Satrio dan Agam telah berteman sejak SMA. Mereka berdua memiliki kepribadian yang berbeda, tetapi mereka selalu mendukung satu sama lain. Satrio adalah orang yang lebih terbuka dan ekspresif, sedangkan Agam lebih tertutup dan pemikir.
Setelah lulus SMA, mereka berdua memilih jalan yang berbeda. Satrio memilih untuk kuliah di jurusan seni, sedangkan Agam memilih untuk kuliah di jurusan ekonomi. Meskipun mereka berdua memiliki minat yang berbeda, mereka tetap menjaga hubungan pertemanan yang baik.
Saat mereka berdua telah selesai kuliah dan mulai memasuki dunia kerja. Satrio bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Luna di galerinya. Luna adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang magang di galeri Satrio, Luna memiliki kepribadian yang mirip dengan Satrio. Mereka berdua langsung akrab dan sering menghabiskan waktu bersama.
Sementara itu, Agam juga bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Maya di kantornya. Maya adalah seorang karyawan baru di perusahaan Agam yang memiliki kepribadian mirip dengan Agam. Mereka berdua pun langsung akrab dan sering menghabiskan waktu bersama.
Satrio dan Agam selalu berbagi cerita. Mereka selalu menceritakan apa saja yang terjadi pada mereka, walau jarang ketemu karena kesibukan masing-masing. Tapi tak ada waktu untuk tak bicara, keduanya selalu punya cara untuk saling berkomunikasi.
Keduanya tiba-tiba saling bertengkar dan bermusuhan karena merasa di khianati. Pertengkaran mereka berdua dipicu karena asmara. Karena Agam pernah melihat Satrio dengan wanita yang dia cintai, dan Satrio mempertahankan pendapat kalau dia jalan dengan wanitanya sendiri.
"Kenapa harus dia, Sat? Dia adalah wanita yang aku cintai." ucap Agam, dengan suara bergetar menahan amarah.
"Wanita yang kamu cintai? Dia adalah wanitaku, bukankah aku sering bilang kalau dia adalah kekasihku yang sudah aku pacari sejak setahun lalu." Satrio bersih keras.
Baik Satrio atau Agam merasa bingung, mereka tak tau harus bagaimana dan harus mengambil keputusan yang mana. Karena mereka tak ingin kehilangan cinta juga gak ingin kehilangan teman.
Dalam kegelisahan, mereka terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mereka saling bertanya dalam hati mereka, dan mulai mempertanyakan kesetiaan pacar mereka.
Baik Satrio dan Agam, mulai bingung. Karena menurut cerota mereka Maya dan Luna memiliki kepribadian yang berbeda. Tapi batin mereka terus bertanya soal apa yang telah mereka ributkan.
Suatu hari, tanpa disengaja Satrio dan Agam bertemu di sebuah kafe. Satrio pun menceritakan tentang Luna dan bagaimana dia jatuh cinta dengan gadis itu. Agam juga menceritakan tentang Maya dan bagaimana dia jatuh cinta dengannya.
Tiba-tiba, Satrio dan Agam menyadari bahwa mereka berdua telah jatuh cinta dengan orang yang tidak tepat. Mereka berdua merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Agam, aku rasa kita telah membuat kesalahan," kata Satrio dengan nada yang sedih.
"Aku juga rasa begitu, Satrio," jawab Agam dengan nada yang sama sedihnya.
Mereka berdua diam sejenak, mencoba untuk memikirkan apa yang harus dilakukan. Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk berbicara dengan pasangan mereka tentang perasaan mereka. Karena baik Satrio dan Agam tak ingin dibutakan oleh cinta.
Satrio tak ingin hubungan pertemanan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun dengan Agam hancur gara-gara wanita. Begitu juga dengan Agam, dia tidak ingin kehilangan pertemanannya dengan Satrio.
Akhirnya, Satrio dan Agam memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dengan pacar mereka. Mereka berdua menyadari bahwa mereka telah membuat kesalahan, tetapi mereka juga menyadari bahwa mereka telah belajar dari kesalahan tersebut.
Satu tahun kemudian, Satrio dan Agam datang ke acara nikahan teman SMA mereka. Mereka pun juga bertemu dengan Maya dan Luna, keduanya kaget dan tak percaya kalau ternyata Maya dan Luna ada dua orang dan keduanya saudara kembar.
Satrio dan Agam merasa canggung karena sudah lama tak bertemu dan bicara. Terlebih lagi pernah berselisih gara-gara salah paham, karena berfikir kalau dikhianati gara-gara mencintai saudara kembar.
Satrio dan Agam kembali menjadi teman seperti dulu, tetapi kali ini mereka berdua lebih dewasa dan lebih bijak. Mereka berdua menyadari bahwa persimpangan hati dapat terjadi kapan saja, tetapi mereka juga menyadari bahwa mereka dapat belajar dari kesalahan tersebut dan menjadi lebih baik.