Halo! Bersama dengan Neko Dennis di sini yang akan membawakan cerita seram pada malam ini. Selamat membaca!
*
*
*
Pada malam Selasa, tepatnya di hari senin yang indah pada siang harinya, seorang gadis remaja bernama Natasha baru saja pulang ke rumahnya setelah ia pulang dari sekolahnya.
Sebelum kembali ke rumah, ia memutuskan untuk pergi ke minimarket. Ia ingin membeli sebuah minuman untuk meredakan rasa hausnya karena habis beraktivitas penuh di sekolah.
Setelah keluar dari toko, ia menggenggam sebuah botol berisi jus jeruk yang baru saja ia beli. Ia meminum isi botol tersebut sambil berjalan pulang. Namun saat ditengah jalan, tepatnya di pertigaan dekat dengan rumahnya, Natasha menemukan sebuah bangkai kucing saat ia sedang menyeberang jalan.
Diperiksa lah bangkai itu. Natasha melihat darah yang mengalir dari kepala si kucing. "Sepertinya kucing ini belum lama mati," Ia bergumam. "Pasti ada orang yang telah menabraknya dan meninggalkannya begitu saja. Ah, seharusnya tidak boleh seperti ini."
Natasha hendak ingin mengubur kucing tersebut di tempat yang lebih luas. Tapi saat ia ingin mengangkat kucing itu, tiba-tiba saja botol jus jeruk yang ia pegang sempat miring dan isinya yang tersisah pun keluar. Tetesan airnya mengenai kepala si kucing serta darahnya.
"Ah, aku lupa kalau aku belum menghabiskan minuman ini, hehe..." Natasha tertawa kecil. Ia pun meneguk botolnya itu sampai habis. Setelah itu, ia melempar botol tersebut ke dalam tempat sampah. Pas sekali, botolnya masuk.
"Sekarang saatnya aku mengurus kucing ini," Natasha kembali melirik ke arah kucing itu. Pada awalnya ia sedikit jijik dengan mayat kucing tersebut. Namun karena ia merasa kasihan juga, maka Natasha akan berbuat baik pada kucing itu.
Ia mengangkat ekor kucingnya, lalu mengangkat kaki si kucing untuk membalikkan tubuhnya.
Tapi saat tubuh si kucing dibalikkan, Natasha terkejut karena ia melihat kepala sebelah si kucing telah hancur dan tubuhnya itu dipenuhi oleh belatung.
Natasha juga mulai mencium aroma yang tidak sedap dari si kucing. Ia menutup hidung dengan lengannya, lalu kembali berdiri. Setelah melihat hal yang membuatnya jijik pada kucing tersebut, Natasha pun mengurungkan niatnya untuk mengubur kucing itu.
Ia melangkah mundur ke belakang, lalu melirik ke arah jam tangannya. Di sana ia melihat beberapa angka yang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Sebentar lagi waktunya magrib, dan Natasha belum sampai di rumahnya.
Ia pun berlari meninggalkan kucing itu di tengah jalan. Natasha masih takut dengan perkataan ibunya yang pernah bilang padanya kalau matahari hendak terbenam, segeralah kembali ke tempat yang aman, yaitu di rumah.
"Kalau kau masih bermain di luar, maka hantu-hantu akan menculikmu."
Tentu saja Natasha tidak percaya dengan hantu. Tapi ia akan menurut dengan perkataan ibunya. Ia pikir juga, mungkin di rumah kedua orangtuanya telah menunggunya.
Natasha pulang terlambat karena ada ekstrakulikuler yang wajib ia ikuti dan pada pagi harinya, ia lupa minta izin pada ibunya kalau ia akan pulang lambat.
Pokoknya sekarang, Natasha harus sampai di rumah!
-SKIP-
Saat Natasha sudah sampai di rumah, ia langsung membuka gerbang, lalu berjalan memasuki teras rumahnya. Di depannya, ia melihat ada secarik kertas yang menempel di pintu.
