Di sebuah kota kecil yang penuh dengan warna-warni kehidupan, tinggal seorang gadis bernama Arika. Dia adalah seorang penulis lepas yang tinggal di sebuah apartemen mungil dengan jendela yang menghadap ke taman kota. Meskipun banyak orang yang menyukai karyanya, Arika merasa kesepian. Pekerjaan menulis memang memberinya kebebasan, tetapi juga menciptakan jarak antara dirinya dan dunia luar.
Di taman yang selalu ramai itu, Arika sering berjalan sambil memikirkan cerita-cerita yang belum ia selesaikan. Suatu hari, di tengah-tengah perjalanan rutin itu, ia bertemu dengan seorang pria bernama Rian. Rian adalah seorang fotografer muda yang sering mengabadikan keindahan taman tersebut. Mereka berbincang sejenak, dan obrolan ringan mereka berlanjut selama beberapa hari.
Seiring berjalannya waktu, pertemuan itu semakin sering, dan Arika merasa nyaman. Rian selalu hadir dengan senyum hangat dan cerita-cerita tentang petualangan di balik kamera. Arika mulai merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dalam hubungan mereka, meskipun ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya.
Satu sore yang cerah, ketika Arika duduk di bangku taman, Rian datang membawa kopi kesukaan Arika. Mereka berbicara tentang berbagai hal—dari buku hingga film favorit—hingga akhirnya Arika tak tahan lagi dan berkata, "Rian, aku merasa kita punya hubungan yang lebih dari sekedar teman."
Rian terdiam sejenak, menatap Arika dengan mata yang penuh makna. Namun, ia tidak segera menjawab. Hening yang menggelayuti membuat Arika mulai merasa cemas. “Aku... aku juga merasa begitu, Arika. Tapi bukan dengan cara yang kamu harapkan.”
Hati Arika serasa terhenti mendengarnya. Rian melanjutkan, “Aku sudah memiliki seseorang. Seseorang yang sudah lama ada di hidupku.”
Seolah dunia tiba-tiba runtuh, Arika hanya bisa tersenyum pahit. Dia menyembunyikan rasa sakit yang begitu dalam, mencoba tersenyum meskipun hatinya hancur. "Oh, aku mengerti," jawabnya pelan, suara yang hampir tak terdengar.
Sejak saat itu, pertemuan mereka semakin jarang. Arika terus menulis, tetapi ada kekosongan yang sulit diisi. Setiap kata yang ia tulis terasa lebih berat, seolah-olah setiap kalimat membawa beban yang tak terungkapkan. Cinta yang ia rasakan untuk Rian tetap ada, namun ia tahu, itu hanya akan tetap menjadi rasa yang ia simpan sendiri, seperti rahasia yang tak pernah bisa terungkap.
Hari demi hari, Arika belajar menerima kenyataan. Cinta itu, seperti musim yang berganti, datang dan pergi. Ia tak bisa memaksakan perasaan pada seseorang yang tidak merasakannya dengan cara yang sama. Rian tetap menjadi teman yang baik, namun di dalam hati Arika, ada sebuah ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh kenangan tentang perasaan yang tidak pernah terbalas.
Pada akhirnya, Arika menulis sebuah cerita tentang cinta yang tak terbalas—tentang seseorang yang mencintai, meskipun cinta itu bertepuk sebelah tangan. Sebuah cerita yang mengajarkan bahwa terkadang, kita harus belajar melepaskan meskipun itu menyakitkan. Karena di dunia ini, tidak semua cinta harus berujung bahagia. Yang terpenting adalah kita tetap bisa berdiri tegak, meskipun hati ini terkoyak.