Rasa cemas yang terpancarkan oleh seorang suami yang mengkhawatirkan istrinya. Dengan langkah tergesa-gesa dan hati berdebar, aku menggendong tubuh istriku dengan erat. Aku merasa sangat putus asa mencari bantuan di rumah sakit. "Semoga dia baik- baik saja," doaku terus menerus.
Aku terus mondar-mandir di depan ruangan rumah sakit, mencoba mengusir kecemasan yang bersemayam di dadaku. Sinar matahari yang mulai meninggi tak terasa menghangatkan tubuh ku. Mataku sudah lelah menatap pintu yang tak kunjung terbuka. Pikiranku melayang ke berbagai kemungkinan yang membuatku semakin gelisah.
Pintu ruangan itu akhirnya terbuka, dan dokter keluar dengan wajah tenang, seakan semuanya baik-baik saja. Ketenangan tersebut bagai embun pagi, indah namun tak abadi. Ketenangan adalah kondisi yang dinamis, bukan statis. Aku segera menghampiri dokter, bertanya tentang kondisi istriku. "Masih harus diperiksa lebih lanjut, pak", katanya lembut. "Kondisinya cukup serius, tapi kami akan melakukan yang terbaik."
Aku mengangguk, dengan wajah serius. Pikiran-pikiran negatif terus berputar di kepalaku, membuatku semakin takut. Aku mencoba untuk mengubah pola pikir negatif tersebut menjadi positif. Setelah menandatangani berbagai formulir persetujuan perawatan, aku duduk di kursi tunggu. Di sana, aku memejamkan mata, aku berdoa dengan segenap jiwa, berharap ia di beri kesembuhan. Hatiku teriris melihatmu kesakitan. Kuatkanlah dirimu, aku percaya kamu akan melewati masa suit ini.
Hari-hari berikutnya, aku mulai mengumpulkan berbagai informasi tentang pengobatan yang mungkin bisa menyembuhkannya. Kucoba mencari pendapat dokter lain, bahkan mencoba metode alternatif dari berbagai daerah yang katanya bisa menyembuhkan penyakit seperti yang dialami istriku. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus aku keluarkan, selama ada harapan untuknya sembuh. Kuserahkan semua tabungan yang selama ini kami kumpulkan, kesembuhannya adalah harta yang tak ternilai bagiku dan anak-anak kami.
Selama proses itu, aku menyadari betapa besar rasa cintaku padanya. Setiap malam setelah mengantarkan putri kembar kami Caltia dan Calsia ke rumah dan menidurkan mereka dengan membacakan cerita pengantar tidur. Cahaya rembulan menemani tidur mereka yang lelap. "Semoga kalian bermimpi indah dan mimpi tersebut membawa kebahagian saat kalian bangun", ucapku pelan sambil mencium kening kedua putriku tanda cintaku yang tak terbatas. Setelah itu aku kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi dan menjaga istriku hingga cahaya bintang mulai redup, digantikan oleh sinar fajar.
Di sepanjang malam kami bercerita tentang hari-hari kami, aku memegang tangan istriku sambil bercerita tentang mimpi-mimpi kami yang ingin kami wujudkan bersama. Aku ingin dia tahu bahwa aku akan selalu ada untuknya, apa pun yang terjadi. Tak jarang, aku tidur di kursi rumah sakit, terjaga di malam hari, sekedar untuk memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja.
Setiap perawatan, setiap doa, dan setiap usaha yang kulakukan mulai menunjukkan hasil. Pelan-pelan, kondisinya mulai membaik. Hari itu, aku melihatnya tersenyum, senyum yang selama Ini begitu kurindukan. Tubuhnya mulai kembali kuat, dan sinar kehidupan kembali ke wajahnya. Doa-doa yang kupanjatkan akhirnya terjawab. Aku bersyukur kepada Tuhan atas segala kemurahan-Nya. Rasa syukurku tak terhingga atas anugerah kesehatan yang kembali pada istriku. Hatiku merasa tenang dan damai melihatnya kembali sehat.
