Di sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh kebun-kebun hijau dan sungai yang mengalir tenang, hiduplah seorang pemuda bernama Adrian.
Adrian adalah seorang pemuda Kristen yang penuh semangat, dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Dia punya impian besar untuk jadi arsitek, membangun gedung-gedung megah yang bisa mengubah wajah kota. Namun, di balik semua impian dan ambisinya, ada satu hal yang lebih penting baginya: cinta.
Cinta itu datang dalam wujud seorang gadis bernama Zara. Zara adalah seorang Muslimah yang anggun, dengan mata yang bersinar seperti bintang di malam hari.
Dia adalah sosok yang penuh kasih, selalu siap membantu siapa pun yang membutuhkan. Mereka bertemu di sebuah acara komunitas di kota mereka, di mana Adrian terpesona oleh senyumnya yang tulus.
"Eh, kamu Zara, kan?" tanya Adrian, berusaha terdengar santai meskipun jantungnya berdebar kencang.
"Iya, aku Zara. Dan kamu pasti Adrian, si arsitek impian itu," jawab Zara dengan senyum manis, membuat Adrian merasa seolah-olah dunia berhenti sejenak.
Sejak saat itu, mereka mulai menghabiskan waktu bersama. Mereka berbagi cerita, tawa, dan mimpi. Setiap pertemuan terasa seperti sebuah petualangan baru, dan mereka berdua merasakan ikatan yang semakin kuat.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ada bayang-bayang yang mengintai—perbedaan agama yang bisa menjadi penghalang bagi cinta mereka.
Suatu sore, saat mereka duduk di tepi sungai, Adrian mengajak Zara berbicara. "Zar, kamu ngerasa kan diantara kita ada kata lebih dari sekedar teman?" katanya, suaranya penuh keraguan.
Zara menunduk, menggigit bibirnya. "Iya, Dri, aku juga tau, tapi mau gimana lagi? Halangan kita, agama dri...emang kamu yakin kita yang berbeda bisa bersatu? Cinta bisa ngubah segalanya kan? "
Adrian mengangguk, tetapi hatinya terasa berat. "Ya aku pengen percaya soal itu Zar, tapi...terkadang dunia gak nerima ini semua, gimana kalo nanti ortu kita gak nerima.."
Zara menghela napas, matanya berbinar dengan keyakinan. "Kita belum coba, jadi kita gatau jawabanya...kita usaha dulu yuk? Kita jelasin baik baik ke keluarga kita, mungkin mereka bisa ngerti?"
Malam itu, mereka berdua berjanji untuk saling mendukung, apapun yang terjadi. Mereka tahu bahwa cinta mereka adalah sesuatu yang langka dan berharga, dan mereka tidak ingin melepaskannya begitu saja.
Hari-hari berlalu, dan cinta mereka semakin dalam. Mereka menjelajahi kota bersama, berbagi makanan favorit, dan merencanakan masa depan. Namun, saat mereka mulai berbicara tentang keluarga, ketegangan mulai muncul.
Suatu malam, saat mereka duduk di kafe favorit mereka, Adrian mengungkapkan kekhawatirannya. "Zar, aku pengen kita bisa berbagi hidup bareng. Tapi aku takut kalau keluarga kita nggak bakal nerima kita."
Zara menatap Adrian dengan penuh pengertian. "Aku tahu, Dri. Tapi kita harus berani. Kita harus tunjukkin ke mereka bahwa cinta kita tulus.."
Adrian mengangguk, tetapi hatinya masih dipenuhi keraguan. Dia tahu bahwa cinta mereka adalah sesuatu yang indah, tetapi dunia di luar sana bisa sangat kejam. Dia tidak ingin kehilangan Zara, tetapi dia juga tidak ingin menyakiti keluarganya.
Suatu hari, Zara mengajak Adrian untuk bertemu dengan keluarganya. "Kalo aku pengen ketemu ortu kamu gimana Zar? Mungkin itu bisa bantu kita? ," katanya dengan semangat.
Adrian merasa gugup, tetapi dia tidak ingin mengecewakan Zara. "Boleh kok, Dri...aku coba bujuk ortu aku dulu ya? " jawabnya, berusaha untuk terdengar percaya diri.
Hari pertemuan itu tiba, dan Adrian merasa seperti akan menghadapi ujian terbesar dalam hidupnya. Dia mengenakan pakaian terbaiknya dan berusaha untuk tampil sebaik mungkin. Saat dia tiba di rumah Zara, dia disambut dengan hangat oleh keluarganya.
