah gila kamu Lee...” tukas Diki sambil melotot tajam ke arah Leera.
“Kenapa emang ? apa perlu gue temenin?” goda Leera lagi sambil terkekeh menahan geli.
Diki geleng-geleng kepala, ”tuh cewek sudah punya suami, dah punya anak lagi!” Diki menatap Leera sebentar. “Lagian ngapain aku ngejar cewek lain aku kan udah punya kamu.”
“Hah lo tau darimana dia udah punya suami?” tanya Leera heran.
“Tuh suami sama anaknya,” Diki menunjuk seorang cowok dan seorang anak perempuan berkucir dua yang sedang melambaikan tangannya ke arah cewek tadi.
“Owh... “ Leera manggut-manggut mengerti sekarang. ”kenapa lo nggak bilang dari tadi sih Dik?” Leera menatap Diki gemas.
Dari kejadian saat itu ada kalimat yang masih terngiang di telinga Leera. ”Aku seneng cewek yang penampilannya anggun, lemah lembut dan bla....bla....” hingga sampai berhari-hari Leera masih memikirkan ucapan Diki saat itu.
Cewek girly yang manis, jadi type cewek Diki tuh kayak gitu yah!! sedangkan Leera beda seratus delapan puluh derajat lah kemana-mana, jadi Leera pun bermaksud merubah penampilannya dari cewek yang tomboy jadi cewek yang girly.
Oke gue bakal lakuin apapun yang bisa bikin lo seneng Diki!! begitulah tekad Leera sejak saat itu.
Mulai saat itu ia jadi rajin belajar berdandan, sengaja meminjam baju kakaknya yang seorang sekretaris buat bereksperimen sendiri di depan cermin secara diam-diam. Dan saat mamanya belanja dia merengek-rengek minta dibelikan highheel yang membuat kakaknya menertawakannya, soalnya selama ini kalau minta sepatu baru pasti yang diminta sneaker atau paling sepatu basket.
Dan sampai hari ini, saat Leera pergi ke kampus dengan penampilan barunya, ternyata respon Diki di luar dugaannya. Sungguh menyedihkan memang!!!
Drrttt... tiba-tiba ponsel Leera bergetar, membuyarkan semua lamunannya. Siapa sih?? menggangu aja huh!! rutuknya sambil meraih ponsel. Dilihatnya layar ponsel, disitu tertera nama sahabatnya.
“Hallo!” Leera menempelkan ponsel di telinga kirinya.
“Hallo Lee!” terdengar suara dari seberang.
“Ada apa lo telpon gue siang - siang gini sih, Don?”
“Kok suara lo ketus banget, Lee? Lagi ngambek yah sama Diki?”
“Tau ah...”
“Idih ketauan deh! ada apa sih, Lee?”
“kalau mau tau dateng aja ke sini!”
“Okey, gue cabut yah!”
Leera menaruh ponsel kembali ke atas meja belajarnya, dan menghempaskan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur.
“Menurut lo sendiri Diki suka nggak sama newlook lo itu?” Dona duduk menghadap jendela sambil memainkan ponselnya. Yah elah... dia mulai sok english lagi.
“Tahu tuh...” Leera menggeleng lemah.
“Lo ini gimana sih, Lee? mungkin sikapnya kayak gitu itu emang dia gak suka liat penampilan lo kayak tadi pagi,” Dona menaruh ponselnya ke atas meja.
“Dia mungkin aja seneng lihat orang lain penampilannya kayak gitu, tapi bukan berarti dia ingin lihat penampilan lo kayak gitu juga kan?”
Leera hanya diam menatap ke luar jendela. “Iya juga kali Don!”
“Ah, lo kok tulalit gini,” Dona meraih guling disampingnya sembari terus tiduran.
”Makanya lo jangan cepet terpengaruh dong, buktinya dia seneng dengan gaya lo yang apa adanya. Dia tuh seneng liat tuh cewek bukan berarti pengen lihat lo sama kayak tuh cewek!”
Leera diam tak bereaksi mendengar penjelasan sahabatnya. Benar juga sih, kalau emang Diki suka sama cewek yang tampilannya girly kenapa juga dia macarin cewek yang tomboy abis kayak dirinya. Selama ini Diki tak pernah ribut soal penampilannya. Malahan Diki selalu terlihat nyaman saja kalau jalan bareng dirinya.
Duh!! lo ini kenapa sih Leera lagi sensi yah? Leera hanya bisa mengumpat dalam hati.
“Eh, lo bengong aja!” Dona menepuk pundak Leera sehingga membuyarkan lamunannya.
“Mmm... Don setelah gue pikir- pikir, kata- kata lo tadi ada benernya, waktu itu Diki ngomong kayak gitu bukan berarti dia seneng liat gue berubah, tapi gue aja yang tulalit banget yah, ternyata dia mungkin lebih seneng gue apa adanya."
Dona hanya mengedikkan bahunya sambil memandang sahabatnya yang lagi baper Cuma gara gara penampilan.
------ -------
Malam itu, di beranda depan rumah Leera....
Leera duduk terdiam di depan Diki, ia tak berani menatapnya, apalagi mengeluarkan kata - kata. Meskipun sebenarnya banyak sekali yang ingin ia ungkapkan, entah kenapa mulutnya seakan terasa kaku sekali.
“Mmm.... Lee!” terdengar suara Diki.
Leera mengangkat mukanya menatap Diki.
“Aku minta maaf atas sikapku tadi pagi,” Diki menghela nafas sebentar lalu menggenggam dengan lembut kedua tangannya, ”Lee, aku nggak mau kamu ngikutin ucapanku saat di taman itu, jujur aku lebih suka kamu kayak dulu Lee. Kamu yang simpel, sederhana, cuek, pokoknya aku suka kamu yang dulu. Karena itu i like you just the way you are, Lee.”
Matanya menatap Leera dengan lembut, dan setiap kalimatnya terdengar indah di telinga Leera.
DEG!!!! Leera merasakan debaran jantungnya yang makin kencang. Duh!! baru kali ini Diki ngomong kayak gini, membuat perasaannya jadi tak menentu. Kalau saja tak malu ingin rasanya ia melompat - lompat saking kegirangan, kalau Diki itu benar - benar menyukainya apa adanya.Tak diragukan lagi perasaanya selama ini.
Yess!! Leera bersorak dalam hati saking senangnya ia tak bisa berkata- kata lagi ia hanya bisa menatap mata Diki penuh arti.