Namun, di balik semua kebahagiaan itu, aku sendiri merasa semakin lemah. Tubuhku semakin sering terasa sakit dan lelah. Kecemasan yang sempat hilang kini kembali, namun kali ini bukan untuk istriku, melainkan untuk diriku sendiri. Aku tahu ada penyakit yang telah lama bersarang dalam tubuhku, yang selama ini ku tutupi dari keluarga kecilku.
Waktu terus berjalan, sementara penyakit ini masih menghantui. Penyakit ini seperti bayangan yang selalu mengikutiku. Penyakit ini membuatku kehilangan banyak hal dimulai dari berat badan, nafsu makan, hingga rasa lelah yang ekstrem. Aku sering merasa khawatir tentang masa depan. 'Apa jadinya istri dan putri kembarku tanpa adanya diriku?', 'Apakah mereka akan kuat dan tegar tanpa diriku di sisinya?', Pikirku. Aku merasa bersalah karena tidak pernah mengatakan tentang penyakit yang ku derita kepada keluarga kecilku. Aku tidak ingin senyum yang terpancarkan dari wajah mereka digantikan dengan wajah muram dan suram yang membuat mereka senantiasa khawatir akan kondisiku hingga menggangu aktivitas mereka.
Tibalah hari jadwalku untuk bertemu dokter, untuk memeriksa kondisi tubuhku. Ruang konsultasi terasa sunyi hanya ditemani suara detak jam dinding, suasana ruangan terasa sedikit tegang. Dokter duduk di depanku sambil menatap hasil pemeriksaanku dengan wajah serius. "Pak Enrizo, saya sudah melihat hasil tesnya dan mempelajarinya", kata dokter. "Ini bukan kabar yang mudah, penyakit ini menjadi lebih parah, sekarang penyakit bapak sudah mencapai stadium IV".
Rasanya seperti ditusuk ribuan jarum sekaligus. Aku sudah menduganya, tapi tetap saja seperti sedang berada di dalam mimpi buruk yang tak berujung. Meski hatiku terasa berat, aku mencoba tetap tenang. "Dok, apakah ada perkiraan berapa lama lagi saya bisa bertahan?" tanyaku dengan suara bergetar. "Sulit dipastikan, tapi mungkin hanya tinggal beberapa bulan", jawabnya pelan.
Aku terdiam membatu, berusaha mencerna kenyataan ini. Ingatanku langsung terbang ke istriku dan putri kembarku, Caltia dan Calsia. Aku ingin mengisi hari-hari mereka dengan Keceriaan. Mereka adalah segalanya bagiku, mereka adalah anugerah terindah dalam hidupku. Aku bersyukur memiliki mereka di dalam hidupku. Aku berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka. Aku ingin memberikan kenangan indah untuk terakhir kalinya yang akan mereka ingat selamanya.
Pada hari minggu, aku memutuskan untuk membawa mereka ke taman hiburan, tempat kami untuk menghabiskan waktu bersenang-senang bersama. Bersama istri dan Caltia Serta Calsia, kami berjalan beriringan menuju taman hiburan. Si kembar melompat-lompat kegirangan, sementara istriku terlihat sehat dan ceria. Aku bisa merasakan air mata menitik di sudut mataku, tapi ku tahan hari ini harus menjadi hari bahagia.
Setibanya di taman hiburan, Caltia dan Calsia langsung berlari menuju komidi putar. "Ayah! Ibu! Ayo naik! " teriak mereka. Dengan semangat, aku mendampingi mereka di wahana demi wahana, dari komidi putar hingga rumah hantu. Setelah kami turun dari komidi putar, Caltia menarik tanganku sambil berkata "Yah, aku mau naik roller coaster!". "Ayah sudah tua, nanti jantung ayah copot, lho!" aku pura-pura mengeluh, membuat Calsia terkikik geli. Istriku tertawa di belakang kami, wajahnya cerah melihat kegembiraan kami bertiga.
