Kalau memang dulu aku setuju untuk hidup di dunia ini bahkan sampai mengatakannya 77kali, mengapa aku menyesal untuk hidup?
Sederhana.
Jawabannya keluarga. Semuanya berawal dari sana. Apa itu keluarga? Coba cari tahu di balik kemasan sabun batangan di rumah kalian, pasti kalian akan menemukan jawabannya. Tapi jika kalian bertanya padaku...aku tidak tahu.
Kalian punya bapak?
Kalau punya beritahu saya apa dia itu? Aku punya tapi tidak dengan peran nya.
Hey...
Aku tidak sendiri bukan? Karena di cerita ini, seorang aku ini akan menyatu dengan dirimu.
Hal ini sering di rasakan oleh banyak nya anak di Indonesia bahkan di luar sana. Memiliki seorang ayah tidak dengan perannya. Tapi pernahkah dari kalian mencoba untuk bercerita? Cobalah.
Aku juga akan coba!
“Dengar baik baik.”
Berkisah tentang diriku sendiri.
Hidup dengan kekayaan “Bukan aku” Dengan kebahagiaan “Bukan aku” Bahkan menjalani hari hari sempurna pada umumnya “bukan aku”
Sebaliknya? “Ya itu aku.”
Aku bangga jadi diriku yang sekarang. Meskipun hanya seorang anak berumur 14 tahun di keluarga yang tak pantas di sebut keluarga tapi...terkadang hal seperti itu tak pantas ku sesali.
Berkali kali aku mencoba bersyukur dengan hidup ku. Tapi aku selalu saja menyesalinya dengan air mata yang membasahi bantal setiap malam.
It’s ok. “Kau adalah wanita paling kuat yang aku tahu. Kau tidak sendirian, ada aku. Kau boleh menangis, kau boleh bercerita padaku. Meskipun aku tahu sebelum kau bercerita. Karena aku adalah kamu.” Ucap ku.
Kata kata sederhana itu selalu menyemangati diriku. Aku tak butuh orang lain yang berkata seperti itu. Cukup aku.
Karena aku tahu. Aku adalah orang yang buta akan cara bercerita. Rasanya seperti kawat yang melilit di sekitar leher.
Aku sedikit bercerita, tapi hanya dengan orang yang merasakan hal yang sama. Terkadang berbagi rasa sakit itu membuat ku merasa sedikit lebih baik.
“Ah! Gitu doang gak kuat, lebay!” Kata mereka yang tak tahu.
“Sama.” Sesingkat itu tapi mereka juga mengerti apa yang aku tahu.
Aku ingin tahu, siapa saja orang-orang di luar sana yang merasakan hal yang sama seperti ku. Tapi masing-masing dari kita tidak mau bercerita. Tak masalah, akan ku wakili kalian semua.
Kita adalah aku dalam cerita ini.
“Broken home?”
“Feeling lonely”
“Lost figure?”
“Can’be yourself?”
“Come here, here a hug for you!”
Sudah cukup pura-pura nya ya, ayo nangis. Aku janji itu bisa buat kamu lebih baik.
Kita semua punya masalah kita masing-masing , punya cara bercerita kita sendiri...
Terkadang tidak bercerita.
Terkadang tidak punya tempat untuk pulang.
Rumah yang terlihat berdiri kokoh tanpa kehidupan itu di sebut broken home. Tak punya tempat cerita itu membuat kamu feeling lonely. Keluarga tanpa ayah atau ibu itu lost figure. Juka kamu bohong pada dirimu sendiri.
You’re lost.
Ya, aku kalah. Aku tak memiliki apa yang mereka miliki, keluarga, ayah tanpa peran, kebahagiaan. Semuanya aku tak punya.
Jadi cukup. Jangan bandingkan aku dengan dirimu! Kau sempurna.
“Kau membuat ku insecure”
Aku pulang ke rumah yang besar itu. Dengan aku, hanya aku.
Tak ada ayah di sana, mungkin dia bersama istrinya dan bukan ibuku. Tak ada kakak di sana, dia pergi mengais rejeki. Rela menjadi tulang punggung keluarga.
Tersisa ibu. Ibu dengan linangan air matanya.
Ibuku, orang yang pertama tahu rasa yang aku rasakan. Karena dia ibuku. Wanita sederhana yang membesarkan semua anaknya dengan cinta dan kasih sayang.
Ayah, orang yang menjadi karakter penjahat dalam hidupku, semuanya miliknya! “Egois!” Hanya kata itu yang bisa terucap di bibirku.
Kakak, dia sudah seperti pahlawan bagiku.
Tapi, bagaimana dengan kalian yang tak punya kakak? Anak pertama?
“Yang kuat ya!”
Cerita ini hanya ku tulis dalam bentuk cerpen, kalau kalian sedih kemarilah, text ini akan memeluk kalian. Karena saat aku sedih, text ini juga memelukku.
FIGHTING!!!