Natasha pun membaca pesan yang tertulis di kertas itu. "Natash, ibu dan ayah ingin pergi nyelawat dulu, ya? Ada warga dari RT sebelah yang meninggal. Kamu hati-hati di rumah, ya, Nak?"
"Tidak ada orang di dalam rumah?" Natasha bergumam. Seketika ia merasa merinding. Tapi ia berusaha untuk tidak mempedulikannya. Ia sudah biasa tinggal sendirian di rumah. Bahkan dirinya pernah ditinggal selama 2 Minggu dan tidak pernah ada hal mengerikan yang terjadi di rumahnya.
"Hah, aku akan baik-baik saja, kok! Hehe ... tenang itu adalah salah satu cara agar aku tidak merasa takut. Sekarang masuk dulu."
Itulah yang ia katakan untuk menenangkan dirinya. Tapi apakah rumahnya akan tenang seperti yang ia pikirkan?
Matahari telah terbenam. Sekarang waktu telah menunjukkan pukul delapan. Natasha sedang bersandar di bantal yang ia letakan di pinggir tempat tidur. Intinya dia bersandar membelakangi tembok dan jendela yang telah tertutup oleh tirai.
Saat ini, ia sedang bermain dengan laptopnya. Seorang gadis muda sendirian di rumah. Menurut banyak orang, gadis tidak seharusnya sendirian. Dia harus ada orang yang menemani. Tapi sepertinya nasib buruk akan menimpa Natasha malam ini juga.
Lagipula, sekarang ini adalah malam selasa. Mitos malam selasa itu ada banyak. Hari Senin termasuk hari yang menyeramkan pada malam harinya. Jadi bukan pada hari Kamis saja, loh!
[ Nat,, lu lagi sendirian di rumah, ya? ] Seseorang bicara dengan Natasha lewat laptop. Ternyata ia sedang Video Call dengan teman cowok di sekolahnya.
"Kok lu tau, sih?"
[ Kan aku selalu memerhatikan elu, ]
"Dari mana lu merhatiin gua?"
[ Dari hatimu, hehe.... ]
Natasha tertawa kecil. Ia senyum-senyum sendiri mendengar teman cowoknya tersebut. "Hah alah, gua lagi tegang gini lu malah coba gombal."
[ Kan gua mau ngehibur lu, gimana, sih? ]
"Haha... iya, deh! Makasih banget, loh! Gua jadi gak merasa kesepian pas ada lu."
[ Sama dua, beb, hehe... Eh? Ortu lu kayaknya udah pulang, tuh! ] Lelaki itu menunjuk.
Natasha pun menoleh ke belakang. Karena tidak melihat apapun, ia pun kembali menoleh ke lelaki yang ada di laptop. "Ah, masa sih? Tidak ada siapa-siapa. Masa ortu gua ada di jendela. Kan pintu masuk di samping sana tuh deket teras."
[ Eh, iya juga. Lah, terus tadi kok ada dua bayangan gitu yang lewat di jendela. Dikira gua itu ortu lu. ]
"Ah, jangan bercanda deh!"
[ Ih, gua serius! Makanya tadi gua kaget. Kok kek ada orang yang lewat di jendela lu gitu. ]
"Eh, sumpah! Bercanda Lo ga lucu ya buat sekarang? Gak ngehibur tahu, gak?!" Natasha membentak. Ia mulai takut dengan keadaan sekitarnya setelah mendengar penjelasan dari lelaki itu.
Sekali lagi Natasha mencoba untuk menengok ke belakang. Untuk memeriksanya, dia menggeser gorden jendelanya dan mengintip keluar jendela.
Ternyata... di depan sana tidak ada siapapun. "Ah, benar-benar tidak ada. Mungkin Renald salah lihat." Batinnya.
