Setiap orang pasti punya mimpi dan harapan akan masa depannya. Demikian juga denganku, lelaki yang mencintaimu , yang berharap bahwa kamu adalah pilihan terakhir untuk menemaniku hingga akhir masa.
Dan kenyataan itu memudar, seiring waktu yang berjalan, ketika dia menjadi pelangi dimatamu.
Pernikahan Andre dengan Ningsih awalnya penuh dengan keindahan , tidak ada pertengkaran , tidak ada keluhan, semua berjalan baik – baik saja. Namun semuanya adalah sandiwara yang tersembunyi, tertutup rapat.
Andre mengenal Ningsih, dikenalkan oleh sahabatnya bernama Rika. Ningsih adalah gadis baik menurut nya, sehingga Andre pun tertarik padanya. Dan pada akhirnya, Andre memberanikan diri untuk menyatakan cinta padanya. Ningsih menerima Andre sebagai kekasihnya, dan hubungan itu pun di restui oleh kedua orang tua Ningsih. Sehingga tak perlu waktu lama, Andre melamarnya dihadapan kedua orang tua Ningsih. Dan lamarannya pun diterima oleh Ningsih dan direstui juga oleh kedua orang tuanya.
Hari bahagia yang ditunggu – tunggu pun tiba, acara prosesi pernikahan diselenggarakan dengan penuh kesakralan dan kebahagiaan. Dari mulai acara adat dan sampai pemenuhan janji suci dihadapan penghulu dan saksi dalam sebuah prosesi akad nikah dapat berjalan lancar dan aman.
Kebahagiaan keduanya terpancar dari raut wajah mereka di hari pernikahan itu, karena mereka pada akhirnya boleh melewati semua masa sampai pada titik terakhir untuk berkomitmen ke jenjang pernikahan membangun sebuah keluarga kecil yang sakinah, mawaddah dan barakah, itulah impian kami.
Senyum kebahagiaan diantara kedua pasangan itu terlampiaskan dalam indahnya malam pertama, tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi keraguan. Ningsih milik Andre demikian pula sebaliknya. Malam penuh kebahagiaan dibawah pancaran sinar rembulan.
Kebahagiaan mereka bertambah takkala anak – anak sudah beranjak remaja. Tak terasa perjalanan satu dasawarsa pernikahan telah mampu di lewati bersama dalam suka dan duka.
Tahun kedua belas, Andre di PHK dari tempat bekerja. Tak ada lagi penghasilan tetap seperti biasanya. Segala upaya telah Andre usahakan untuk dapat memperoleh pekerjaan, namun keberuntungan belum memihaknya. Apapun pekerjaan di kerjakan asalkan halal. Dari jadi kuli bangunan, bersih – bersih rumah orang, kuli panggul, dijalani semua. Terkadang bisa juga tidak mendapatkan pekerjaan sama sekali, sehingga hasil yang didapat sebelumnya, harus keluar lagi dari tabungan.
Ningsih berusaha memahami keadaan Andre dengan kondisi yang terjadi saat ini. Andre bersyukur, karena Ningsih iklas menjalaninya bersama . Keadaan mengubah segalanya, mereka berupaya menghemat. Kalau dulu Ningsih sering membuat masakan enak seperti daging sapi, ayam dan ikan, sekarang jarang sekali ada di meja makan. Terkadang hal itu yang membuat Andre menangis melihat keadaan ini, namun kesedihannya ia sembunyikan dari Ningsih dan anak – anak.
Setahun berlalu dari goncangan perekonomian yang buruk, pada akhirnya Andre mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan property, meskipun pendapatan bulanannya tidak besar, namun jika memenuhi target, maka bonus yang didapat itu dua kali lipat dari gaji bulanan. Perekonomian nya memang masih belum stabil , namun tidak separah sebelumnya.
Malam purnama yang belum sepenuhnya itu, adalah saksi pembicaraan diantara Andre dan istrinya. Ningsih mengutarakan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dengan alasan untuk membantu perekonomian keluarga.
“ pah, ijinkan aku bekerja ya “ ucap Ningsih malam itu.
“ selagi ada tawaran pekerjaan dari tetangga kita ,bu Mawar . Katanya ada keluarga yang membutuhkan seorang asisten rumah tangga “ jelas Ningsih kembali.
