Suara piring pecah terdengar lagi di ruang makan. Aku memutuskan untuk menutup pintu kamar lebih rapat, meski tahu itu takkan banyak membantu. Suara teriakan Ayah dan tangisan Ibu terus menyusup melalui celah pintu.
Aku duduk di sudut tempat tidur, memeluk lutut, mencoba meredam kegelisahan dengan menyumpal telinga menggunakan earphone. Tapi aku tahu, tidak ada lagu yang bisa benar-benar menghapus kebisingan itu dari kepalaku.
"Kenapa aku harus pulang?" tanyaku pelan pada diriku sendiri.
Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku baru saja selesai mengerjakan tugas matematika ketika suara pertengkaran itu dimulai. Bukan hal baru. Hampir setiap malam rasanya seperti ini.
Besok pagi, Ayah dan Ibu akan bersikap seperti tak ada yang terjadi. Ayah akan membaca koran, Ibu sibuk di dapur, seolah semalam hanyalah mimpi buruk yang tak nyata. Aku tahu mereka mencintaiku, tapi kehadiran mereka yang terus saling menyakiti justru membuat rumah ini terasa dingin.
Namun, ada satu tempat yang selalu membuatku merasa hangat: sekolah.
Pagi itu, aku melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan langkah berat. Tapi saat mendengar suara khas Mia memanggilku, semua beban yang menumpuk di dadaku terasa sedikit lebih ringan.
"Raihan! Cepat ke sini! Raka hampir jatuh dari pagar, hahaha!" seru Mia sambil tertawa, menunjuk ke arah Raka yang benar-benar sedang kehilangan keseimbangan.
Aku mendekat, ikut tertawa saat Raka melompat turun dengan muka kesal. "Hei, aku cuma latihan buat olahraga parkour!" katanya, mencoba membela diri.
"Parkour apanya? Kayak anak TK yang baru belajar manjat!" ejek Andra, teman satu geng yang selalu suka menggoda Raka.
Kami bertiga langsung tertawa terbahak-bahak, meski Raka pura-pura cemberut. Aku tidak tahu apa yang membuat momen seperti ini begitu berarti bagiku. Mungkin karena mereka selalu membuatku merasa dilihat. Dihargai.
"Eh, nanti jangan lupa, lho," ujar Mia tiba-tiba sambil mengingatkan kami.
"Lupa apa?" tanyaku bingung.
"Tugas kelompok di rumahku sore ini. Jangan telat, Raihan!" katanya sambil menunjuk ke arahku dengan ekspresi setengah mengancam.
"Oh iya, iya. Pasti datang," jawabku sambil mengangguk.
Rumah Mia berbeda dengan rumahku. Ayahnya menyambut kami dengan ramah di depan pintu, Ibunya menyiapkan camilan di meja makan, dan adiknya yang kecil sesekali berlari-lari melewati ruang tamu sambil tertawa. Rumah itu penuh suara, tapi tidak terasa bising seperti rumahku.
Ketika kami duduk bersama untuk menyelesaikan tugas, aku sesekali melirik ke sekeliling ruangan. Ada sesuatu yang hangat dan nyaman di sana. Sesuatu yang tidak pernah aku temukan di rumahku sendiri.
"Hei, Raihan! Kok ngelamun sih? Ayo kerjain!" seru Mia sambil menyikut lenganku.
Aku tersentak, lalu tersenyum kecil. "Maaf, kepikiran soal soalannya tadi."
Kami menyelesaikan tugas dengan tawa dan candaan yang tak pernah berhenti. Saat malam tiba dan waktu pulang tiba, aku berdiri di depan pintu rumah Mia, ragu untuk melangkah keluar.
"Ayo, hati-hati di jalan," kata Mia sambil melambaikan tangan.
Aku tersenyum, mengangguk, lalu melangkah pergi. Tapi sebelum benar-benar jauh, aku berhenti dan menoleh. "Mia, Raka, Andra… terima kasih, ya."
Mia mengerutkan dahi. "Untuk apa?"
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Jadi aku hanya menggeleng dan berkata, "Pokoknya, terima kasih."
Aku tahu aku tidak bisa memilih keluarga tempatku dilahirkan. Tapi aku bisa memilih di mana aku merasa paling hidup. Di mana aku merasa pulang.
Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat di mana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Tapi bagiku, rumah adalah tempat di mana aku merasa diterima. Rumah adalah Mia, Raka, dan Andra. Mereka adalah rumahku.