Di tengah antrean menuju rumah hantu, aku pura-pura takut dan berbisik ke Caltia dan Calsia, "Aduh, ayah nih agak takut sama hantu. Kalian jangan ninggalin ayah sendirian, ya?". Calsia berbisik dengan wajah polos, "Ayah jangan takut, kalau hantu keluar, kami akan lindungi ayah!" mendengar itu, aku tertawa terbahak-bahak. Caltia dan Calsia menggandeng tanganku erat-erat, merasa menjadi pahlawan kecil yang siap melindungiku. Ketika di dalam rumah hantu, aku berteriak lebih keras daripada mereka, membuat keduanya terpingkal-pingkal sampai keluar air mata.
Saat mengantri di wahana berikutnya, tiba-tiba perutku mulai berbunyi keras. "Duh, ayah lapar nih, seperti dinosaurus!" aku mengeluh sambil mengelus perut. Istriku tersenyum geli dan menyodorkan sepotong roti untukku. Di tengah momen penuh tawa itu, aku menatap mereka satu per satu, mencoba menyerap setiap detail wajah mereka, tawa mereka, dan momen-momen kecil ini. Aku sempat berpikir, andai waktu bisa berhenti. Tapi tubuhku sudah semakin lemah. Aku tahu ini mungkin momen terakhir bersama mereka di tempat seperti ini.
Malam ini terasa sempurna, setelah seharian penuh kesenangan. Cahaya lampu hangat menerangi ruang makan, menciptakan suasana yang nyaman. Aroma masakan lezat semerbak memenuhi ruangan, menggugah selera makan. Masakan istriku selalu berhasil membuatku ketagihan. Setiap suapan terasa begitu nikmat dan memuaskan. Caltia dan Calsia tertawa riang, menceritakan pengalaman seru mereka di wahana-wahana. Aku berharap momen seperti ini bisa terus berulang.
Tiba-tiba saja, perut bagian kiri atasku terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Rasa nyeri itu menjalar ke seluruh tubuhku, membuatku lemah tak berdaya. Sakit kepala yang tiba-tiba muncul membuatku semakin menderita. Sakitnya begitu hebat hingga aku meringkuk kesakitan. Istriku panik melihatku meringkuk kesakitan. Putri kembarku menatapku dengan wajah khawatir. Mereka terus bertanya, "Ayah kenapa, Ayah?". Aku merasa seperti akan pingsan. Istriku segera membawaku dan si kembar ke rumah sakit.
Sejak perjalanan menuju rumah sakit, kesadaranku mulai memudar. Pandanganku semakin kabur, segalanya terasa berputar. Tubuhku terasa sangat lemas, seperti tak berdaya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar, namun rasanya sangat berat. Wajah istri dan putri kembarku terlihat samar, penuh dengan kekhawatiran. Aku ingin sekali berbicara kepada mereka untuk tidak terlalu khawatir tentang kondisiku, namun tak ada suara yang keluar dari mulutku. Tiba-tiba, segalanya menjadi gelap gulita.
Saat tiba di rumah sakit, aku sudah tidak sadarkan diri. Dokter dan Perawat bergegas menolongku. Aku berada dalam kondisi kritis. Tubuhku dipasangi berbagai macam alat medis. Istri dan putri kembarku terus berdoa agar aku segera sadar dan diberi kesembuhan, di luar ruangan. Detik-detik mencekam menyelimuti ruanganku. Para medis berjibaku melawan waktu untuk menyelamatkan nyawaku. Alat pacu jantung diaktifkan, berharap bisa menghidupkan kembali jantungku.
Namun, takdir berkata lain, tubuhku tak kunjung merespon. Upaya penyelamatan yang telah dilakukan tak membuahkan hasil. Setelah berjuang keras, dokter akhirnya menyerah. Jantungku berhenti berdetak untuk selamanya. Jiwaku meninggalkan raga yang tak berdaya. Aku menyesal tidak bisa menemani mereka lebih lama lagi, aku harap mereka memaafkanku karena tidak memberitahu tentang penyakit yang ku derita dan meninggalkan mereka begitu cepat. Pada malam itu, Enrizo meninggalkan semuanya pada usia kepala tiga.