“ apa kamu sanggup bekerja sebagai pembantu mah ?” tanya Andre.
“ ya, aku coba jalani dulu . Nanti kalau rasanya tidak mampu ya mengundurkan diri saja “ jelas Ningsih.
“ papah sebenarnya tidak setuju mamah bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Karena menurut cerita orang di luar sana, banyak tidak enaknya”
“ maksud papah gimana?”
“ ya....banyak lah mah. “ ucap Andre tidak mau memperjelas maksud ucapannya tadi. Karena memang cerita – cerita yang di dapat diluaran sana, yang namanya menjadi asisten rumah tangga itu bisa mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari oknum majikannya. Meskipun tidak semua majikan berbuat seperti itu, karena masih ada juga majikan yang baik. Parahnya lagi ada juga oknum majikan yang menjadikan asisten rumah tangganya sebagai pemuas birahi dan selingkuhannya, ketika istrinya tidak ada di rumah. Inilah yang menjadi kekuatiran terbesarnya, apalagi istrinya, Ningsih meskipun sudah berumur 40 masih terlihat cantik dan mulus bodinya.
Malam ini kegelisahan hati nya melanda , tidak rela membiarkan istrinya bekerja sebagai asisten rumah tangga, dan rasa cemburu Andre meluap kepermukaan. Antara mengijinkannya bekerja dan tidak, berkecamuk menjadi satu di dalam pikirannya.
“ Mah, maaf papah tidak setuju “ kata Andre.
“ Pah, sampai kapan kita hidup seperti ini terus? Kita juga perlu biaya untuk sekolah anak-anak, untuk rumah kita , apa cukup penghasilan papah yang sekarang untuk memenuhi semuanya itu?” Ungkap Ningsih.
Andre terdiam, semuanya memang benar apa yang diucapkan Ningsih. Penghasilan nya yang sekarang pun masih belum dapat mencukupi semua kebutuhan di rumah. Dan dengan berat hati ,pada akhirnya Andre mengijinkan Ningsih untuk bekerja.
Esok harinya, Ningsih dengan wajah ceria berpamitan untuk memulai pekerjaannya di rumah bu Mekar, diantar oleh bu Mawar tetangga sebelah rumah.
“ hati – hati, jangan tergoda . kamu itu milikku “ ucap Andre membisik ditelinga istrinya sambil melepas kepergiannya untuk bekerja .
Bu Mekar adalah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, sedangkan suaminya yang bernama Sastro adalah seorang pengusaha property dan juga membuka usaha pencucian mobil. Ibunda dari suaminya bu Mekar memang ikut tinggal bersama mereka sejak sang suaminya meninggal setahun yang lalu.
Namun kondisi ibundanya Sastro itu sejak tiga bulan yang lalu, kesehatannya menurun , hanya bisa terbaring di tempat tidur. Itulah sebabnya bu Mekar mencari asisten rumah tangga untuk merawat ibu mertuanya yang sedang sakit.
Dirumah itu hanya ada bu Mekar, suaminya dan ibundanya Sastro. Pak Jum, sopir pribadinya pak Sastro tidak menginap disana. Sama seperti Ningsih, istriku, usai bekerja langsung kembali ke rumah.
Pernikahan Mekar dengan Sastro selama lima tahun itu belum dikarunia anak. Inilah yang membuat beban pikiran ibundanya Sastro selama ini, sehingga berakibat menurun kesehatannya. Hal tersebut, sempat diceritakan ibundanya Sastro pada Ningsih pada suatu ketika , saat ia menyuapi ibundanya pak Sastro ,majikannya itu. Padahal jika dilihat secara fisik, bu Mekar cantiknya paripurna. Kulitnya putih bersih, wajahnya mulus tanpa jerawat, kacamata yang dipakai bu Mekar nampak serasi dan anggun, Tubuhnya juga masih ideal, seperti gadis berumur 20 tahun. Apalagi kekurangannya bu Mekar ya? Pikir Ningsih .
