"Ugh" Dennis terbangun dari tidurnya, mungkin lebih tepatnya dari pingsannya.
Ia mengucek-ngucek matanya, tengok kanan dan kirinya. Ia pun mendapati bahwa ia sedang berada di ruang kelasnya. Ia bingung, bagaimana bisa ia terbangun di dalam ruang kelasnya pada malam hari.
Ia mencoba untuk mengingatnya, namun kepalanya menjadi sakit. Semakin ia berusahalah mengingatnya, semakin menjadi pula sakit kepalanya.
Ia pun beranjak dari kursi yang ia duduki, dan menjalan menuju pintu kelas. Sebelum itu, ia menengok ke arah jam, jarum jam menunjukkan pukul 22.00 malam.
"Hah... mataku gak salah liat nih? Jam sepuluh!!"
Clekkk...
Tiba tiba pintu kelas terbuka lebar dengan sendirinya, padahal Dennis masih belum membuka nya.
"AAAHH, SIAPA DI SANA?!" Teriak Dennis yang ketakutan.
Rasanya ingin sekali ia keluar dari kelasnya itu, dan pergerakan keluar. Namun ia masih takut, bagaimana jika ada sesuatu yang akan menangkapnya saat keluar.
"Aduhh, keluar gak yah?" Dennis mondar-mandir kesana kemari. Ia bingung harus bagaimana, apakah harus keluar atau tidak?
Karena penasaran, ia pun memutuskan untuk keluar dari ruang kelasnya. Ia mengintip dari pintu, tengok sana dan sini. Merasa keadaan sekitar aman, ia pun memutuskan untuk keluar. Pelan dan pelan, ia berjalan dengan berjinjit-jinjit.
BRAKKK!!! Seperti sebuah benda terjatuh, suaranya mengena di seluruh ujung koridor sekolah.
"Ja-jangan main main kamu!" Teriak Dennis dengan ketakutan.
Bulu kuduknya Seketika berdiri, kakinya gemetar, serta keringat dingin membasahi dirinya.
Dennis tetap berusaha untuk mencari jalan keluar dari sekolahnya itu. Walaupun tubuhnya itu menolak untuk melakukannya, namun ia tetap berusaha.
"Sialan" Geramnya sambil mengigit lidahnya sendiri.
Aaaahhh~
Tiba-tiba terdengar suara nyanyian sekelompok orang yang datang dari ujung koridor sekolah. Jika di ingat ingat, hanya ada satu ruangan yang terletak di ujung koridor, yaitu ruangan ekstrakulikuler, yaitu ruangan paduan suara.
"Si-siapa yang latihan malem malem gini?" Katanya dengan nada gemetar.
Ia berdiam diri sejenak untuk menenangkan dirinya. Namun, siapa sangka, tiba tiba ada seseorang yang datang menepuk pundaknya.
Puukkk...
"AHHHH!!!" Dennis pun berteriak dan lari tanpa arah. Ia sana sekali tak menenggok kebelakang satu kali pun, padahal bisa saja sosok yang menepuk pundaknya itu tak mengejarnya. Yah.. bagaimana lagi, namanya juga takut.
Dennis pun berlarian menuruni tangga dari lantai 3 sampai lantai dasar. Sesampainya di bawah, ia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya.
"Huft...Huft...," Ia menghela nafasnya. "Untung saja asmaku gak kambuh, pokoknya aku harus tetap tenang dan gak boleh panik. Mana aku gak bawa obat nya lagi"
Aahhhhh~
Lagi lagi ia mendengar suara nyanyian itu lagi. Ia memang takut, tapi ia juga penasaran. Ia berpikir begitu lama, hingga ia memutuskan untuk naik lagi ke lantai 3. Dasar anak laki-laki, gak ada kapoknya.
Ia mengeluarkan handphonenya, dan menyalakan senter di handphonenya itu. Untung saja baterai masih lumayan banyak.
Tapp... Tappp...
Sesampainya di lantai dua, ia mendengar suara langkah kaki orang yang menggema di seluruh ujung koridor lantai dua.
"Siapa lagi itu" Gumannya dalam hati.
Ia lalu memberanikan diri untuk menenggok ke arah belakangnya. Ia terkejut melihat seseorang bertubuh besar, wajahnya tak terlihat dengan jelas karena gelap. Ingin sekali ia menyenteri wajah sosok itu, namun ia takut bagaimana jika wajahnya ia menakutkan.
"AAAHHH!!!" Dennis berteriak kencang, ya menaiki tangga menuju lantai 3. Sesampainya di sana, ia disambut dengan nyanyian paduan suara itu lagi.
Aaahhhh~
Tubuhnya bergemetar, namun ia berusaha untuk memberanikan dirinya. Pelan pelan ia berjalan menuju ujung koridor lantai tiga. Hingga ia sampai tepat di depan pintu ruangan itu. Suaranya terdengar begitu jelas dari dalam ruangan.
Tangannya berusaha untuk meraih gagang pintu itu, walau tangannya bergemetar. Tak pikir panjang, ia langsung membuka lebar lebar pintu itu dengan kencang.
