Kehidupan di kota kecil itu seperti biasa—tenang, membosankan, dan monoton. Penduduknya adalah orang-orang yang hidup tanpa banyak drama, sibuk dengan rutinitas sehari-hari. Namun, semua berubah ketika berita tentang asteroid besar yang akan menghantam Bumi dalam tujuh hari muncul di seluruh saluran berita.
Di rumah kecil di pinggir kota, seorang remaja bernama Aria duduk termenung di atas tempat tidurnya. Wajahnya yang biasanya ceria terlihat murung. Di tangannya, ia memegang selembar surat dari ibunya, yang meninggal beberapa tahun lalu. Surat itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa terhubung dengan ibunya di saat seperti ini.
"Jika aku tahu waktuku akan segera habis, aku akan memanfaatkan setiap detiknya," tulis ibunya di surat itu.
Kata-kata itu terus terngiang di kepala Aria. Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berarti dalam tujuh hari terakhir hidupnya. Ia tidak ingin menghabiskan waktunya dengan rasa takut atau penyesalan.
Hari Pertama
Aria memulai harinya dengan mengunjungi sahabatnya, Mira. Mira adalah orang yang selalu ada untuknya, tetapi belakangan mereka jarang berbicara karena kesibukan masing-masing. Ketika Aria mengetuk pintu rumah Mira, sahabatnya itu membuka pintu dengan mata sembab.
"Hei," kata Aria pelan.
Mira memeluknya erat. "Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi ini, Aria."
"Kita tidak bisa mengubah apa yang akan terjadi. Tapi kita bisa memutuskan bagaimana menghabiskan waktu kita," jawab Aria.
Mereka menghabiskan hari itu di taman, berbicara tentang kenangan masa kecil mereka. Mereka tertawa, menangis, dan untuk sesaat, melupakan bahwa dunia akan segera berakhir.
Hari Kedua
Aria memutuskan untuk mengunjungi ayahnya yang tinggal di kota sebelah. Hubungan mereka selama ini renggang sejak ibunya meninggal. Ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang menghabiskan waktu bersama Aria.
Ketika ia tiba di rumah ayahnya, pria itu tampak terkejut melihat putrinya berdiri di depan pintu.
"Aria? Ada apa?" tanyanya.
"Ayah, aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu," jawab Aria.
Mereka berbicara panjang lebar malam itu. Aria akhirnya mengungkapkan semua perasaannya—tentang kesepian yang ia rasakan setelah ibunya pergi, tentang betapa ia merindukan perhatian ayahnya. Pria itu mendengarkan dengan penuh penyesalan dan berjanji untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa.
Hari Ketiga
Di hari ketiga, Aria memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Ia mengumpulkan teman-temannya di sekolah dan mengajak mereka melakukan kegiatan sosial. Mereka membagikan makanan kepada orang-orang yang membutuhkan, membersihkan taman kota, dan membuat mural besar di dinding kosong dengan pesan: Cinta adalah jawaban untuk segalanya.
Penduduk kota mulai bergabung dengan mereka. Dalam waktu singkat, seluruh kota berubah menjadi tempat yang penuh kehangatan dan kebersamaan.
Hari Keempat
Aria merasa ada satu hal yang belum ia lakukan: meminta maaf kepada seseorang yang pernah ia sakiti. Ia mengunjungi rumah Raka, mantan sahabatnya yang ia jauhi sejak setahun lalu karena kesalahpahaman.
"Raka, aku ingin minta maaf. Aku tahu aku salah waktu itu. Aku tidak ingin hari-hari terakhir ini berlalu tanpa aku memperbaiki hubungan kita," kata Aria.
Raka terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Aku juga minta maaf. Mungkin ini kesempatan kita untuk memulai lagi."
Mereka menghabiskan hari itu dengan berbicara dan mengenang masa-masa mereka masih bersahabat.
Hari Kelima
Aria kembali ke rumahnya dan memutuskan untuk menulis surat untuk dirinya sendiri. Surat itu berisi semua pelajaran yang ia dapatkan selama tujuh hari terakhir.
"Aria, hidup bukan tentang berapa lama kita hidup, tapi tentang bagaimana kita memanfaatkan setiap detiknya. Jangan pernah menunggu sampai terlambat untuk menunjukkan cinta dan kebaikan."
Ia menyimpan surat itu di dalam kotak kenangan ibunya, berharap seseorang suatu hari akan menemukannya.
Hari Keenam
Hari itu, Aria menghabiskan waktu bersama orang-orang yang ia cintai. Mereka berkumpul di sebuah bukit di luar kota, menyaksikan matahari terbenam yang terasa lebih indah dari biasanya.
"Terima kasih sudah ada di hidupku," kata Aria kepada mereka.
Mereka saling berpelukan, tertawa, dan menangis bersama. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah hari ketujuh, tapi mereka merasa damai karena mereka telah menjalani hari-hari terakhir mereka dengan penuh makna.
Hari Ketujuh
Hari terakhir tiba. Langit tampak berbeda—lebih gelap, lebih sunyi. Penduduk kota berkumpul di alun-alun, saling menguatkan satu sama lain.
Aria berdiri di tengah kerumunan, memandang wajah-wajah yang penuh harapan meski mereka tahu apa yang akan datang. Ia merasa tenang, karena ia telah melakukan yang terbaik dalam hidupnya.
Ketika asteroid mendekat, langit dipenuhi cahaya yang menakjubkan, seolah memberi perpisahan yang indah kepada dunia.
Aria memejamkan mata, memegang tangan Mira di satu sisi dan ayahnya di sisi lain. Ia tersenyum, merasa puas karena ia telah menjalani tujuh hari terakhirnya dengan penuh cinta dan keberanian.
Dan kemudian, semuanya menjadi gelap.