Aku tersenyum menatap jendela kamar, suara hujan dan petir terdengar dari luar. Aku melihat kendaraan-kendaraan yang berlaku lalang di jalan. Aku kembali melihat meja dan mengambil satu buku dan membuka isi buku tersebut, isinya tentang cerpen buatanku yang aku tulis sendiri dari imajinasiku. Tanganku mengelus tulisan yang ada di lembaran kertas sambil mengingat awal mula aku bermimpi menjadi seorang penulis.
“Sebuah mimpi yang kini telah aku putuskan..” kataku sambil tertawa kecil. Mengingat awal mula itu, aku masih tidak bisa percaya kalau aku bisa sampai ke titik ini, titik di mana Aku berusaha keras mewujudkan mimpiku. Aku melamun melihat tulisan sambil mengingat-mengingat apa yang membuatku bermimpi menjadi penulis.
Ini semua berawal dari aku yang selalu berpikir kalau aku tidak punya sebuah mimpi untuk hidup, semua orang di sekitarku mempunyai mimpinya masing-masing. Aku selalu berbohong bermimpi menjadi dokter karena itu adalah pekerjaan idaman orang-orang, aku selalu mengatakan bermimpi untuk menjadi dokter. Sampai pada akhirnya, aku tertarik oleh sesuatu.
Aku tertarik untuk menulis novel atau bahkan cerpen, aku melakukan itu karena iseng. Aku berpikir kalau itu hanya bertahan sebentar karena aku yakin kalau karya milikku sama sekali tidak menarik. Tapi, ternyata banyak sekali orang yang menyukai karya milikku. Bermimpi menjadi seorang penulis, itu sama sekali tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku belum menonjolkan apa bakat milikku, dan hal itulah yang membuatku semakin penasaran dengan dunia penulis.
Aku selalu mencoba, mencoba, dan mencoba. Aku membuat banyak novel di berbagai aplikasi dan orang-orang menyukainya, Aku terus-terusan membuat karya milikku sendiri. Dan itu semua membuatku tahu apa yang akan Aku mimpikan, menjadi seorang penulis. Aku sama sekali tidak pernah bermimpi menjadi penulis, itu sama sekali tidak akan pernah nyata dalam kehidupanku. Teman-temanku bahkan selalu bertanya apa bakat dan mimpiku, “Caroline, bakat apa yang kau miliki? Kau bermimpi untuk menjadi apa?”
Aku hanya bisa terus-terusan berbohong tanpa mengakui kalau mimpiku adalah menjadi seorang penulis, karena mereka pasti akan menganggap enteng itu. Keahlian menulis bukanlah bakat yang luar biasa, tapi hanya sebagian orang yang tahu kalau tidak mudah untuk menulis sebuah karya. Menjadi penulis bukanlah sesuatu hal yang mudah, itu mimpi yang sama susahnya. Untuk mewujudkan mimpi kita, bukankah itu perlu usaha?
Pembaca selalu menyemangatiku dan mendukungku terus-menerus, semua karyaku diapresiasi. Sampai pada akhirnya, Aku mengakui kalau Aku bermimpi menjadi seorang penulis, Aku mengucapkannya tanpa kebohongan. Mereka menghargaiku dan mendukung mimpi milikku, mereka menerima bakat menulis milikku. Walaupun tidak ada yang mendukung, Aku akan tetap melanjutkan mimpiku. Aku tidak akan menyerah.
Aku tersenyum tipis dan menutup buku yang tertulis namanya sebagai penulis, hujan telah reda bersamaan dengan mataku yang perlahan terpejam. Sebuah mimpi yang Aku yakini tidak akan bisa tercapai. “Berjuanglah diriku. Dan terima kasih, karena telah bertahan menghadapi semuanya.”
Apakah Aku bersedia menyerahkan mimpiku untuk menjadi penulis sukses? Atau, haruskah Aku menjaga imajinasi ini, yang telah menjadi sumber inspirasi terbesar dalam hidupku?
Dengan tangan gemetar, Aku menaruh buku di meja dan menatap kosong ke arah jendela.
Aku tahu, keputusan itu akan mengubah segalanya.
Aku tahu menjadi penulis bukanlah hal yang mudah, semua butuh proses. Apa yang akan Aku pilih? Hanya waktu yang bisa memberi jawaban.
||Jangan ragu untuk mengembangkan apa yang kamu minati. Berusahalah mencapai mimpimu, bakat tanpa usaha adalah jalan buntu dan usaha tanpa bakat adalah kekuatan.