"Akhirnya selesai juga." Ujar Aurel menghela nafas lega.
Gurunya memberikan Aurel tugas yang sangat banyak. Gadis cantik itu melirik jam weker disebelah meja belajarnya, sekarang pukul 12.00 WIB.
"Hoamm...ngantuk banget." Aurel menutup mulutnya dengan tangan. Matanya terasa berat kantuk pun mulai menghampirinya. Aurel merebahkan tubuhnya di ranjang.
Perlahan Aurel terlelap dari tidurnya dan menuju ke alam mimpi.
***
Aurel mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indra penglihatannya. "Sudah bangun." Suara berat seorang pria mengagetkan Aurel.
"K...amu siapa?" tanya Aurel gugup.
Pria itu tidak menjawab malah mendekatkan dirinya ke Aurel. Pria itu menyeringai tajam ke Aurel.
Aurel memundurkan tubuhnya ke belakang, namun pria itu mengunci tubuh Aurel dengan kedua tangannya. Aurel menunduk takut matanya tidak berani menatap mata tajam pria itu.
Pria itu mengeluarkan gigi taringnya. Aurel terkejut dan langsung mendorong dada pria itu dengan sekuat tenaga. Namun tidak berhasil karena pria itu mengunci kedua tangan Aurel ke atas kepala.
"Aku akan menjadikanmu milikku selamanya," bisik pria itu.
Air mata Aurel keluar dengan sangat deras. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Apa masih ada vampir di zaman modern ini, mustahil itu ada.
"Kamu akan menjadi wanitaku." Ujar pria itu tajam.
"L...epaskan," Aurel berusaha memberontak sekuat tenaganya. "Heh, coba saja kalau kamu bisa pergi dari sini." Ucap pria itu menyeringai iblis.
Ia pun mendekatkan giginya di leher gadis itu dan menancapkan giginya. "ARGGHH..." teriak Aurel menahan sakit di lehernya.
Pria itu menghisap darah Aurel sampai Aurel tidak sadarkan diri. ""Dengan begini kamu akan menjadi milikku." Bisik pria itu dan mengelus pipi Aurel lembut.
Pria itu keluar dengan seringai menghiasi wajahnya.
***
"Hah...hah..." Aurel terbangun dengan nafas tersengal-sengal. Ia menatap sekelilingnya, ternyata Aurel berada didalam kamarnya.
Ternyata itu mimpi.
Aurel bisa bernafas lega, ternyata itu hanya mimpi. Tapi kenapa terasa seperti nyata, dengan cepat ia meraba lehernya. Kemudian menatap kearah cermin dikamar mandi, leher Aurel baik-baik saja tidak ada tanda bekas gigitan dilehernya.
Ia pun dengan cepat mandi kemudian memakai seragam sekolahnya, kemudian dia berangkat kesekolah dengan jalan kaki karena jarak rumah dari sekolahnya tidak jauh.
***
Aurel berajalan dikoridor sekolah ia masih memikirkan kejadian saat pria itu menggigitnya.
"Apa mungkin itu nyata." Gumam Aurel.
"Apa yang nyata?" tanya seorang gadis berambut sebahu yang tiba-tiba saja datang. "Eh Shinta ngagetin aja kamu," ujar Aurel.
"Kamu tadi ngomong apa? Nyata apanya?" tanya Shinta penasaran. "Gak kok kita masuk yuk, udah bel." Aurel berusaha mengalihkan pembicaraannya dan menarik tangan Shinta menuju kelas.
Bel sudah berbunyi, guru yang mengajar kelas Aurel pun datang. "Anak-anak kita kedatangan murid baru. Silahkan masuk nak," ujar guru perempuan itu mempersilahkan murid baru itu untuk masuk.
Murid baru itu pun masuk, membuat seluruh perempuan yang ada dikelas terpanah dengan ketampanannya. "Wah tampan sekali," ucap Shinta tanpa berkedip. "Eh Rel, liat deh tuh anak baru wajahnya sangat tampan." Ujar Shinta menyenggol lengan Aurel dengan heboh.