BRAKKK!!! Ia terkejut melihat sesuatu yang berada di dalam, "Ha-ha-hantuu..."
Sekumpulan orang dengan jubah hitam menatapnya. Tubuhnya yang dingin. Wajahnya tak terlihat hanya cahaya merah dari matanya yang dapat ia lihat. Matanya yang merah menyala memberi tatapan yang mengerikan.
"Akhire wong sing ditunggu wis teka" Kata orang orang itu sambil tersenyum menakutkan.
Senter handphonenya tiba tiba mati, dan tubuhnya tiba tiba terdorong masuk kedalam ruangan itu. Pintu ruangan tiba tiba tertutup. Ia langsung berlari kearah pintu dan berusaha membuka bahkan mengedor gedor pintu itu, namun sayang pintu itu telah terkunci.
Sekarang ia terkunci bersama sekelompok sosok aneh itu, entah mereka hantu, arwah atau manusia.
Tubuhnya tiba tiba di tarik oleh sesuatu menuju di depan sosok itu. Dan sebuah simbol aneh tiba tiba muncul begitu saja dan mengeluarkan cahaya merah. Jika di lihat simbol itu seperti simbol para pengikut aliran sesat. Mungkin semacam simbol setan atau semacamnya.
"A-a-apa ini" Dennis mulai ketakutan. "Tolong selamatkan aku!!!" Ia berteriak begitu keras, namun sepertinya tak ada seorang pun yang mendengarkannya. Ia berusaha untuk keluar dari lingkaran itu, namun tubuhnya membatu.
Tenggg...
Jam sekolah berbunyi, tepat jam dua belas malam. Dan sekelompok orang aneh itu mulai merapalkan mantra, entah mantra apa itu.
"Mijn koning, we hebben je lichaam doorzocht"
(Rajaku, kamu telah menemukan tubuhmu)
"Kom terug en heers over deze wereld. De wereld is vol zonde en smerige trucs"
(Kembali bersama kami, dan kuasai dunia itu, dunia yang penuh dosa dan tipu muslihat)
"AHHHH!!!" Tubuh Dennis mulai kesakitan. Rasanya seperti sekujur tubuhnya tertusuk oleh duri.
"Groet aan de koning"
(Hormat kepada Raja)
"AHHHH!!!" Tubuhnya semakin terasa sakit, dan akhirnya ia pun terjatuh.
Sekelompok orang itu pun mulai membuka tudung jubah yang mereka pakai. Perlahan wajah asli mereka pun terlihat. Dennis hampir melihat semua wajah orang itu. Namun, sepertinya ia tak mampu untuk membuka matanya lagi, tenaganya hilang, dan akhirnya ia pun pingsan.
Hanya satu orang yang dapat ia lihat wajahnya, yaitu Ayahnya selaku kepala sekolah.
"Lain kali, kau pukul kepala anak ini dulu supaya pingsan"
***
"Ughh"
Dennis membuka matanya, dan mendapati dirinya sedang terbaring di depan gerbang sekolah. Kepalanya sakit seperti habis terbentur sesuatu yang keras. Tiba-tiba sakit kepalanya semakin menjadi, dan seketika ia mengingat kejadian yang menimpanya semalam.
"Sial" Gertaknya.
Ia ingat, bahwa ada sesuatu yang aneh mengenai para guru guru bahkan ayahnya. Ia pun kembali mengingat saat saat ibunya pergi meninggalkannya dan bercerai dengan ayahnya serta hari harinya bersama kakak perempuannya itu.
Satu hal yang membuatnya pasti akan teorinya itu adalah wajah para guru yang ada di sekolah. Tak peduli seberapa tua usia mereka, mereka akan tetap memiliki wajah yang awet muda, begitu juga dengan ayahnya.
Dan satu hal yabg membuat sekolah itu menarik adalah angka 11. Setiap tahun, sekolah itu akan melahirkan 11 siswa dan siswi berbakat. Dan setiap tahun pendaftaran, akan ada 1111 siswa dan siswi yang masuk ke sekolah itu.
"Ughh"
"Sayang, dengarkan Ibu. Darahmu dan darah kakakku itu spesial. Jangan sampai mereka mengambil darahmu, dan jangan biarkan ia menguasai tubuhmu"
***
Ia tak busa mengingat lagi tentang ibunya, hanya kata kata itulah yang dapat ia ingat sebelum pada akhirnya ibunya meninggalkan bersama dengan kakak dan ayahnya itu
Dennis lalu membuka ponselnya yang berada di kantong sakunya dan mengecek kalendar hari kemarin.
"Kemarin itu...tanggal 11. bulan 11 dan tahun 2011. Sebelas tiga kali, jika di jumlahkan 6?" Dennis mengacak-ngacak rambutnya. "Apa,vjangan jangan...."
Ia kemudian mengingat sesuatu, hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 16 tahun. Dulu saat kakaknya meninggal di sekolah juga saat berusia 16 tahun.
"Jangan jangan..."
"Aku adalah tumbal"
[End]
Maaf jika ada beberapa typo dan alurnya yang sedikit berantakan 🙏🏻
By Lisaa Lisaya