Apakah mereka kurang dalam menjalin hubungan intim? Ah, tidak mungkin juga. Mana ada ceritanya lelaki yang punya istri cantik seperti bu Mekar banyak dianggurin ? mungkin salah satu diantara mereka memang ada masalah terkait kesehatan seksualnya. Ataukah memang bu Mekar yang mandul ? sehingga tidak bisa memberikan keturunan kepada Sastro ?. Ah, apa pedulinya diriku dengan rumah tangga mereka. Aku disini bekerja, untuk mencari uang. Pikir Ningsih saat itu, saat ibundanya Sastro berkeluh kesah banyak tentang rumah tangga bu Mekar .
**********
Enam bulan berlalu, semua masih baik – baik saja hubungan Andre dengan Ningsih. Komunikasi dengan Ningsih sepanjang hari masih tetap berlangsung meskipun hanya melalui whatsapp, dan sesekali video call. Namun berbeda ketika istrinya sudah dirumah, bisa berkomunikasi secara langsung seperti biasanya, dan kemesraan diantara mereka berujung pada pergulatan malam yang indah.
Suatu hari di malam minggu, usai pergulatan di antara mereka selesai, Ningsih bercerita bahwa untuk satu minggu kedepan, dirinya tidak bisa bersamanya dan anak-anak. Bahwa kedua majikannya itu pergi keluar kota , dan dirumah hanya ada ibunya Sastro yang sakit, sehingga ia ditugaskan untuk bisa bermalam menemani dan merawat ibu mertuanya bu Mekar. Karena cerita itu meyakinkan Andre, maka diberikanlah ijin untuk Ningsih dapat bermalam disana.
**********
Keberangkatan bu Mekar dengan suaminya ke luar kota adalah untuk suatu urusan di kampung bu Mekar.
Tiga hari berlalu, Ningsih dengan setia menemani dan merawat ibunya Sastro itu.
“ Ningsih...” sapa ibundanya Sastro itu.
“ iya bu, ada apa ya ?” tanya Ningsih.
“ ibu sepertinya cocok sama kamu “
“ maksud ibu apa ya?” Kembali Ningsih bertanya.
“ ibu yakin pasti kamu bisa memberikan kebahagiaan sama Sastro “
“ maksud ibu ?”
“ sebelum ibu pergi meninggalkan dunia ini, maukah kamu berjanji “
“ berjanji apa bu?”
“ berjanji untuk memberikan keturunan sama ibu “
“ hah, apa bu? Tidak, tidak boleh bu. Pak Sastro sudah milik bu Mekar. Dan saya lihat mereka saling mencintai. Sedangkan saya juga sudah punya suami yang mencintai saya “
“ apa? Cinta katamu? Tapi cintanya dia tidak bisa memberikan keturunan untuk ibu”
“ ya sabar saja bu, kalau belum waktunya gusti Allah ya tidak bisa. Manusia itu kan hanya berusaha .”
“ Mekar itu Mandul Ningsih , dia tidak bisa memberikan keturunan untuk Sastro”
“ buktinya apa bu” ucap Ningsih memberanikan diri.
“ itu, kamu ambil dan lihat sendiri rekam medik Mekar “ ucap ibundanya Sastro menunjuk ke arah sebuah lemari di sudut kamar itu. Ningsih mengambilnya dan membacanya, sebuah keterangan menyebutkan bahwa bu Mekar mengalami Polikistik Ovarium , yaitu kista pada ovarium, dan kistanya sudah stadium tiga.
“ ya , tapi ini masih dapat disembuhkan bu. Baik secara medis dan herbal” jelas Ningsih.
“ ah, percuma Ningsih . Sudah sering dilakukan pengobatan, namun hasilnya nihil “
“ aku mau keturunan darimu Ningsih,”
Ucapan ibunya Sastro selalu menghantui pikiran Ningsih. Ingin segera rasanya dirinya berhenti bekerja daripada menghancurkan rumah tangganya dengan Andre, suaminya itu. Tidak mungkin baginya untuk memenuhi keinginan bu Siska, yang adalah ibunya Sastro.
*********
Matahari baru saja tenggelam di ufuk barat, ini hari ke empat Ningsih bermalam dirumah majikannya. Tiba – tiba sebuah sedan putih berhenti di depan pagar, bel di pagar berdering. Pak Jum sudah pulang lebih awal. Mau tidak mau Ningsih yang membukakan pintu untuk majikannya itu.
