Di sebuah kota kecil yang terletak di antara pegunungan, ada sebuah kedai kopi yang selalu ramai di setiap sore. Di sinilah aku pertama kali bertemu dengan Lila. Gadis itu datang setiap hari, duduk di pojok dekat jendela, dengan secangkir kopi panas di tangannya. Dia selalu melihat keluar, menatap langit yang mulai merona dengan warna oranye dan merah.
Hari itu, seperti biasa, aku duduk di meja dekat pintu. Pandanganku teralihkan ketika seorang lelaki tua masuk ke kedai. Ia berjalan menuju meja Lila dan memberi sebuah bunga mawar merah. Lila tersenyum lembut, menerima bunga itu dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Itu adalah ayahnya, aku tahu, karena keduanya memiliki tatapan yang sama.
Aku hanya bisa tersenyum dalam diam, merasakan sesuatu yang hangat mengalir di dadaku. Ternyata, setiap orang memiliki kisah yang tak selalu tampak di permukaan. Setelah beberapa menit, Lila berdiri dan berjalan ke arah pintu, meninggalkan kedai dengan bunga itu di tangannya.
Aku berdiri dan mengikuti langkahnya, tanpa tujuan. Hanya ingin tahu ke mana dia akan pergi. Tak lama kemudian, dia berhenti di sebuah taman kecil di ujung jalan, di sana, dia duduk di bawah pohon besar. Aku berdiri agak jauh, mengamatinya tanpa berkata-kata.
Tiba-tiba, Lila menoleh dan melihatku. Ada senyum ringan di wajahnya, namun ada kesedihan yang tak bisa disembunyikan. Aku mendekat dan duduk di sebelahnya. Kami hanya diam untuk beberapa saat, menikmati keheningan yang terasa nyaman.
"Kenapa selalu datang ke sini?" tanyaku akhirnya.
Lila menatap bunga di tangannya, lalu mengangkat bahu pelan. "Tempat ini membuatku merasa dekat dengan mereka," jawabnya, matanya berbicara lebih banyak dari kata-kata.
Aku mengerti. Kadang, kita membutuhkan tempat untuk mengingat seseorang yang sudah pergi. Tempat yang bisa memberi ketenangan di tengah keramaian hidup.
"Apakah kamu pernah merasa kehilangan?" Lila bertanya, suaranya rendah dan tenang.
Aku terdiam. Beberapa kali dalam hidup, aku merasa ada yang hilang, tetapi entah kenapa, aku merasa seperti sedang menemukannya di sini, di samping Lila, di bawah pohon yang sama.
"Sekarang tidak," jawabku pelan, "Karena aku menemukan sesuatu yang lebih berarti."
Lila menatapku, matanya sedikit terkejut. Namun, kemudian dia tersenyum. "Terima kasih," bisiknya, hampir tidak terdengar.
Aku tersenyum kembali, merasakan jantungku berdegup lebih kencang. Entah kenapa, di saat itu, aku merasa seperti sedang berada di tempat yang tepat, dengan orang yang tepat. Bahkan senja yang menanti di langit terasa lebih indah saat kami berdua duduk di sana, berbagi kisah dalam diam.