Di tengah sibukanya kota, hiduplah seorang penulis muda bernama Rina. Rina memiliki impian besar untuk menjadi penulis terkenal, namun setiap kali ia duduk di depan laptopnya, jari-jarinya seolah beku. Ide-ide yang berputar di kepalanya selalu gagal terwujud menjadi sebuah cerpen yang utuh.
Suatu sore, Rina memutuskan untuk pergi ke kafe kecil di sudut jalan. Kafe itu adalah tempat favoritnya, di mana aroma kopi dan kue-kue segar selalu mengundang inspirasi. Ia duduk di sudut jendela, menatap keluar sambil mengaduk kopi panasnya. Di luar, hujan mulai turun, menciptakan suasana yang tenang dan damai.
Saat Rina menatap hujan, pikirannya melayang pada sosok lelaki yang selalu menghantui pikirannya—Dimas. Dimas adalah teman masa kecilnya, seorang seniman yang selalu bisa mengekspresikan perasaannya dengan mudah. Rina sering merasa cemburu pada Dimas, yang bisa menggambar dengan indah sementara ia sendiri terjebak dalam kebuntuan kata-kata.
“Kenapa kamu tidak menulis tentang kita?” Dimas pernah bertanya suatu malam, saat mereka duduk di bangku taman. “Kita punya banyak cerita, Rina.”
“Tapi, aku tidak bisa,” jawab Rina, merasa frustasi. “Setiap kali aku mencoba, semuanya terasa hampa.”
Hari itu, saat hujan turun deras, Rina teringat kembali pada kata-kata Dimas. Ia mengeluarkan laptopnya dan mulai mengetik. Namun, alih-alih menulis cerpen, ia justru menulis tentang kegagalannya. Tentang bagaimana ia selalu merasa terjebak dalam rutinitas, tentang rasa cemburu yang menggerogoti hatinya, dan tentang Dimas yang selalu bisa membuatnya tersenyum.
“Ini bukan cerpen,” gumamnya pada diri sendiri. “Ini hanya curahan hati.”
Namun, saat ia membaca kembali tulisannya, Rina merasakan sesuatu yang berbeda. Ada kejujuran dalam kata-katanya, sebuah keindahan yang tidak pernah ia temukan sebelumnya. Ia menulis tentang perasaannya terhadap Dimas, tentang bagaimana ia ingin mengungkapkan cinta yang terpendam, namun selalu terhalang oleh rasa takut.
Hujan semakin deras, dan Rina terus menulis. Setiap kata yang ia ketik seolah mengalir dari hatinya. Ia menulis tentang kenangan-kenangan indah bersama Dimas, tentang tawa dan tangis yang mereka bagi. Ia menulis tentang harapan dan impian, tentang cinta yang tak terucapkan.
Ketika Rina menutup laptopnya, ia merasa lega. Mungkin ini bukan cerpen dalam arti yang sebenarnya, tetapi ini adalah kisahnya. Kisah tentang cinta yang terpendam, tentang kegagalan dan harapan. Ia tersenyum, menyadari bahwa terkadang, yang terpenting bukanlah bentuk atau genre, tetapi kejujuran dalam mengekspresikan perasaan.
Saat Rina meninggalkan kafe, ia melihat Dimas berdiri di luar, menunggu di bawah payung. Hujan masih turun, tetapi senyumnya membuat segalanya terasa hangat. Rina merasa jantungnya berdebar. Ia tahu, inilah saatnya untuk mengungkapkan apa yang selama ini terpendam.
“Dimas,” panggilnya, dan saat Dimas menoleh, Rina merasakan keberanian yang baru. “Aku ingin bercerita tentang kita.”
Dan di tengah hujan yang turun, Rina menyadari bahwa mungkin, ini adalah awal dari cerpen terindah dalam hidupnya—cerpen yang bukan hanya tentang kata-kata, tetapi tentang cinta yang akhirnya menemukan jalannya.
R.H