Mau nggak mau Aurel menatap siapa anak baru yang dibilang tampan itu oleh teman sebangkunya ini. Karena dari tadi Aurel hanya fokus membaca buku pelajaran. Mata Aurel terbelalak kaget saat tau siapa murid baru itu.
"D...ia," ujar Aurel terbata.
"Kamu kenal?" tanya Shinta menatap Aurel heran.
Itu gak mungkin dia kan batin Aurel takut.
"Rel," panggil Shinta menyentuh bahu Aurel. "Kamu suka dia ya? Kok liatnya gitu banget." Kekeh Shinta.
"Enggak kok Shin, aku gak suka dia."
"Perkenalkan nama saya Axel." Ucap Axel tersenyum ramah. Namun saat matanya bertabrakan dengan mata Aurel dia pun menyeringai. Aurel yang merasakan itu hanya menunduk takut.
"Baik Axel, kamu bisa duduk di belakang Aurel." Ujar guru itu menunjuk bangku kosong dibelakang Aurel.
Deg...
Saat melewati Aurel, Axel tersenyum menyeringai dan matanya menusuk tajam ke Aurel. Aurel mengalihkan pandangan ke arah lain, ia takut sangat takut menatap mata pria itu.
Axel mencondongkan badannya ke depan dan membisikkan sesuatu ditelinga Aurel.
"Mine."
Aurel tersentak dan berdiri dari duduknya. Semua mata teman-temannya tertuju ke Aurel. "Ada apa Aurel?" tanya guru perempuan itu.
"S...aya mau ke toilet bu." Ujar Aurel gugup. "Ya silahkan."
Axel menatap Aurel dengan senyum menyeringai. "Saya juga mau ke toilet."
"Ya silahkan, Axel."
Axel menatap kekanan dan kekiri memastikan tidak ada satu orangpun yang lewat, ia pun berlari dengan secepat kilat. Ia berhenti saat melewati toilet perempuan. Axel tersenyum sinis dan melangkah masuk ke dalam toilet perempuan. Terlihat disana Aurel sedang mambasuh wajahnya.
Tanpa disadari oleh gadis cantik itu, Axel sudah berdiri dibelakangnya. Menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Mata Aurel membulat saat melihat pantulan seorang cowok di cermin.
"K...amu ngapain?" tanya Aurel takut.
"Membawamu pulang ke istana." Jawab Axel tajam. Axel mendekat ke Aurel, gadis itu pun mundur dengan perasaan takut.
Punggung Aurel menempel pada dinding dan tidak ada celah bagi Aurel untuk kabur. "Sayang ayo pulang jangan membuat ku marah." Bisik Axel lembut namun penuh arti.
Aurel menggeleng kuat, air matanya mengalir dengan deras bak hujan. "pergi! Aku tidak mengenalmu." Aurel mendorong dada Axel kuat dan berlari dengan derai air mata yang deras.
Axel yang melihat itu hanya menyeringai. "Pergi selagi kamu masih bisa."
"Kamu kenapa Rel? Kok kayak habis nangis?" tanya Shinta. "Gak kok aku cuma kelilipan."
Tak lama Axel pun masuk ke kelas, ia melirik Aurel sekilas.
Aurel menopang dagunya ia menatap gurunya yang sedang menjelaskan pelajaran. Aurel merasa Axel terus-terusan menatapnya dari belakang dan itu membuat Aurel merinding takut.
Tapi Aurel menepis semua fikiran buruk yang bersarang di kepalanya.
***
"Rel aku pulang luan ya." Shinta memeluk Aurel dan mencium pipinya. "Dadah...Aurel."
Aurel hanya tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya ini. Axel yang melihat itu emosi, beraninya ada yang menyentuh miliknya.
Axel harus menahan amarahnya, ia akan bersabar dan sebentar lagi ia akan membawa Aurel Kembali ke dalam pelukannya. "Katakan selamat tinggal sayang pada duniamu ini, karena sebentar lagi kamu akan menjadi milikku seorang."
Aurel berjalan dengan riang ia berusaha untuk melupakan kejadian tadi, sekolah dari rumah Aurel tidak begitu jauh.
