Malam itu hujan deras, sama derasnya dengan air mata yang mengalir di pipiku. Di sudut kafe kecil tempat kami biasa bertemu, aku duduk sendiri, menatap ponsel yang tak lagi menerima pesan darinya. Dia memilih pergi. Bukan karena aku tak cukup mencintainya, tetapi karena dia tak lagi mencintaiku.
"Maaf," katanya, seminggu lalu, dengan nada yang begitu datar. "Aku menemukan seseorang yang membuatku lebih bahagia."
Bagaimana mungkin? Tiga tahun aku merajut mimpi bersamanya. Aku yang mendengar setiap keluh kesahnya, yang merayakan setiap keberhasilannya. Namun kini, aku hanyalah kenangan yang dilipat rapi dan disimpan di sudut hatinya.
Hujan mereda. Aku memutuskan bangkit, berjalan keluar tanpa tujuan. Langkahku berat, seperti membawa beban dari cerita yang tak lagi memiliki akhir bahagia. Namun di sela-sela kesedihan, aku menyadari sesuatu.
Aku tak kehilangan diriku. Luka ini mungkin pedih, tetapi aku masih punya mimpi, sahabat, dan keluarga yang mencintaiku. Aku akan sembuh. Hati yang hancur pun bisa diperbaiki, perlahan-lahan.
Cinta yang berakhir bukanlah akhir dari segalanya. Ketika hati hancur, jangan lupa bahwa waktu dan cinta untuk diri sendiri dapat menyembuhkan luka. Jangan pernah menyerah untuk bangkit dan menemukan kebahagiaan lagi.