“ terimakasih sudah membukakan pintu pagar “ ucap Sastro majikannya itu, sambil menjalankan mobilnya kembali ke arah parkiran rumah itu.
Biasanya pak Jum, yang membawakan barang – barang yang ada dalam mobilnya, tetapi kali ini Ningsih menggantikan pak Jum , membawakan tas koper majikannya itu.
“ gimana kabar ibu? “
“ baik pak “
“ oh ya, syukurlah kalau begitu “
“ kamu betah tinggal disini “
“ sebenarnya lebih nyaman dirumah sendiri pak, tapi karena pekerjaan ya mau tidak mau di buat betah pak “ ucap Ningsih sambil mengantarkan tas koper itu ke kamar majikannya.
“ lama – kelamaan nanti kamu juga betah tinggal dirumah ini “ ucap pak Sastro yang mengikuti Ningsih dari belakang.
Hhmmm, boleh juga istriku memilih asisten rumah tangga ini. Cantiknya alami, sederhana, dan anggun. Meskipun postur tubuhnya tidak setinggi Mekar. Ucap Sastro dalam hatinya. Sastro memang terkenal playboy sebelum menikah dengan Mekar, sering gonta – ganti pacar.
“ Bu Mekar kemana ? Kok tidak bersama pulangnya ?” tanya Ningsih.
“ oh, bu Mekar masih ada urusan disana, jadi saya pulang lebih dahulu. Soalnya besok ada janji sama mitra bisnis saya di kantor “ jelas pak Sastro.
Setelah mandi, Sastro menemui ibunya. Dan diruang itu Ningsih sedang menyuapi ibunya. Dipeluknya ibunya dengan penuh kasih sayang, agar nampak dihadapan Ningsih seolah – olah ia sangat menyanyangi ibunya.
“ ibu senang kan ada Ningsih disini ?” Ucap Sastro pada ibunya.
“ Ningsih baik sama ibu, dia cocok sepertinya untukmu Sastro “ ucap ibunya.
“ Bu, Sastro ini sudah punya istri “ kilahnya, agar tak nampak dimata Ningsih seperti lelaki hidung belang. Padahal dalam hatinya ia juga diam-diam mulai menyukai Ningsih sejak tiga bulan yang lalu.
“ Ningsih ...” panggil ibunya Sastro.
Ningsih mendekat, dipegangnya tangan Ningsih itu degan tangan kanannya, dan tangan kirinya memegang tangan Sastro, dan disatukannya tangan mereka oleh ibunya Sastro. Ningsih awalnya memberontak, tapi sia – sia , pegangan tangan wanita tua itu lebih kuat .
“ Ningsih, berjanjilah sama ibu bahwa kamu akan memberikan keturunan untuk Sastro dan ibu. “
“ tapi bun...” ucap Sastro dan Ningsih hampir bersamaan.
“ sudahlah Sastro, Mekar itu tidak bisa memberikan keturunan untukmu “
“ Ningsih sudah punya suami bunda “ .
“ Ningsih, maukah kau memberikan keturunan untuk Sastro ?”
Ningsih lemah malam itu, ia tak berdaya . Meskipun telah berupaya menolak halus dengan ibunya Sastro. Air matanya menetes dipembaringannya. Ia ingin segera mengakhiri pekerjaannya segera, tidak harus menunggu bu Mekar datang. Ia teringat suami dan anak – anaknya.
Pintu kamar Ningsih diketok dari luar, ia segera menghapus air matanya dan mendekati pintu kamarnya.
“ siapa ya ?”
“ aku , Sastro “ jawaban dari depan pintu kamarnya.
Karena itu adalah majikannya, Ningsih segera membukakan pintu kamarnya.
“ ada apa ya pak?”
“ boleh aku masuk ?”
Dipersilahkan tuannya itu masuk ke kamarnya, Sastro menggeser kursi rias di kamar itu sehingga sejajar berhadapan dengan Ningsih yang duduk diatas pembaringannya.
“aku mau minta maaf atas ucapan ibuku tadi “ Sastro berpura – pura.
Ningsih masih terdiam.
“ ibuku terlalu memaksakan kehendaknya “ lanjutnya kembali.
Ningsih tertunduk dan terdiam.
“ kamu boleh marah, kamu boleh maki aku.tapi jangan ibu ku” ucap Sastro berakting.