Aurel mengganti pakaiannya kemudian ia membuka tugasnya. Dia termasuk murid yang pintar disekolahnya.
Cukup lama Aurel berkutik dengan pulpen dan buku pelajarannya. Hingga ia tidak menyadari seseorang terus-menerus memandanginya dari jendela kamarnya.
Rasa kantuk tiba-tiba menghampiri Aurel yang masih sibuk mengerjakan tugas sekolahnya. "Tidur sebentar aja deh, nanti dilanjut lagi ngerjain tugas sekolahnya." Gumam Aurel, dia pun membereskan buku pelajarannya dan beranjak menuju ranjangnya.
Gak butuh berapa lama Aurel sudah tertidur pulas. Tanpa disadari Aurel, Axel sudah berdiri menjulang di depan Aurel yang sedang tertidur. Axel mendekat dan mengelus pipi Aurel lembut, kemudian ia menggendong tubuh Aurel dan membawanya ke tempat dimana dia berasal.
Setelah sampai dikerajaan. Axel meletakkan Aurel diatas ranjangnya. Ia pun menyuruh para pelayan menggantikan pakaian Aurel dengan gaun merah.
Axel menatap Aurel yang masih tertidur nyenyak. Ia menatap Aurel lekat gaun merah itu sangat pas di tubuh Aurel.
"Selamat malam sayang..." bisik Axel lembut.
Pagi harinya Aurel terbangun, ia mengerjapkan matanya berulang kali.
"I...ini," gumam Aurel, ia menatap seluruh kamar yang bercat hitam itu dan mata Aurel menatap tubuhnya yang sudah memakai gaun merah. Ia ingat ini dimana, ini dikamar pria itu yang berada di dalam mimpinya.
"Ini pasti mimpi. Ayo bangun Aurel." Aurel menepuk-nepuk pipinya berulang kali namun ia tidak bangun-bangun.
"Berhenti memukuli dirimu sendiri." Sela suara seorang cowok. "Terima saja ini takdir dan kamu tidak mimpi."
Suara itu, ya Aurel kenal suara itu. Suara itu yang terus menghantui pikiran Aurel. "Sayang itu takdir yang membawamu ke sini dan kita sudah ditakdirkan untuk bersama."
Aurel menggeleng lemah, ini pasti mimpi dan sebentar lagi dia akan bangun dari mimpi buruknya ini. "Ayo Rel bangun." Aurel terus menampar pipinya agar terbangun dari mimpinya ini. Mimpi yang sama sekali tidak Aurel inginkan.
Axel mendekat ke Aurel dan menarik tangan Aurel. "Kamu nggak percaya kalau kamu bukan mimpi? Aku bisa membuktikannya."
Axel menangkup pipi Aurel dan mencium bibir Aurel singkat. "Apa kamu percaya sekarang kalau kamu bukan mimpi."
"Nggak ini pasti mimpi." Ujar Aurel frustasi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dengan derai air mata yang mengalir.
Axel membawa Aurel kedalam rengkuhannya, ia menepuk-nepuk punggung Aurel agar menenangkan Aurel. "Kenapa harus aku?" lirih Aurel menatap Axel.
Axel jongkok didepan Aurel dan menghapus air mata gadisnya itu. "Ini takdir yang menentukan, kamu gadis pemilik darah suci yang masih murni. Dari sebelum kamu ada di dunia ini kamu sudah ditakdirkan bersamaku."
"Izinkan aku mencintaimu selamanya dan memilikimu, aku berjanji tidak akan pernah membuatmu kecewa dan terluka. Aku akan terus berada disisimu selamanya." Ucap Axel tulus.
Entah kenapa setelah Axel mengucapkan kalimat itu jantung Aurel berdegup sangat kencang. Ini kali pertamanya ada seorang lelaki yang mengucapkan itu pada Aurel. Aurel menatap mata Axel ia tidak melihat adanya kebohongan di mata pria ini. Dia mengucapkannya dengan tulus tanpa ada rasa berbohong.
