Seperti apa kisah cinta seorang pria yang memiliki kelebihan tak biasa. Seperti yang dialami oleh Alfred. Pria berusia dua puluh enam tahun.
Sebenarnya, Alfred bukanlah sosok pria normal pada umumnya. Mungkin lebih pantas disebut aneh bagi sebagian orang. Karena kelebihan khusus yang dimilikinya terkadang dapat membuat orang ketakutan, yakni kemampuan melihat masa depan atau prekognisi.
Alfred juga memiliki empati yang begitu tinggi. Hal itu membuatnya tak mampu merahasiakan peristiwa apa yang dilihatnya di masa depan. Terutama jika itu menyangkut soal keselamatan orang lain. Jarang sekali penglihatannya meleset.
Beruntungnya dia, karena tak semua yang dia lihat merupakan penglihatan yang buruk. Adakalanya, dia mendapatkan penglihatan yang mampu membuatnya begitu bahagia. Seperti penglihatan yang dapat menuntunnya untuk menemukan pemeran utama dalam hatinya.
Kesendiriannya kali ini, mungkin membuatnya merasa lemah di balik kelebihannya itu. Seorang Alfred yang cukup pendiam, tetap membutuhkan seseorang untuk bertukar cerita dan juga saling memberikan kasih sayang. Sebuah ikatan cinta yang dia inginkan.
Bukan karena dia tidak berusaha mencari. Tetapi, melihat tanggapan dari rekan-rekannya yang merasa terganggu dengan kelebihan yang ia miliki. Apakah akan ada seseorang yang mampu menerima kemampuan spesialnya itu?
Apalagi, Alfred hanyalah seorang ostler—tukang memelihara kuda yang kerjanya mulai dari memberi makan kuda, membersihkan kuda, hingga membersihkan kandang mereka. Tetapi, jangan pernah meremehkan kemampuannya dalam memacu kuda.
Semua kuda-kuda yang berjumlah lima belas itu adalah milik pamannya, Darwin. Alfred tidak bekerja sendirian, dia ditemani oleh dua rekannya yang bernama Joey dan Erick.
Suatu hari, Alfred sedang memberi makan dua ekor kuda berjenis Andalusia dan tiga ekor kuda berjenis Dutch Warmblood di padang rumput yang luas tak jauh dari kandang. Alfred membiarkan kuda-kuda itu sibuk memakan rerumputan yang masih basah akibat hujan semalam. Alfred berdiri di antara kuda-kuda itu dan mengelus-elus badan salah satu kuda. Kali ini, raut wajah Alfred tampak lesu. Pasalnya, suatu gambaran buruk baru saja muncul dalam penglihatannya.
Sebuah badai besar akan melanda Wiley Town dalam waktu dekat. Dia melihat banyaknya pedesaan yang porak poranda akibat badai ekstrim tersebut. Wiley Town merupakan kota kecil tempat ia mengadu nasib saat ini. Tempat dimana ia belajar banyak hal mengenai kehidupan semenjak ia beranjak remaja.
Alfred merupakan sebatang kara. Sebelumnya, dia tinggal di Wyclef Town bersama kedua orang tuanya. Namun, hal yang tak terduga terjadi akibat ayah dan ibunya tak mau mendengarkan imbauan Alfred. Ayah dan ibunya bersikukuh bertolak ke Bone Village menggunakan kereta kuda untuk menjual emas kepada kolektor emas di sana yang terkenal suka memberikan harga tinggi.
Sebelumnya, Alfred sudah memberi tahu mereka akan adanya segerombolan perampok yang akan menjarah mereka di tengah perjalanan. Sungguh nahas. Selain menjarah, ternyata perampok itu juga membunuh kedua orang tuanya akibat berusaha melawan.
Satu-satunya yang selamat hanya kuda mereka, yang pulang dan bertingkah laku aneh seraya meringkik panik di hadapan Alfred. Dan Alfred yang sejatinya adalah seorang ahli kuda, segera bisa membaca maknanya melalui pola ringkikan kudanya itu. Dengan tergesa-gesa Alfred yang masih berusia lima belas tahun itu memacu kudanya hingga membawanya ke lokasi dimana orang tuanya tewas terbunuh. Alfred hanya bisa bersimpuh menerima takdirnya sebagai yatim piatu.
