Dini berdiri di depan cermin kecil di kamar sempitnya, merapikan seragam kerja yang sudah mulai pudar warnanya. Hari ini adalah hari yang sama seperti kemarin—dan mungkin besok. Jam dinding menunjukkan pukul lima pagi, tapi tubuhnya sudah terbiasa bangun sebelum matahari.
“Dini, sarapan sudah siap!” suara Ibunya terdengar dari dapur.
Dini keluar dari kamar dengan langkah ringan, menemukan Ibu sedang menyendokkan nasi ke piring adiknya, Raka, yang baru berusia tujuh tahun. Wajah Ibu terlihat lelah, tapi senyumnya tetap hangat.
“Raka, makan yang banyak ya, biar pintar di sekolah,” kata Ibu sambil mengelus rambut bocah itu.
Dini hanya bisa mengangguk kecil, menahan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Ibu selalu seperti itu—mengutamakan orang lain, meski dirinya sendiri jelas butuh istirahat.
Sepulang kerja, Dini sering menemukan Ibu sedang menjahit di ruang tamu kecil mereka. Ibu adalah seorang penjahit serabutan, menerima pesanan dari tetangga untuk menghidupi keluarga kecil mereka. Ayah sudah meninggal lima tahun lalu karena kecelakaan, meninggalkan Dini, Ibu, dan Raka untuk bertahan hidup sendiri.
“Ibu, istirahat dulu,” pinta Dini suatu malam ketika melihat tangan Ibu gemetar saat menjahit.
Ibu hanya tersenyum kecil. “Nanti, kalau pesanan ini selesai. Kita butuh uang untuk bayar sekolah Raka.”
Dini ingin membantah, tapi dia tahu tidak ada gunanya. Ibu adalah tipe wanita yang tidak akan berhenti bekerja sampai semua kebutuhan keluarga terpenuhi.
Tapi Dini juga tahu, Ibu menyimpan banyak kesedihan yang tidak pernah diungkapkan.
Suatu malam, Dini pulang lebih larut dari biasanya. Hujan turun deras, dan jalanan becek memaksanya berjalan pelan. Ketika tiba di rumah, dia mendengar suara tangisan pelan dari kamar Ibu.
“Kenapa Ibu menangis?” gumamnya pelan.
Dia berdiri di depan pintu kamar Ibu, ragu untuk mengetuk. Tapi tangisan itu membuat dadanya sesak, hingga akhirnya dia membuka pintu tanpa izin.
“Ibu…”
Ibu terkejut, buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Dini, kamu sudah pulang? Maaf, Ibu nggak dengar.”
Dini berjalan mendekat, duduk di lantai di hadapan Ibu. “Kenapa Ibu nggak pernah cerita? Kalau Ibu sedih, kenapa selalu memendam sendiri?”
Air mata Ibu mengalir lagi, tapi kali ini dia tidak berusaha menyembunyikannya. “Ibu nggak mau kalian khawatir. Dini sudah bekerja keras untuk bantu keluarga, dan Raka masih kecil. Kalau Ibu juga terlihat lemah, siapa yang akan menjaga kalian?”
Dini menggenggam tangan Ibu erat, merasakan betapa kasar dan kerasnya tangan itu setelah bertahun-tahun bekerja tanpa henti. “Tapi, Bu… aku di sini. Aku kuat karena Ibu. Jadi, kalau Ibu lelah, aku ingin jadi tempat Ibu bersandar.”
Ibu terdiam, menatap Dini dengan mata yang basah, sebelum akhirnya memeluknya erat.
Keesokan harinya, Dini memutuskan sesuatu yang sudah lama ia pikirkan. Setelah mengantar Raka ke sekolah, dia berbicara dengan atasannya di pabrik, meminta tambahan pekerjaan di rumah. Dengan begitu, dia bisa membantu Ibu lebih banyak tanpa harus meninggalkan rumah.
Ketika malam tiba, Dini duduk bersama Ibu di ruang tamu. Mereka menjahit bersama, berbagi cerita sambil sesekali tertawa.
“Ibu, mulai sekarang kita kerjakan semuanya sama-sama, ya?” kata Dini.
Ibu tersenyum, matanya masih memancarkan kelelahan, tapi kali ini ada harapan di sana. “Terima kasih, Nak. Ibu bersyukur punya anak sekuat kamu.”
Dini tidak menjawab. Dia hanya terus bekerja, berharap tangannya yang kecil ini bisa meringankan beban di pundak Ibu, meski hanya sedikit.
Karena bagi Dini, Ibu adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dan tidak peduli seberapa keras dunia mencoba menjatuhkan mereka, dia akan memastikan keluarganya tetap berdiri tegak.