Hujan turun deras hari itu, seperti menangisi kepergiannya. Aku berdiri di hadapan pusaranya, memandangi namanya yang terukir rapi di atas batu nisan. Rasanya mustahil dia telah tiada, sosok yang selama ini selalu membuatku merasa hidup.
"Kenapa kamu pergi begitu cepat, Radit?" bisikku pelan, air mata jatuh bercampur dengan rinai hujan.
Tanganku menggenggam erat amplop yang ditemukan di laci mejanya. Surat ini—surat terakhir darinya, yang ditinggalkan untukku. Aku belum membacanya. Ada rasa takut, seolah membuka amplop ini akan mengukuhkan kenyataan bahwa dia benar-benar pergi.
Dengan hati berat, aku akhirnya membuka surat itu. Tulisan tangan Radit yang khas menyambutku, membuat hatiku semakin remuk.
_____
Untukmu, Lila.
Lila,
Kalau kamu membaca ini, berarti aku sudah nggak ada lagi di sampingmu. Maaf, ya. Aku nggak bisa menemanimu lebih lama seperti janjiku dulu. Aku tahu aku orang yang egois, bahkan untuk pamit pun aku hanya bisa lewat surat ini.
Tapi aku ingin kamu tahu sesuatu yang selama ini mungkin nggak pernah aku katakan cukup sering: aku mencintaimu, Lila. Dari dulu, sekarang, sampai selamanya.
Kamu adalah alasan kenapa aku selalu tersenyum, bahkan di saat-saat paling sulit. Kamu yang membuat hari-hariku lebih berarti, yang membuatku percaya bahwa hidupku punya tujuan.
Aku masih ingat pertama kali kita bertemu di perpustakaan itu. Kamu marah karena aku duduk di tempat favoritmu, tapi akhirnya kita malah tertawa bersama. Kamu bilang aku keras kepala, tapi anehnya kamu tetap mau berteman denganku. Sejak hari itu, hidupku berubah.
Aku ingin bilang terima kasih. Terima kasih karena selalu ada untukku, meskipun aku ini cuma orang biasa yang nggak punya banyak hal untuk dibanggakan. Terima kasih karena membuatku merasa dicintai, meskipun aku tahu aku sering menyusahkanmu.
Kalau aku bisa meminta satu hal lagi sebelum pergi, aku ingin kamu bahagia, Lila. Jangan biarkan kepergianku membuatmu berhenti hidup. Dunia ini terlalu indah untuk kamu abaikan. Dan aku ingin kamu terus tersenyum, karena itu adalah hal yang paling aku suka dari dirimu.
Jangan khawatir tentang aku. Aku akan baik-baik saja. Aku akan selalu ada di sini, di dalam hatimu. Dan suatu hari nanti, ketika waktu mempertemukan kita lagi, aku ingin melihat kamu tersenyum sama seperti yang selalu kamu lakukan dulu.
Selamat tinggal, Lila. Aku mencintaimu, lebih dari kata-kata yang bisa menjelaskan.
•Radit.
_____
Aku terisak membaca surat itu, tanganku gemetar memegang kertas yang kini basah oleh air mata. Aku bisa membayangkan Radit duduk di mejanya, menulis surat ini dengan senyuman kecil di wajahnya, meskipun aku tahu hatinya pasti dipenuhi rasa sakit.
"Radit, kenapa kamu selalu memikirkan aku, bahkan di saat kamu sendiri sedang terluka?" tanyaku lirih.
Surat itu adalah hadiah terakhir darinya—sebuah pengingat bahwa meski dia telah pergi, cintanya akan selalu ada di sini, bersamaku.
Aku mendongak ke langit yang masih kelabu. Meskipun hatiku hancur, aku tahu aku harus memenuhi permintaannya. Aku akan hidup, aku akan bahagia, karena itu adalah cara terbaik untuk menghormati cinta yang telah dia berikan padaku.
"Terima kasih, Radit. Aku juga mencintaimu," bisikku pelan, sebelum melangkah pergi, membawa surat itu dan cintanya dalam hatiku selamanya.