"Hihik-hihik, hihik-hihik, wueherrr ...." Suara salah satu kuda berjenis Dutch Warmblood yang ada di samping kanannya, membuat Alfred tersadar dari lamunannya. Kepala kuda itu terangkat dan menyerong ke kiri memperhatikan sesuatu. Melihat polahnya, Alfred langsung tahu bahwa kuda itu merasakan kehadiran orang lain.
Alfred mengamati pepohanan yang terletak sekitar dua puluh meter di hadapannya saat ini. Dia berusaha fokus melihat dari kiri ke kanan seraya menyipitkan mata. Namun, dia tidak menemukan satu orang pun di sana. Lalu, Alfred kembali mengelus kuda itu lagi. Kuda itu pun meringkik lagi dengan polah yang sama. Alfred kembali mengamati pepohonan itu dengan cepat.
Akhirnya, tepergoklah seorang gadis berambut pirang yang mengenakan gaun putih selutut. Gadis dengan rambut yang disanggul itu sedari tadi berusaha mengintip Alfred di balik pepohonan. Dia terlihat membawa keranjang buah.
Lalu, Alfred berteriak pada gadis itu, "Hey ... !" Sontak saja gadis itu kaget dan menjatuhkan keranjangnya. Kemudian, dengan cepat gadis itu mengambil beberapa buah yang terjatuh untuk dimasukkan ke dalam keranjang dan langsung pergi dari pandangan Alfred.
"Sejak kapan gadis itu memperhatikanku?" Gumam Alfred.
Malamnya, Alfred tak dapat tidur dengan tenang memikirkan gadis yang mengintip di balik pohon itu. Alfred sempat melihat sorot matanya yang ketakutan. Dia memutuskan untuk bangun dan mengambil secangkir kopi yang tinggal setengah di atas nakasnya. Kemudian mengapitkan cerutu di antara kedua bibirnya lalu menyulut ujungnya.
Kepulan asap mulai keluar dari mulutnya. Begitupun gambaran baru ikut terlintas di penglihatannya. Kali ini, dia tidak begitu yakin. Apakah gambaran itu buruk ataukah sebaliknya. Jantungnya berdegup kencang. Pasalnya, di penglihatan sekilasnya itu, dia melihat gadis itu ada di depannya namun membelakanginya. Lebih tepatnya, mereka sedang menunggang kuda bersama.
Gadis itu mengenakan gaun berwarna coral yang terbuat dari satin. Suara teriakan gadis itu muncul di kepala Alfred. Namun, Alfred tetap memeluknya dari belakang dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya memegang tali kekang untuk memacu kuda yang mereka tunggangi. Angin yang menghantam mereka begitu kuat serta badan mereka terlihat basah kuyup. Hanya itulah gambaran yang ia lihat.
Dua hari kemudian, usai Alfred dan kedua rekannya membersihkan kandang kuda, mereka makan siang bersama di sebuah kedai. Alfred mencoba menceritakan penglihatannya kepada mereka mengenai badai besar yang akan melanda Wiley Town yang dapat memporak porandakan seluruh pedesaan.
"Ayolah, Fred. Hentikan omong kosongmu. Jangan menakut-nakuti kami," ucap Joey.
"Sudahlah, lebih baik kita lanjutkan makan siang agar kita dapat cepat beristirahat," ucap Erick menengahi.
Alfred hanya bisa tertunduk lesu mendengar kedua rekannya menyangkal apa yang ia lihat.
Usai makan siang, mereka ingin kembali ke pondok. Di tengah perjalanan, Alfred tidak sengaja melihat gadis itu sedang menjajakan buah-buahan dengan keranjang buahnya di persimpangan jalan.
Alfred tertegun, pasalnya gadis itu mengenakan gaun berwarna coral yang sama persis ia lihat dalam penglihatannya dua hari yang lalu.
"Benarkah akan terjadi begitu cepat?" Gumam Alfred.
Jantungnya kini berdegup kencang saat melihat senyum menawan gadis itu. Di sisi lain, dia juga tertegun bila badai besar itu ternyata akan berlangsung hari ini.