“ ya begitulah faktanya yang terjadi bahwa istriku tidak bisa memberikan keturunan untukku sampai hari ini . Oleh sebab itu ibuku terbeban dan akhirnya kesehatannya merosot “
“ tapi pak..”
“ ya, aku tahu itu salah...tapi aku ingin juga punya keturunan “
“ tapi bukan seperti ini caranya pak”
“ aku tahu itu berat untukmu saat ini Ningsih, tapi kamu telah berjanji dihadapan ibu ku , maka biarkan aku singgah sebentar di hatimu “ ucap Sastro yang kemudian meninggalkan Ningsih.
Bajingan sekali lelaki ini, memanfaatkan perkataan ibunya dan memaksakan keadaan dan kehendaknya , tanpa pernah memahami betapa sulitnya untuk seorang Ningsih mengambil suatu keputusan. Sementara ia masih mencintai Andre.
***********
Video call dari Andre berdering, Ningsih segera menyambutnya dengan sukacita.
“ apa kabar mah ? “ sapa sang suami
“ kabar baik pah “ balas Ningsih.
“ kami disini semuanya baik juga “ ucap Andre sambil di ikuti lambaian tangan ketiga anaknya dari belakang .
“ Minggu ini selesai kan ? “
“ iya pah “
“ kami semua disini merindukan mamah “ ucap suami Ningsih.
Percakapan diantara mereka terhenti, takkala suara pintu kamar diketok.
“ Sebentar pah, sepertinya ada yang memanggil mamah dari luar “
Ternyata pak Sastro, yang mengetuknya. Ningsih buru – buru menutup handphone nya, dengan alasan bahwa majikannya memerlukan dirinya untuk mengurus ibunya di kamar sebelah. Tanpa rasa curiga Andre pun mengakhiri video call nya.
“ Ningsih, jujur aku juga menyukaimu, sebelum ibuku mengatakan hal yang kemarin kamu dengar langsung “
“ aku percaya bahwa ibuku tidak pernah salah mencarikan orang yang dapat memberikan keturunan untukku “
“ aku tahu kamu masih mencintai suamimu, tapi apa yang kamu dapat dari suamimu sehingga kamu yang berparas cantik ini dibiarkan bekerja “ ucap Sastro membujuk.
“ ayolah...kita sudah sama-sama dewasa Ningsih, kamu penuhi permintaan ibuku maka semua kebutuhan keluargamu aku jamin “
“ tapi pak...”
“ kamu tenang saja, istriku tidak akan mengetahui hubungan ini, dan begitu juga suamimu. “
“ semua kebutuhanmu di rumah ,aku penuhi sampai engkau memberikan keturunan untukku.”
“ bagaimana Ningsih? Aku tunggu jawabanmu satu jam lagi “ ucap Sastro.
Ningsih tertunduk lesu, mengingat suami dan anak-anaknya yang selalu menantikan kehadirannya dirumah. Tapi kali ini semua berubah, ia harus memikirkan apakah mengambil tawaran pak Sastro untuk memenuhi janjinya dengan ibunya , ataukah ia tetap setia menjaga pernikahannya dengan suaminya.
Satu jam yang ditunggu, Sastro menemui Ningsih kembali di kamarnya. Tidak seperti sejam sebelumnya, kali ini Ningsih terlihat cantik oleh Sastro dengan baju berwarna pink, sehingga aura kecantikannya terpancar.
“ aku siap, aku pegang janjimu “ ucap Ningsih, membiarkan Sastro mendekap tubuhnya yang harum dan mencumbuinya dengan rakus, seperti singa yang kelaparan. Malam itu, Ningsih bergelut dengan dosa, melepaskan pertahanannya pada sosok lelaki penuh nafsu itu untuk memberikan keturunan padanya , dalam kenikmatan semunya antara sebuah janji dengan seorang ibu tua dan pengkhianatan pernikahannya telah terjadi.
**********
Hubungan terlarang itu tak pernah muncul kepermukaan , seperti pada umumnya wanita, Ningsih selalu memberikan pelayanan prima juga kepada Andre suaminya, agar tidak diketahui oleh sang suami. Meskipun kewalahan karena harus melayani Sastro , dan Andre suami sah nya itu. Memang Sastro memenuhi janji nya , sehingga kebutuhan rumah tangga nya tercukupi, tanpa sepengetahuan Andre. Ningsih selalu beralasan kepada Andre, bahwa ia mendapat kemudahan untuk cashbon dengan majikannya. Dan Andre pun percaya saja dengan semua ucapan Ningsih.