Setelah puas melihat kenyataan dan mengetahui kalau tidak ada siapapun di luar rumahnya, maka Natasha akan kembali mengobrol dengan teman lelakinya lagi.
Tapi setelah ia berbalik badan, Natasha terkejut. Ia tidak melihat lelaki bernama Renald itu di depan laptopnya. Hanya ada kamar dan kursi di depan meja saja yang terlihat.
"Eh, mungkin saja dia pergi untuk mengambil sesuatu." Natasha tertawa kecil. Ia mencoba untuk positif thinking saja. Ia akan memanggil si Renald itu.
"Renald? Renald! Lu masih ada di sana, kan? Woy, Lu ke mana, sih?"
GRRKKK....
Tak lama ada tangan manusia yang muncul dari pinggir layar. Tangan itu menyentuh kursi yang ada di depan meja, lalu menggesernya. Setelah itu, muncul sosok Renald dengan tubuhnya utuh terlihat di layar laptop.
Natasha merasa lega karena temannya masih setia menemaninya. "Renald, kamu tadi ke mana?" Natasha bertanya.
[ Eh? Natasha? Sejak kapan lu mulai VC sama gua? ]
Seketika pertanyaan Renald telah membuat Natasha jadi terkejut. Ia menggenggam erat pinggiran laptopnya lalu menjawab dengan ragu. "Ta–tadi bukannya barusan kita ngobrol bareng, ya?"
[ Eh, sejak kapan woy?! Dari tadi aja gua gak megang laptop. Tadi gua habis kerja kelompok di rumah temen. Sekarang baru pulang. ] Penjelasan Renald semakin membuat Natasha ketakutan. [ Ini pas sampai kamar, kok lihat laptop gua kebuka gini. Mungkin adik gua yang mainin, ya? ]
"Ah, tidak... bukan... begitu... Eh?!" Natasha menyentakan matanya. Ia kembali dikejutkan dengan munculnya sosok lain di belakang Renald itu.
Sosok seorang anak kecil dengan wajah menyeramkan dan hancur. Banyak darah, wajah pucat dan kedua mata yang bolong. Mulutnya menganga lebar seakan tidak pernah tertutup.
Karena takut melihat sosok tersebut, Natasha mematikan VC-nya dengan lelaki itu lalu menutup laptopnya dengan cepat. Setelah itu, Natasha meletakan laptopnya di atas meja samping tempat tidur.
Setelah itu, ia meringkuk di pojokan sambil bergumam-gumam. "Ta–tadi itu tidak nyata, kan? Pertama sosok bayangan yang katanya lewat, lalu dari tadi aku bicara dengan siapa dan sekarang aku melihat sosok mengerikan itu. Tidak... sosok itu bukan hantu. Bukan! Karena aku tidak percaya kalau sosok itu benar-benar hantu. Tidak mungkin!"
Natasha membaringkan tubuhnya secara perlahan di tempat tidurnya. Lalu ia mengambil boneka beruang besar dan memeluknya dengan erat. "Hah, kenapa ibu dan ayah pulangnya lama sekali? Aku ketakutan di sini."
"Mungkin... aku kelelahan. Makanya jadi berpikir yang aneh-aneh. Ah, lebih baik aku tidur saja sambil menunggu orangtuaku pulang."
Natasha pun mulai memejamkan matanya. Ia benar-benar kelelahan. Lalu tak lama kemudian, dirinya pun mulai terlelap. Dia tidur sambil memeluk seorang gadis kecil yang menyeramkan di tempat tidurnya.
Anak kecil menyeramkan itu menoleh ke arah Natasha yang sedang tertidur. Lalu ia berbisik, "Tolong kucingku ... tolong ... kucingku mati ... tolong berikan nyawamu untuk menghidupkan kucingku lagi ... tolong ...."
