Aku pertama kali melihatnya di taman kota, saat senja memeluk langit dengan semburat jingganya. Aku sedang duduk di bangku, menatap buku yang sejak tadi tidak benar-benar kubaca, ketika dia lewat di depanku, menggandeng sepeda dengan keranjang bunga di depannya.
Dia tidak tinggi, dengan rambut hitam yang sedikit berantakan dan senyum yang lebih hangat daripada matahari sore. Langkahnya pelan, seolah dia menikmati setiap detik yang berlalu. Aku tidak bisa mengalihkan pandangan.
Tanpa sadar, aku menggenggam buku lebih erat. Bukan karena gugup, tapi karena aku tahu, entah bagaimana, orang ini akan membuat hariku berubah.
Kami bertemu lagi seminggu kemudian. Kali ini dia duduk di bangku yang sama denganku, seolah tak ada tempat lain di taman itu.
“Boleh duduk?” tanyanya, dengan suara yang ringan namun terasa akrab.
Aku mengangguk canggung. “Tentu.”
Dia meletakkan sepedanya di samping bangku, lalu duduk di ujung, menjaga jarak yang sopan. Kami terdiam selama beberapa saat, hanya ditemani suara burung dan angin yang berbisik di antara dedaunan.
“Sering ke sini?” tanyanya memecah keheningan.
Aku menoleh, mendapati matanya yang teduh sedang menatapku. “Kadang-kadang. Kalau butuh tempat tenang.”
Dia tersenyum, lalu menunjuk ke arah buku di pangkuanku. “Baca apa?”
Aku menunjukkan sampulnya. Sebuah novel klasik yang tak begitu populer. Dia mengangguk, seolah paham, lalu berkata, “Aku suka puisi. Kadang datang ke sini buat nulis.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, dia mengulurkan tangan. “Namaku Arya.”
Aku menyambut uluran tangannya dengan ragu. “Lila.”
Dan itulah awalnya.
Hari-hari berlalu, dan pertemuan di taman itu menjadi kebiasaan. Kami tidak pernah membuat janji, tapi selalu saja bertemu di waktu yang sama, di bangku yang sama.
Arya sering membacakan puisi yang dia tulis, sementara aku mendengarkan sambil sesekali menyisipkan komentar. Dia punya cara bercerita yang membuat setiap kata terasa hidup.
“Aku ingin jadi penulis,” katanya suatu hari.
Aku menatapnya, terpesona oleh keyakinan di matanya. “Kenapa?”
“Karena aku ingin orang-orang tahu bahwa keindahan itu ada di mana-mana. Di senja, di taman, bahkan di mata orang yang kita temui,” jawabnya sambil menatapku.
Aku merasa pipiku memanas, tapi aku pura-pura tidak mengerti maksudnya.
Hubungan kami tumbuh pelan, seperti pohon yang akarnya semakin kuat setiap hari. Arya mulai mengajakku bersepeda keliling taman, atau duduk di kafe kecil di dekatnya.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah aku ungkapkan padanya: aku akan pergi.
Aku diterima di universitas di luar kota, dan dalam dua minggu, aku harus meninggalkan semuanya—termasuk Arya.
Aku tidak tahu bagaimana cara memberitahunya. Bagaimana cara mengucapkan selamat tinggal pada seseorang yang telah membuatku merasa hidup untuk pertama kalinya.
Hubungan kami tumbuh pelan, seperti pohon yang akarnya semakin kuat setiap hari. Arya mulai mengajakku bersepeda keliling taman, atau duduk di kafe kecil di dekatnya.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah aku ungkapkan padanya: aku akan pergi.
Aku diterima di universitas di luar kota, dan dalam dua minggu, aku harus meninggalkan semuanya—termasuk Arya.
Aku tidak tahu bagaimana cara memberitahunya. Bagaimana cara mengucapkan selamat tinggal pada seseorang yang telah membuatku merasa hidup untuk pertama kalinya.
Hari terakhirku di taman, aku datang lebih awal dari biasanya. Arya muncul beberapa menit kemudian, dengan senyum yang seperti biasa menghiasi wajahnya.
“Tadi aku menulis sesuatu,” katanya, menyerahkan selembar kertas padaku.
Aku membaca perlahan, menyerap setiap kata:
"Senja hari ini lebih manis, karena ada kamu di sini. Tapi kalau suatu hari kamu pergi, aku harap kamu tahu, aku akan tetap menulis untukmu."
Aku menahan air mata yang mulai menggenang. “Arya…”
Dia menatapku dengan pandangan bertanya.
“Aku harus pergi,” kataku pelan. “Aku diterima di universitas di luar kota. Aku… aku tidak tahu kapan bisa kembali.”
Wajahnya berubah. Senyumnya memudar, digantikan oleh keheningan yang menggantung di antara kami.
“Tapi…” dia akhirnya bicara, suaranya serak. “Kamu akan kembali, kan?”
Aku tidak menjawab. Karena aku tidak tahu jawabannya.
Hari itu, aku meninggalkan taman dengan perasaan hancur. Tapi saat aku membuka lembaran kertas yang Arya berikan, aku tahu dia akan selalu ada di hatiku.
"Ke manapun kamu pergi, senja akan selalu mengingatkanmu pada rumah yang pernah kamu temukan di sini. Dan di hatiku, kamu akan selalu menjadi puisi terindah."