"Aduhh, selamat datang selamat datang...Adrian kan? Zara sering cerita soalnya" kata ayah Zara, tersenyum ramah.
Adrian merasa sedikit lega, tetapi dia tahu bahwa ini baru permulaan.Hanya ada obrolan ringan dihari itu... Hanya ada canda tawa, Adrian dan Zara belum berani untuk memberitahu hubungan mereka
---
Hari-hari setelah pertemuan itu terasa semakin berat. Zara dan Adrian berusaha untuk tetap berkomunikasi, tetapi ketegangan di antara mereka semakin terasa. Zara sering terlihat merenung, dan Adrian merasa semakin cemas. Mereka berdua tahu bahwa pertemuan dengan keluarga Zara adalah langkah pertama, tetapi tantangan yang lebih besar masih menunggu.
Suatu malam, saat mereka duduk di bangku taman, Adrian mengeluarkan isi hatinya. "Zara, aku merasa kita harus berbicara lagi dengan orang tuamu. Kita tidak bisa terus bersembunyi dari kenyataan ini."
Zara menatap Adrian, matanya penuh ketegangan. "Aku tahu, tapi aku takut. Apa yang akan mereka katakan? Apa mereka akan menerima kita?"
"Kita tidak akan tahu jika kita tidak mencobanya. Kita harus berani, Zara. Cinta kita layak untuk diperjuangkan," jawab Adrian, berusaha meyakinkan Zara.
Setelah beberapa hari berpikir, Zara akhirnya setuju. "Oke, kita lakukan. Tapi kita harus siap dengan segala kemungkinan."
Hari pertemuan itu tiba, dan Adrian merasa seperti akan menghadapi ujian terbesar dalam hidupnya. Dia mengenakan pakaian terbaiknya dan berusaha untuk tampil sebaik mungkin. Saat dia tiba di rumah Zara, dia disambut dengan hangat oleh keluarganya, tetapi dia tahu bahwa suasana hati mereka tidak sehangat sambutan itu.
"Selamat datang, Adrian. Zara bilang kalian ingin bicara," kata ayah Zara, suaranya tegas.
Zara menggenggam tangan Adrian, dan mereka berdua saling menatap. "Bu, Ayah, ada yang mau kami bicarakan," katanya, suaranya sedikit bergetar.
Adrian merasakan ketegangan di udara. "Kami ingin memberitahu kalian tentang hubungan kami," katanya, berusaha untuk terdengar tenang.
Ibu Zara menatap mereka dengan penuh perhatian. "Hubungan? Maksud kalian, hubungan apa?"
Zara menatap Adrian, lalu kembali ke orang tuanya. "Kami saling mencintai. Dan kami ingin kalian tahu bahwa kami ingin bersama meskipun ada perbedaan agama."
Suasana di ruangan itu seolah membeku. Ayah Zara mengerutkan keningnya, sementara ibu Zara tampak terkejut. "Zara, kamu tahu betapa pentingnya keyakinan kita, kan?" tanya ayahnya, suaranya tegas.
"Ya, Ayah. Aku tahu. Tapi cinta itu juga penting. Adrian adalah orang yang baik, dan aku percaya dia bisa menghargai keyakinanku," jawab Zara, berusaha meyakinkan orang tuanya.
Adrian merasa jantungnya berdebar kencang. "Saya menghormati keyakinan kalian. Saya tidak ingin mengubah Zara, saya hanya ingin mencintainya," katanya, berusaha untuk terdengar meyakinkan.
Ibu Zara menatap Adrian dengan lembut. "Kami menghargai perasaan kalian, tapi ini bukan hal yang mudah. Kami ingin yang terbaik untuk Zara."
Adrian merasa harapannya mulai memudar. "Saya mengerti, Bu. Tapi saya berharap kalian bisa memberi kami kesempatan."
Setelah beberapa saat hening, ayah Zara berbicara. "Kami perlu waktu untuk memikirkan ini. Ini bukan keputusan yang bisa diambil dengan cepat."
Zara tampak kecewa, tetapi dia berusaha untuk tetap tegar. "Aku hanya ingin kalian tahu bahwa aku mencintai Adrian. Itu tidak akan berubah."
Setelah pertemuan yang menegangkan itu, Adrian dan Zara keluar dari rumah. "Maaf, aku nggak mau bikin suasana jadi canggung," kata Adrian, merasa bersalah.
"Enggak, itu bukan salahmu. Aku tahu ini sulit. Tapi kita harus tetap berjuang," jawab Zara, berusaha tersenyum meskipun matanya terlihat berkaca-kaca.