Tiba-tiba saja, banyak darah yang mengalir dari lubang mata, jadi terlihat lebih menyeramkan. Lalu secara perlahan, anak kecil tersebut menyentuh leher Natasha dengan tangannya yang kotor, lalu mencengkeramnya dengan erat sampai Natasha tidak bisa bernapas.
Skip–
Pukul setengah sembilan, orangtuanya Natasha pun kembali pulang ke rumah. Mereka berdua membuka pintu kamar Natasha untuk memeriksa keadaan anak mereka.
Sebelum masuk, mereka sempat berbincang di depan kamar. "Tadi yang meninggal itu seorang anak kecil. Dia kasihan sekali. Padahal umurnya masih muda. Apakah ayah tahu penyebab kematiannya?"
"Kalau kata orang-orang sih ... dia kecelakaan. Tubuhnya berantakan. Makanya tadi anak itu dikuburkan di dalam tanah dengan peti, karena tubuhnya memang sudah tidak utuh."
"Haduh, mengerikan sekali. Kok aku jadi khawatir dengan anak kita, ya, Pah?"
"Tenang saja. Tuh, kan, anak kita baik-baik saja, Bu. Jadi jangan khawatir." Ujar sang ayah yang sebelumnya cemas dengan keadaan anaknya. Mereka berdua lega karena putri mereka baik-baik saja. "Dia sedang tertidur pulas. Sebaiknya kita jangan ganggu dia."
"Ah, iya, ayah! Mungkin hanya firasat ibu saja yang tidak enak. Ah, lain kali kita jangan tinggalkan anak kita lama seperti ini, ya?"
"Baiklah. Sekarang kita tinggalkan saja. Biarkan dia istirahat."
Kedua orangtuanya Natasha kembali menutup pintu, lalu meninggalkan Natasha yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Posisinya membelakangi pintu, dan seluruh tubuhnya diselimuti oleh kain seprai.
Hanya kepalanya saja yang terlihat.
Dari belakang memang tidak terlihat ada yang aneh. Namun, saat kalian melihat bagian depan wajah Natasha, wajahnya telah berubah jadi seperti hantu si anak kecil tadi.
Tubuhnya jadi kurus kering dan pucat, seakan seluruh darahnya telah dihisap sampai habis tanpa sisah.
Malam itu juga, angin berhembus kencang. Dari lubang-lubang di fentilasi yang ada di atas jendela telah menggerakkan tirai jendela. Dapat dilihat dari luar kaca, ada seekor kucing yang sedang duduk sambil menggoyangkan ekornya di taman dekat pagar rumah.
Kejadian ini bisa terjadi karena pad awalnya, Natasha tidak ingin mengubur kucing yang ia temukan. Maka nyawanya yang akan menggantikan kucing malang itu.
Para hantu juga mengikutinya sejak jus jeruk yang tumpah ke darah si kucing pada sore hari. Aku pernah mengetahui sebuah mitos ini.
Jika ada seseorang yang meneteskan jus jeruk atau minuman semacamnya yang bahan dasar jeruk ke atas darah dari mayat makhluk hidup, maka arwah dari si makhluk hidup yang telah mati itu akan mengikutinya dan meminta nyawanya untuk menghidupkan dirinya yang telah meninggal kembali.
Makanya anak gadis tidak boleh ditinggal sendirian di dalam rumah. Karena para gadis itu perlu perhatian khusus untuk menjaga mereka. Apalagi sendirian di dalam rumah. Itu sangat tidak baik.
Jika dihantui oleh yang tidak terlihat tentu sudah biasa. Tapi akan lebih berbahaya jika ada orang jahat yang masuk ke rumah disaat ada gadis yang tinggal sendirian.
Sebaiknya, jika kalian memiliki seorang anak gadis seperti Natasha, seharusnya kalian mengajak dirinya jika ingin berpergian lama.
Kalau tidak bisa diajak, kalian bisa minta seorang wanita lain untuk menemaninya. Tentu saja jangan seorang lelaki yang menemaninya!
Story 1– End