**********
Pagi itu, seperti biasanya Ningsih kembali bekerja. Majikannya bu Mekar memanggilnya. Dirinya pun berhati – hati agar hubungan terlarang antara dirinya dan pak Sastro tidak diketahui.
Diruang tamu itu, nampak juga Sastro sambil memberikan senyum pada dirinya. Ningsih mengabaikan sejenak senyuman pak Sastro.
“ ada apa ibu memanggil saya ?” tanya Ningsih.
“ begini Ningsih, besok ibu harus operasi.”
“ operasi apa bu?”
“ pengangkatan Kista, dan kemungkinan juga ibu sudah tidak bisa hamil. “
“ ohh gitu ya bu “
“ nah , jadi ibu mohon sekali sama kamu, mau kan ?”
“ apa ya bu ?”
“ mau kan kamu...” bu Mekar seperti berat untuk melanjutkan kalimatnya
“ mau apa maksud ibu ?”
“ ibu mohon kamu mau kan memberikan keturunan sama ibu untuk pak Sastro ?”
“ hah...a...apa bu ?” Ucap Ningsih berpura – pura.
Ah , syukurlah...lampu hijau dari bu Mekar ucap Ningsih dalam hatinya.
“ kamu tidak keberatan kan Ningsih ?”
“ tolonglah Ningsih, “ pinta bu Mekar merengek seperti anak kecil.
Ningsih melihat senyum lebar kebahagiaan pak Sastro yang berada di samping bu Mekar.
Astaga, kenapa malah jadi seperti ini ? Kok malah merestui bahkan menyuruh aku memberikan keturunan? Padahal aku berharap perselingkuhan ini diketahui bu Mekar, dan hubungan antara aku dengan pak Sastro berakhir, itu sebenarnya yang kuharapkan. Ucap Ningsih dalam hati.
“ tapi bu...”
“ aku tahu kamu punya suami. Aku pun sebenarnya tidak mau di poligami, tetapi sebagai seorang istri aku tidak bisa memberikan keturunan untuk suamiku. Jadi , penuhilah keinginanku ini Ningsih “
Sebenarnya berat bagi Mekar untuk mengatakan itu pada Ningsih, ia tahu bahwa Ningsih pasti juga meronta batin nya untuk menolak keinginannya tersebut. Tidak ada wanita di dunia ini yang mau dimadu, Tapi apalah daya, dirinya pun seperti tak kuasa menolak keinginan ibu mertuanya yang belum bisa memberikan keturunan untuk Sastro .
Astaga....runyam sudah hidupku, ucap Ningsih dalam hatinya.
Tak banyak kata yang dapat di ucapkan Ningsih, apalagi ketika bu Mekar memegang lenganku dan menyatukannya dengan lengan pak Sastro.
“ mulai sekarang, kamu adalah istri muda Sastro, layanilah dia sepenuh hatimu, seperti aku melayani dia selama ini. “
Hening, tiada terucap sepatah apa pun dari mulut Ningsih mendengar ucapan bu Mekar.
Hubungan terlarang antara Ningsih dan Sastro yang selama tiga bulan ini tidak tercium itu, justru kini mendapatkan lampu hijau dari istri sah Sastro.
Bu Mekar mempersilahkan Ningsih memiliki Sastro sepenuhnya dengan mengantarkan dirinya ke dalam pembaringan kenikmatan yang tidak tersembunyi lagi di pelupuk mata Mekar.
Sastro tidak membiarkan kesempatan itu, matanya berbinar melihat kemolekan Ningsih.
“ sekarang saatnya kamu lepas bebanmu dan tidak usah lagi pakai pengaman “ pinta Sastro melonjak kegirangan dalam melampiaskan gemuruh cintanya yang tersembunyi pada Ningsih malam itu.
*********
“ bu , aku hamil “ ucap Ningsih polos pada Mekar, majikannya itu.
Bu Mekar melonjak kegirangan, demikian juga Sastro lelaki bejat itu yang telah memperdayai dirinya dan merusak rumah tangga nya dengan Andre.
