Di Land of Down yang dikelilingi oleh hutan lebat, hiduplah seorang pemuda bernama Badang. Ia dikenal sebagai sosok yang pendiam dan lebih suka menghabiskan waktu di alam daripada bergaul dengan teman-temannya. Setiap sore, Badang pergi ke tepi sungai yang mengalir jernih, tempat di mana ia bisa merenung dan menikmati keindahan alam.
Suatu hari, saat Badang sedang duduk di tepi sungai, ia melihat sosok seorang gadis yang sedang menggambar di atas batu. Gadis itu memiliki rambut panjang yang tergerai dan mata yang bersinar cerah. Badang merasa tertarik dan mendekatinya. "Apa yang kau gambar?" tanyanya dengan suara pelan.
Gadis itu menoleh dan tersenyum. "Aku menggambar pemandangan ini. Alam di sini sangat indah," jawabnya. Namanya adalah Miya. Sejak saat itu, mereka mulai menghabiskan waktu bersama. Setiap sore, Badang dan Miya bertemu di tepi sungai, berbagi cerita dan impian mereka.
Hari demi hari, pertemanan mereka tumbuh menjadi sesuatu yang lebih. Badang merasa hatinya berdebar setiap kali melihat senyuman Miya. Namun, ia juga merasa ragu. Ia adalah pemuda yang sederhana, sementara Miya tampak seperti bintang yang bersinar di langit. Suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang, Badang memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
"Miya, aku... aku suka padamu," katanya dengan gugup. Miya terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Aku juga merasakan hal yang sama, Badang. Kau adalah teman terbaikku."
Keduanya saling berpegangan tangan, merasakan kehangatan yang mengalir di antara mereka. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Beberapa minggu kemudian, Miya mengumumkan bahwa keluarganya harus pindah ke kota besar karena pekerjaan ayahnya. Badang merasa hatinya hancur. Ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan kesedihannya.
Hari terakhir Miya di desa, mereka duduk di tepi sungai, tempat di mana semua kenangan indah mereka tercipta. "Aku akan merindukanmu, Badang," kata Miya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi kita akan selalu memiliki kenangan ini."
Badang hanya bisa mengangguk, menahan air mata yang ingin jatuh. Saat Miya pergi, ia merasa seolah separuh jiwanya hilang. Ia kembali ke tepi sungai setiap hari, tetapi suasana yang dulu ceria kini terasa sepi dan hampa.
Bertahun-tahun berlalu, Badang tumbuh menjadi seorang pemuda yang bijaksana. Ia masih sering mengunjungi tepi sungai, mengenang Miya dan semua kenangan indah yang mereka bagi. Suatu hari, saat ia duduk di sana, ia melihat seorang gadis yang mirip dengan Miya. Hatinya berdebar, tetapi saat gadis itu mendekat, ia menyadari bahwa itu bukan Miya.
Badang tersenyum, mengenang cinta pertamanya. Ia menyadari bahwa meskipun Miya telah pergi, kenangan mereka akan selalu hidup di dalam hatinya. Ia belajar bahwa cinta sejati tidak selalu memiliki akhir yang bahagia, tetapi kenangan yang indah akan selalu menjadi bagian dari diri kita.