Rania, seorang wanita muda berusia 28 tahun, menjalani kehidupan yang tampaknya sempurna. Ia memiliki suami yang mapan dan penuh perhatian, Fadli, serta pekerjaan impian sebagai interior desainer. Namun, di balik semua itu, hatinya menyimpan rahasia besar. Ia menjalin hubungan dengan Bima, cinta pertamanya yang tak pernah padam. Di antara kenyamanan hidup yang ditawarkan Fadli dan api gairah yang menyala bersama Bima, Rania terperangkap dalam dilema besar. Akankah ia mengikuti logika atau menyerah pada perasaannya?
---
Bab 1: Pertemuan di Senja Hari
Langit Jakarta mulai memerah ketika Rania menginjakkan kaki di sebuah kafe kecil di sudut jalan Kemang. Ia mengenakan gaun selutut berwarna krem yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul lima sore. Ia memesan secangkir cappuccino sambil melirik ke arah pintu.
"Dia terlambat," gumamnya pelan. Namun, sebelum rasa jengkel itu sempat menjalar, sosok yang ia tunggu akhirnya muncul.
Bima, dengan rambut hitam yang sedikit berantakan, mengenakan jaket kulit hitam yang membuatnya terlihat lebih muda dari usianya. Senyumnya masih sama, senyum yang dulu membuat Rania jatuh cinta tanpa sadar di bangku kuliah.
"Rania," sapanya, suaranya berat namun penuh kehangatan.
Rania berdiri, mencoba menutupi kegugupannya dengan senyuman. "Kamu selalu datang di saat yang tepat," ucapnya, menahan perasaan yang meletup di dada.
Bima menarik kursi dan duduk di depannya. Ia menatap Rania dengan intens, membuat wanita itu merasa seolah seluruh rahasianya telah terbongkar.
"Aku tahu ini salah," kata Rania tiba-tiba, mengalihkan pandangan ke cangkir kopinya.
Bima menghela napas panjang. "Kita berdua tahu itu. Tapi kenapa selalu ada yang menarikku kembali ke arahmu?"
Keduanya terdiam, seolah kata-kata itu menggantung di udara, menggema dalam hati masing-masing.
"Fadli baik," lanjut Rania, nyaris seperti membela diri. "Dia suami yang sempurna."
"Tapi dia bukan aku," potong Bima.
Rania menatap Bima, matanya memancarkan luka dan kerinduan. Di satu sisi, ia ingin menghentikan semuanya. Namun di sisi lain, ia tak mampu menyangkal bahwa bersama Bima, ia merasa benar-benar hidup.