Mentari pagi memancar lembut di sela-sela dedaunan pohon mangga di halaman sekolah. Angin semilir membawa harum tanah basah setelah hujan semalam. Di sudut taman dekat lapangan basket, Nia duduk dengan buku catatan di tangannya. Ia menatap kosong ke arah lembaran kertas yang seharusnya penuh dengan rencana masa depannya. Namun, pikirannya terlalu sibuk mencerna kenyataan pahit yang baru saja menghantam hidupnya.
"Kamu nggak apa-apa, Nia?" suara lembut Dina terdengar, memecah kesunyian pagi itu. Dina adalah sahabat terbaik Nia sejak kecil. Mereka tumbuh bersama, saling berbagi mimpi, rahasia, dan bahkan air mata. Tak ada yang bisa memisahkan mereka, setidaknya itulah yang selalu Nia pikirkan.
Namun, pagi ini, segalanya terasa berbeda. Nia mendongak, menatap wajah Dina yang tampak penuh kekhawatiran. Mata itu, yang biasanya terasa begitu tulus, kini terlihat seperti menyimpan sesuatu yang tak terucap.
"Aku nggak apa-apa," jawab Nia singkat, berusaha menyembunyikan perasaannya. Tapi bagaimana mungkin ia bisa baik-baik saja? Kemarin malam, ia menemukan sesuatu yang menghancurkan kepercayaannya.
Semua bermula dari sebuah pesan yang secara tak sengaja ia lihat di ponsel Dina. Pesan dari Rio, cowok yang diam-diam ia sukai selama ini. Isi pesan itu bukan hanya mengguncang hatinya, tapi juga membuka tabir pengkhianatan yang tak pernah ia bayangkan. Dina dan Rio ternyata menjalin hubungan di belakangnya. Bahkan, dari percakapan itu, ia tahu bahwa Dina lah yang selama ini menyimpan perasaan Rio darinya.
Nia menggenggam erat buku catatannya. Hatinya terasa sesak. Selama ini, ia selalu percaya bahwa Dina adalah orang yang paling mengerti dirinya. Namun, kenyataan ini mengubah segalanya. Rasa kecewa dan sakit hati berbaur menjadi satu.
"Aku denger ada gosip kalau kamu marahan sama aku," kata Dina tiba-tiba, suaranya terdengar ragu. Nia hanya diam, tak tahu harus berkata apa.
"Aku nggak tahu apa yang salah. Kalau ada sesuatu yang bikin kamu nggak nyaman, tolong bilang, Nia. Aku nggak mau kehilangan kamu," lanjut Dina, suaranya terdengar tulus.
Tapi kejujuran Dina itu justru membuat Nia semakin marah. Bagaimana mungkin Dina bisa bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi? Apa ia lupa dengan pesan-pesan yang ia kirim ke Rio? Apa ia tak sadar bahwa Nia sudah tahu semuanya?
"Dina, aku cuma mau tanya satu hal," kata Nia akhirnya, memecah keheningan. Dina menatapnya dengan mata penuh tanya.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau kamu suka sama Rio?"
Pertanyaan itu membuat wajah Dina memucat. Bibirnya terbuka seakan ingin menjawab, tapi tak ada kata yang keluar. Detik-detik berlalu dalam keheningan yang terasa begitu menyakitkan.
"Aku nggak sengaja baca pesanmu sama Rio," lanjut Nia, suaranya bergetar. "Dan aku tahu semuanya."
Dina menunduk. Wajahnya kini dipenuhi rasa bersalah. "Nia, aku... aku nggak pernah bermaksud nyakitin kamu. Aku takut bilang ke kamu karena aku tahu kamu suka sama dia. Tapi... aku juga nggak bisa bohong soal perasaanku."
"Jadi, kamu pilih bohong sama aku? Kamu lebih pilih Rio daripada persahabatan kita?" suara Nia mulai meninggi. Matanya berkaca-kaca, menahan air mata yang hampir tumpah.
"Aku nggak pernah mau milih, Nia. Aku cuma... aku nggak tahu harus gimana," Dina mencoba menjelaskan, tapi itu hanya membuat Nia semakin kecewa.
"Kamu tahu nggak, Din? Aku selalu percaya sama kamu. Aku pikir kamu orang yang nggak akan pernah nyakitin aku. Tapi ternyata, aku salah," kata Nia dengan suara bergetar.
Dina hanya bisa diam. Ia tahu, apa pun yang ia katakan sekarang tidak akan menghapus luka di hati Nia.
Hari-hari berlalu, tapi hubungan Nia dan Dina tak pernah kembali seperti semula. Mereka masih sering bertemu di sekolah, tapi tak ada lagi tawa dan obrolan panjang seperti dulu. Hanya ada keheningan yang menyakitkan.
Nia mencoba fokus pada hal lain. Ia mulai menghabiskan waktu dengan teman-teman baru, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan memperbaiki nilai-nilainya. Namun, di tengah kesibukan itu, bayangan pengkhianatan Dina selalu menghantui pikirannya.
Suatu hari, Dina mendatangi Nia saat ia sedang sendirian di perpustakaan. "Nia, aku tahu aku nggak pantas dimaafkan. Tapi aku cuma mau bilang, aku benar-benar menyesal. Kalau aku bisa, aku ingin memperbaiki semuanya."
Nia menatap Dina dengan mata yang dingin. "Kamu nggak bisa menghapus apa yang sudah terjadi, Dina. Aku mungkin bisa memaafkanmu suatu hari nanti, tapi aku nggak yakin kita bisa kembali seperti dulu."
Dina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. Ia tahu, inilah harga yang harus ia bayar untuk pengkhianatannya.
Waktu terus berjalan. Nia mulai belajar menerima kenyataan dan menyembuhkan lukanya. Meski sulit, ia tahu bahwa hidup harus terus berjalan. Ia menemukan kekuatan dalam dirinya untuk bangkit, mengejar mimpinya, dan membuka lembaran baru.
Sedangkan Dina, meski hubungannya dengan Rio tak bertahan lama, ia tetap membawa penyesalan mendalam atas apa yang telah ia lakukan. Persahabatannya dengan Nia menjadi pelajaran berharga yang tak akan pernah ia lupakan.
Pada akhirnya, mereka berdua menyadari bahwa kepercayaan adalah hal yang rapuh. Sekali rusak, sulit untuk memperbaikinya. Dan meskipun waktu bisa menyembuhkan luka, bekasnya akan selalu ada sebagai pengingat bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.