Mekar yang mengetahui tentang kehamilan Ningsih , kemudian mengatur jadwal pertemuan dengan Andre diam – diam, tanpa sepengetahuan Ningsih.
“ Maaf Andre, aku Mekar majikan dari istrimu “ ucap Mekar . Andre baru melihat untuk pertama kalinya wajah bos istrinya itu.
“ iya , ada apa ya sebenarnya mengajak saya bertemu “
“ begini, istrimu Mekar tidak bersalah. Akulah penyebab semuanya ini,”
“ maksud anda ?”
“ sekarang istrimu hamil, dia memuhi janjinya untuk ku “
“ apa, hamil ? , dengan siapa? “
Apakah ia hamil denganku ? pikir Andre bertanya dalam dirinya. Tapi apa hubungannya dengan majikan istrinya itu.
“ jadi, ijinkan dia berada di rumahku sampai Ningsih melahirkan “
“ maksud ibu Mekar apa ?”
“ istrimu mengandung janin dari suamiku, karena aku mandul “
Apa...?
Apa kata ibu tadi ?
Istriku hamil dari benih suami ibu...??
Tidak...tidak ...ini tidak mungkin...
Ya Tuhan....cobaan apa lagi yang kau berikan pada hambamu ini...
Ucap Andre menahan emosinya. Berita di siang bolong itu membuat hati dan perasaannya terpukul berat.
Kenapa kamu berbuat seperti ini Ningsih ?
Kenapa Ningsih ?
“ Andre , maafkan aku ...” ucap bu Mekar yang juga ikut menangis . Ia mengakui semuanya di hadapan Andre atas perbuatannya, ia terpaksa melakukannya karena permintaan ibu mertuanya sebelum meninggal.
Andre hening tak bicara, hanya air matanya yang menetes jatuh ke lantai.
“ sekarang ibu puas? Puas dengan merusak rumah tangga ku dengan Ningsih kan ?” Ucap Andre yang kemudian berlari kecil meninggalkan Mekar.
Ningsih takut untuk pulang ke rumah, setelah bu Mekar menceritakan pertemuannya dengan Andre siang tadi.
Tiga hari setelahnya , Andre menitipkan secarik kertas pada pak Jum , sopir pribadinya Sastro.
“ tolong berikan ini untuk Ningsih , tanpa diketahui pak Sastro ya “ setelah itu ia pamit pada pak Jum.
Surat dari Andre diberikan untuk Ningsih. Dibukanya perlahan kertas dengan amplop putih itu perlahan. Dan Ningsih mulai membaca sebuah goresan pena dari suaminya :
Jarak ini adalah kita
Dealova yang terukir indah
Hingga dihembuskan angin yang tak bertepi.
Kita adalah rindu,
Yang terbelenggu kosa kata
Hingga membias
Dan kini aku menepi
Memberikan ruang dan waktumu
Untuk berjibaku dengan pelangi dimatamu
Aku iklas, meski sepi yang menemaniku.
Kita diantara dia...
Dan kata yang yang tak lagi sama sisi
Telah merobek tirai kesetiaan.
Biarkan aku menepi,
Dan kau berjanjilah pada Tuhan.
Dariku,
Andre.
Menangis sejadi – jadinya Ningsih , jiwanya meronta – ronta . Ia ingin kembali pada Andre, namun ia harus menjalani proses kehamilannya sampai ia melahirkan.
Aku tidak mau seperti ini Andre, aku masih mencintaimu Andre...
**********
Dua tahun kemudian Andre mendapatkan kabar bahwa setelah proses kelahirannya selesai, Ningsih mengalami gangguan kejiwaan. Dan kini dirawat di sebuah rumah sakit jiwa . dan untuk terakhir kalinya Andre menemui Ningsih di Rumah Sakit Jiwa itu bersama anak – anaknya.
“ aku dan anak-anakmu sudah iklas dan memaafkan mu Ningsih, biarkan aku dan anak – anak mu menepi menemukan kebahagiaan kami. Biarlah untuk sementara kamu menepi disini. Andaikan Tuhan memberikan kesempatan untukmu suatu saat nanti, kami sudah siap menerimamu kembali “
***********selesai***************