Seminggu sudah berlalu sejak kepergian Enrizo, namun kesedihan masih menyelimuti hati istrinya. Dengan hati yang berat, ia mulai membereskan barang-barang suaminya. Di antara tumpukan pakaian dan buku, ia menemukan sebuah jam pasir yang tersimpan rapi di laci meja. Jam pasir itu seakan membeku, mengingatkannya pada waktu yang tak bisa kembali. Tiba-tiba, matanya menangkap sebuah buku diary yang tersembunyi dibalik tumpukan buku.
Dengan tangan gemetar, ia membuka buku diary itu. Setiap coretan tinta dibuku diary itu seakan berbicara kepadanya. la membaca setiap kata yang ditulis Enrizo dengan seksama. Dalam buku diary itu, Enrizo menuliskan tentang hari-hari bahagianya bersama keluarga kecilnya yaitu istri dan putri kembarnya. Di dalam diary tersebut juga terdapat tentang penyakit yang diderita oleh Enrizo.
Yang tertulis pada diary tersebut tentang penyakit Enrizo adalah sebagai berikut. Rasanya seperti disambar petir, tubuhku lemas seketika saat dokter mengucapkan kata-kata itu. Aku merasa hidupku sudah berakhir. Masa depan yang cerah yang kubayangkan seketika menjadi gelap.
Aku memutuskan untuk tidak memberitahu keluarga kecilku tentang penyakitku. Aku ingin melindungi mereka dari kesedihan dan kenyataan pahit. Aku ingin mereka mengingatku dengan senyuman, bukan air mata. Aku ingin hanya memberikan mereka kenangan indah sebelum aku pergi. Setiap hari adalah pertempuran,sel-sel jahat itu terus tumbuh dan menggerogoti tubuhku. Nyeri yang tak tertahankan seringkali datang tanpa peringatan, membuatku meringkuk kesakitan.
Aku merasa waktuku semakin sedikit. Setiap hari adalah anugerah yang tak ternilai. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap kuat di hadapan keluarga kecilku. Aku berusaha menikmati setiap momen yang ada. Jam pasir ini seperti pengingat bahwa waktuku semakin habis. Setiap butiran pasir yang jatuh adalah simbol dari hidupku yang semakin pendek. Aku ingin membalikkan jam pasir, namun waktu tak bisa di putar kembali. Kehidupan bagaikan jam pasir, cepat atau lambat akan habis.
Jam pasir ini mengajarkanku tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Kematian adalah bagian dari hidup. Aku tidak takut mati, tapi aku takut meninggalkan orang-orang yang kusayangi. Aku ingin istri dan putri kembarku selalu ingat betapa aku menyayangi mereka. Aku akan selalu ada di hati mereka, meski dalam bentuk kenangan. Hati istri Enrizo terasa hancur saat membaca buku diary tersebut. Ternyata ada yang belum ia ketahui tentang suaminya. la ingin sekali bisa berbicara dan memeluk suaminya saat ini.
la merasa sedikit kecewa karena Enrizo tidak pernah menceritakan tentang penyakit yang di deritanya, menahan rasa sakit itu seorang diri dan Enrizo lebih memilih untuk menyembunyikannya. Dan ia begitu bersyukur telah menemukan buku diary itu dan mengetahui segala hal yang disembunyikan dengan baik oleh suaminya. Buku diary itu menjadi harta karun yang sangat berharga baginya. Setiap kata yang ditulis Enrizo membuatnya semakin merindukannya. la merasa Enrizo masih ada bersamanya melalui buku diary itu, dan ia berjanji akan menjaga dan menyimpan jam pasir dan buku tersebut dengan sebaik-baiknya. la juga akan selalu membawa kenangan tentang Enrizo di dalam hatinya.