"A...pa kamu bisa dipercaya?" tanya Aurel gugup. Ia sudah pasrah pada takdir yang menentukan dirinya karena Aurel percaya takdir itu tidak pernah salah.
Axel menarik tangan Aurel dan menaruhnya di dadanya. "Kalau aku berbohong kamu bisa membunuhku sekarang juga."
Aurel menarik tangannya. "A...ku percaya,"
Axel tersenyum bukan senyum menyeringai yang biasa dia berikan ke pada Aurel sebelumnya. Namun senyum tulus yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapapun.
"Bagaimana dengan sekolahku?" cicit Aurel takut. Axel mengacak-acak rambut Aurel gemas. "Seorang ratu vampir tidak perlu sekolah, dia hanya perlu mengurusi suaminya dengan baik dan benar."
"Apa aku sudah jadi vampir?" tanya Aurel polos. Axel hanya tersenyum geli mendengar pertanyaan polos gadis ini.
"Kamu belum menjadi vampir." Jawab Axel.
"Tapi kamu pernah menggigitku."
"Itu hanya bius untuk menenangkan mu agar kamu tidak berteriak-teriak." Ucap Axel.
"Apa kamu mau aku menggigit mu agar kamu bisa hidup abadi bersamaku." Axel mendekatkan wajahnya didepan wajah Aurel.
"A...ku," gugup Aurel. "Kalau kamu tidak mau tidak apa-apa aku tidak akan memaksamu." Peralahan Axel menjauhkan wajahnya dari Aurel.
"Aku mau." Ucap Aurel cepat sebelum Axel melangkah pergi. Axel berbalik dan menatap Aurel tidak percaya, dia senang akhirnya gadis ini bisa menerimanya dengan tulus.
"Apa kamu yakin?" tanya Axel. Aurel mengangguk ragu. "Kalau kamu masih ragu tidak usah, aku tidak akan memaksamu."
"Aku yakin, aku mau hidup abadi bersamamu. Aku percaya kamu bisa menjagaku." Ucap Aurel yakin.
Axel mendekat kemudian menyentuh bekas gigitannya dileher Aurel. "Ini mungkin sedikit sakit tapi apa kamu bisa menahannya?"
"I...ya mungkin,"
Axel menghembuskan nafasnya pelan kemudian ia mengeluarkan gigi taringnya. Perlahan tapi pasti taring Axel sudah menyentuh leher Aurel. Aurel menahan sakit di lehernya sekuat tenaga ia menahan mengeluarkan suaranya. Rasanya sangat sakit dan itu membuat Aurel pingsan tidak sadarkan diri.
"Setelah kamu bangun kamu akan datang ke dunia barumu." Axel meletakkan dan menyelimuti tubuh Aurel.
"Selamat tidur My Baby." Bisik Axel di telinga Aurel kemudian mengecup kening Aurel lama.
***
Wajah gadis cantik yang terbaring di atas ranjang sudah memucat. Setahun sudah Aurel terbaring di ranjang ini. Axel menatap wajah Aurel yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda akan terbangun dari tidur panjangnya.
Mata Aurel terbuka, ia menatap kamar ini dan matanya menatap Axel yang sedang tersenyum kepadanya. Ia pun duduk tapi Aurel merasakan pergerakannya sangat cepat. "Apa aku sudah menjadi vampir?" tanya Aurel.
Axel menarik tangan Aurel dan membawanya ke pelukannya. "Aku merindukanmu." Bisik Axel lembut.
Semua pelayan diistana membungkuk hormat ke Axel dan Aurel. "Selamat datang ratu di dunia barumu."
Axel mengeluarkan cincin permata dari balik jubahnya. Ia menggenggam kedua tangan Aurel. "Menikahlah denganku."
"Bersediakah kamu menjadi pasangan hidupku. Aku akan membuatmu bahagia dan akan selalu menjagamu selamanya."
Mata Aurel berkaca-kaca menatap pria didepannya ini melamarnya. "A...ku bersedia." Jawab Aurel.
Axel memakaikan cincin permata itu dijari manis Aurel. "Aku mencintaimu." Bisik Axel lembut.
"Aku juga mencintaimu."
~TAMAT~