Namun, seiring berjalannya waktu, ketegangan semakin meningkat. Zara merasa tertekan oleh harapan orang tuanya dan rasa cintanya kepada Adrian.
Suatu malam, saat mereka bertemu di taman, Zara mengeluarkan isi hatinya. "Adrian, aku merasa kita harus memberi jarak satu sama lain. Ini terlalu sulit."
Adrian terkejut. "Zara, jangan bilang begitu. Kita sudah berjuang sejauh ini. Aku tidak ingin kehilanganmu."
"Aku juga tidak mau kehilanganmu, tetapi aku tidak ingin menyakiti keluargaku. Mereka tidak bisa menerima kita," jawab Zara, air mata mengalir di pipinya.
Adrian merasa hatinya hancur. "Tapi kita bisa mencari cara. Kita bisa menjelaskan semuanya kepada mereka."
Zara menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu apakah itu akan berhasil. Mungkin ini adalah yang terbaik untuk kita."
Malam itu, mereka berpisah dengan hati yang berat. Adrian pulang dengan perasaan hampa, sementara Zara menatap langit malam, berharap bintang-bintang bisa memberikan jawaban atas semua kebingungan yang ada di hatinya.
Hari-hari berlalu, dan meskipun mereka berusaha untuk tetap berkomunikasi, rasa sakit dari perpisahan itu terus menghantui mereka.
Adrian mencoba untuk fokus pada kuliahnya, tetapi setiap kali dia melihat tempat-tempat yang mereka kunjungi bersama, kenangan indah itu kembali menghantui pikirannya.
Suatu sore, saat Adrian duduk di bangku taman tempat mereka biasa bertemu, dia menerima pesan dari Zara. "Adrian, aku sudah berbicara dengan keluargaku. Mereka tidak bisa menerima kita. Aku rasa kita harus benar-benar berpisah."
Air mata mengalir di pipi Adrian saat membaca pesan itu. "Zara, aku tidak bisa. Aku mencintaimu. Kita bisa mencari cara lain," balasnya, tetapi hatinya tahu bahwa ini adalah akhir dari segalanya.
Zara membalas, "Aku juga mencintaimu, Adrian. Tapi kita tidak bisa terus berjuang melawan arus. Ini adalah keputusan yang paling sulit dalam hidupku, tetapi aku harus melakukannya."
Adrian merasa seolah-olah semua harapan dan impian mereka hancur dalam sekejap. "Aku akan selalu mencintaimu, Zara. Tidak peduli apa pun yang terjadi," tulisnya, meskipun dia tahu bahwa kata-kata itu tidak akan mengubah kenyataan.
Mereka berdua tahu bahwa cinta mereka adalah sesuatu yang langka dan berharga, tetapi dunia di luar sana tidak selalu menerima perbedaan.
Dengan hati yang hancur, mereka memutuskan untuk melanjutkan hidup masing-masing, meskipun rasa sakit dari perpisahan itu akan selalu membekas di hati mereka.
Zara berusaha untuk fokus pada studinya dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarganya, berusaha untuk memenuhi harapan yang telah ditetapkan.
Sementara itu, Adrian mencoba untuk menemukan kembali semangatnya dalam kuliah dan hobi-hobinya, meskipun setiap langkah terasa berat tanpa kehadiran Zara di sisinya.
Mereka berdua menjalani hari-hari yang penuh kenangan, mengenang momen-momen indah yang pernah mereka bagi. Meskipun terpisah, cinta mereka tetap hidup dalam ingatan, menjadi pelajaran berharga tentang arti pengorbanan dan ketulusan.
Waktu berlalu, dan meskipun luka di hati mereka perlahan-lahan sembuh, mereka tahu bahwa cinta pertama tidak akan pernah terlupakan. Zara dan Adrian belajar untuk menghargai perjalanan yang telah mereka lalui, meskipun tidak berujung bahagia seperti yang mereka harapkan.
Akhirnya, mereka berdua menemukan jalan masing-masing, dengan harapan bahwa suatu hari, di masa depan, mereka bisa saling bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik, di mana cinta mereka bisa diterima tanpa ada batasan.
Dengan senyuman yang penuh harapan, mereka melangkah maju, membawa kenangan indah itu dalam hati mereka selamanya.
---
TAMAT
Kata-kata buat para pembaca
"Mencintai dalam perbedaan itu perjuangan, dan Cinta itu seperti pelangi, indah namun rapuh. "
- Monat
Mampir ke akun wattpad
@mondliucht (Monat)
DON'T REPOST❌‼️
Sekian
.....