Aku adalah anak pertama yang terlahir dari keluarga sederhana, bahkan bisa di bilang serba kekurangan. Aku tinggal bersama nenek dan adikku karena kedua orangtua ku merantau ke ibu kota. Masa kecilku adalah cerita tentang perjuangan. Bagaimana aku harus membantu nenek mencari kayu bakar setiap pulang sekolah, mengumpulkan daun cengkih untuk kemudian dijual dan hasil penjualannya digunakan sebagai uang saku sekolah. Bagaimana aku belajar dibawah lampu yang temaram karena waktu itu belum mempunyai listrik dan hanya mengandalkan lampu petromaks saja. Dan bagaimana aku harus menahan keinginan karena tahu keluarga tak mampu memenuhinya.
"Kita memang tidak punya banyak harta. Tapi kita punya cinta, do'a dan kerja keras" kata nenek suatu hari. Aku hanya menanggapinya dengan mengangguk pelan. "Apapun yang kita makan hari ini, asalkan bersama, itu sudah cukup" imbuhnya lagi sambil tersenyum hangat. Sebagai anak kecil, aku hanya meng'iya'kan saja dan percaya dengan kata-kata tersebut. Namun semakin aku dewasa, aku sadar bahwa hidup tak semudah senyuman nenek.
Waktu berlalu, perjuangan demi perjuangan aku lewati. Kesulitan yang selalu setia menggandengku setiap hari, kini menawarkan harapan. Dengan senyumnya yang hangat dia berkata "Percayalah, di ujung jalan ini ada sesuatu yang indah menantimu". Dengan penuh keyakinan aku mengikuti harapan yang terus membisikkan do'a dan janjinya kepadaku.
Hingga pertemuanku dengan seorang pria luar biasa telah mengubah segalanya. Dia bukan hanya sekedar pendamping hidup, tetapi juga cahaya dalam gelapku. Kehadirannya mampu membuatku berdiri lebih kuat. Bersamanya aku bertemu kebahagiaan. "Kenapa kamu memilih aku?" tanyaku dengan ragu. Dia tersenyum, memegang tanganku dengan erat, "Karena aku melihat dirimu yang tak pernah menyerah, meski hidup tak memberimu kemudahan. Kamu istimewa" begitu jawabnya. Aku tertegun mendengar jawaban itu. Bersamanya, kami memulai hidup baru dari nol, saling menguatkan dan saling melengkapi.
Tahun demi tahun berlalu, dan Tuhan memberkahi kami dengan anak-anak yang luar biasa. Mereka tumbuh tanpa kekurangan suatu apapun. Hingga pada suatu malam saat kami bersantai di ruang tamu, si bungsu bertanya "Bunda, kenapa ayah selalu bekerja keras?". Aku tersenyum dan memeluknya, "Karena ayah ingin kalian mendapatkan hidup yang lebih baik" jawabku. "Kalau begitu, aku juga mau bekerja keras biar bisa bahagiain ayah dan bunda" ocehnya saat itu. Aku sangat bahagia mendengar ucapannya. Ya, ucapan seorang anak yang mempunyai mimpi besar untuk membahagiakan orang tuanya.
Kami terus bersyukur dengan semua yang kami miliki saat ini. Anak-anak yang baik dan keluarga yang hangat adalah buah dari perjuangan yang di pandu oleh Tuhan. Tanpa campur tangannya kita tidak akan bisa berjalan sejauh ini. Terimakasih Tuhan, Terimakasih untuk Takdir Terbaiknya. Engkau telah memberikan keluarga yang luar biasa. Keluarga kecil ini adalah Takdir terbaik dari-Mu.
Terimakasih suamiku, terimakasih anak-anakku. Kalianlah Matahariku.
Thanks readers.