Suatu hari, aku tanpa sengaja bertemu dengannya. Ia memiliki paras yang imut dengan mata yang indah. Suaranya yang merdu dan sikapnya yang usil, membuat hari-hariku berubah karenanya.
Hari demi hari silih berganti. Kami telah tinggal bersama selama lebih dari 3 bulan. Bukan waktu yang lama, namun juga bukan waktu yang sebentar.
Ketika aku tidur, ia senang naik ke atas dadaku. Mendengkur dengan pelan namun keras, membuat tidurku tak nyenyak. Aku sering mengelusnya, hingga kebiasaan itu seakan menjadi kewajiban. Dan dia akan dengan imut, menggeliat ke tanganku yang mengelusnya.
King, adalah nama yang kuberikan padanya. Sosok yang tangguh nan kuat adalah yang kuharapkan darinya. Bulunya yang tebal, bak mahkota dan jubah yang menyelimuti tubuhnya.
Dia seekor kucing yang lucu.
Hingga suatu hari, ia tiba-tiba jatuh sakit. Aku tak tahu apa yang menyebabkannya, dokter bilang penyakitnya masihlah rancu.
Aku terus bersamanya. Menjaga dan mengawasi My Little Sweetie yang sudah terus terbaring. Tak ada lagi yang mendengkur di dadaku. Elusan lembut dariku sudah tak ada lagi yang membalas.
Sudah beberapa hari berlalu, namun ia tak kunjung membaik. Aku yang khawatir kembali membawanya ke dokter.
Sesampainya di rumah sakit, ia langsung dirawat inap dan diberi pengobatan ekstra dan khusus. Dokter berkata bahwa ia cacingan dan itu sudah sangat parah. Kemungkinan hidupnya tinggal 10%.
Hancur? Tentu. Sedih? Pasti. Aku disuruh pulang dan beristirahat, dan nanti akan dikabari ketika ada kabar lebih lanjut.
Dengan hati yang gundah, aku memutuskan untuk mengikuti arahan dokter. Ketika pintu rumah sakit akan aku buka, aku mendengar seorang perawat yang nampak panik memanggil dokter.
Dokter dan perawat dengan cepat menuju ke sebuah ruangan, ruangan yang sama dengan King dirawat. Aku langsung berlari, aku tahu bahwa kemungkinan hidupnya tinggal sebentar. Oleh karena itu, aku tak ingin kehilangan momen terakhir bersamanya.
Aku langsung masuk dan mendobrak semua yang menghalangi. Aku terjatuh dan terduduk lemas di dekat King yang sudah mau meninggalkanku selamanya.
Aku memeluk dan mengelusnya. Dan tiba-tiba, setelah sekian lama, ia kembali mengeluarkan suara.
Lirih, namun di telingaku sangatlah jelas. Seakan ia sedang mengucapkan kata perpisahan.
Aku mulai meneteskan air mata. Tangisku tak terbendung dan ia ... meninggal di dekapanku.
Pihak rumah sakit meminta maaf karena tidak dapat menyelamatkan nyawa My Little Sweetie. Aku hanya bisa berterima kasih atas upaya yang telah mereka lakukan.
Kecewa? Tentu. Sekarang, aku sedang menggali makamnya. Aku mengangkat tubuhnya yang sudah dingin. Meletakkannya di dalam tanah yang gelap dan dingin sendirian.
Dengan dibungkus kain layaknya bayi yang baru lahir, aku meletakkannya di tanah dan membuka ikatannya.
Perlahan-lahan, tanah mulai menumpuk dan menutupnya. Gerimis mulai datang. Seakan Tuhan ikut menangis melihat peristiwa ini.
Aku pulang ke rumah. Terduduk lemas, bersandar pada dinding yang dingin. Tempat makan yang masih terisi, tempat minum yang masih penuh, dan bola mainan favoritnya menemaniku kala itu.
Aku menangis. Hanya bisa menangis mencoba menolak kenyataan. Tapi aku tak bisa selamanya begini.
Aku mulai menulis pesan untuknya.
"Not only walk, now you can fly. Take a rest peace, Buddy!"
"Suatu saat nanti, kelak di Surga, aku berharap kita kembali dipertemukan. Bermain bersama, dan kau kembali tidur di atas dadaku dengan dengkuran berisikmu."
"See you again, Buddy. See you again, King. See you again, My Little Sweetie."