Alfred dan kedua rekannya berjalan menuju pondok kayu yang tidak jauh dari kandang kuda. Dari arah selatan, mereka sudah mulai melihat gumpalan awan gelap yang bergerak menuju utara.
"Sebaiknya, kita segera masuk ke dalam pondok. Hujan lebat akan segera turun," ujar Erick.
Dalam pondok tersebut, Alfred mulai gelisah. Mengkhawatirkan seorang gadis yang bahkan ia belum tahu namanya. Kemudian, angin mulai terdengar meraung-raung di luar, membuatnya semakin gelisah. Pondok tersebut berderit-derit menahan terpaan angin yang kencang bertubi-tubi.
"Joey, Erick. Sebaiknya kita pergi dari sini. Di sini tidak aman!" Ajak Alfred dengan tegas.
"Alfred! Kau bercanda?!" Seru Joey.
"Tentu saja tidak!" Seru Alfred seraya keluar dari pondok dengan membanting pintu.
"Kau sudah gila, Alfred!" Teriak Erick pada Alfred. Kemudian Erick dengan cepat menutup pintu pondok itu.
Dengan langkah gontai, Alfred berjalan menuju kandang kuda untuk mengambil salah satu kuda pacu lalu menungganginya.
"Semua ini, penglihatanku, gadis itu. Tidak salah lagi. Dia adalah takdirku. Aku harus segera menyelamatkannya," ucap pria bertubuh atletis itu.
Dengan penuh keyakinan, Alfred mulai memacu kudanya. "HIYAAAAKKK!!" Pekik Alfred seraya menghentakkan tali kekang kuda yang ditungganginya. Kudanya pun meringkik keras dan langsung melesat dengan cepat.
Hujan turun dengan lebatnya. Mereka melaju cepat meninggalkan kandang dan pondok di belakang mereka. Semakin jauh mereka meninggalkan kandang dan pondok itu, angin semakin kuat dan berhasil merobohkan pondok. Sementara, kuda-kuda yang berada di dalam kandang tersebut semuanya berhasil berhamburan keluar tak tentu arah. Entah bagaimana nasib Joey dan Erick.
Alfred melesatkan kuda pacunya menuju persimpangan dimana ia sempat melihat gadis itu sebelumnya. Namun, benar saja gadis itu sudah tidak berada di tempat. Sudah pasti gadis itu mencari tempat berlindung.
Benda-benda beterbangan kesana kemari. Atap-atap bangunan sudah banyak yang terlihat hancur. Hampir saja Alfred tertimpa sebuah kayu, namun ia dengan cekatan mampu menghindari dengan kudanya.
Samar-samar Alfred mendengar suara rintihan disertai lirih minta tolong.
"To—tolong ..., Egghh!! Tolong ... !" Suara seorang gadis meminta tolong.
"Di—di mana? Kau di mana?" Suara Alfred sedikit berteriak.
"A—aku di sini. Tolong! Kakiku! Eggh!!" Suara gadis itu semakin terdengar kesakitan.
Dengan jeli, Alfred segera mencari sumber suara, pandangan sedikit kabur akibat hujan yang begitu lebat. Dan benar saja, gadis bergaun warna coral tersebut Alfred temukan dalam keadaan terkapar. Kakinya tertimpa sebuah balok kayu yang cukup berat.
Alfred segera mengangkat balok kayu itu dari kaki gadis tersebut. Lalu, dia menggendongnya dengan susah payah. Menaikkannya di atas punggung kuda yang sedang membungkuk dan bersimpuh. Kemudian, Alfred duduk di belakang gadis itu untuk menjaganya.
Kuda tersebut mulai berdiri dan meringkik. Persis seperti yang Alfred lihat tempo hari, kini ia memeluk gadis itu dengan erat dengan tangan kirinya. Alfred mulai memacu kudanya, melawan badai bersama gadis itu. Gadis itu berteriak di saat kuda itu berlari kencang. Kemudian, hal yang tak terduga pun terjadi, gadis itu membuka sebuah portal ke dimensi lain. Akhirnya, mereka masuk ke dalam portal tersebut meninggalkan Wiley Town yang telah porak poranda untuk selamanya.