Di SMA Citra Harapan, ketua OSIS atau yang biasa disebut ketos selalu menjadi pusat perhatian. Kali ini, ketosnya adalah Aksa, seorang cowok tampan, cerdas, dan populer. Semua siswa mengenalnya, tidak hanya karena prestasinya, tetapi juga karena karismanya yang memikat.
Namun, bagi Alina, siswi kelas XI yang lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan daripada di kantin sekolah, Aksa adalah seseorang yang jauh di luar jangkauannya. Baginya, Aksa hanyalah sosok yang terlalu sempurna untuk menjadi nyata, seperti bintang yang terlalu jauh untuk diraih.
"Lin, kamu tahu nggak? Aksa lagi ngadain acara bakti sosial minggu depan," kata Rina, sahabat Alina, sambil mengunyah roti di kantin.
Alina mengangkat alis. "Lalu? Apa hubungannya sama aku?"
Rina memutar bola matanya. "Ayolah, Lin. Ini kesempatan kamu buat dekat-dekat sama dia. Siapa tahu, dia tertarik sama cewek pintar dan kalem kayak kamu."
Alina mendengus pelan. "Tertarik? Rina, dia bahkan nggak tahu aku ada."
Namun, takdir sepertinya punya rencana lain. Ketika Alina sedang asyik membaca buku di perpustakaan, Aksa tiba-tiba muncul, membawa tumpukan dokumen. Ia tampak kebingungan mencari sesuatu.
"Permisi, kamu tahu di mana rak untuk buku tentang sejarah kota ini?" tanya Aksa dengan senyumnya yang khas.
Alina tertegun, tidak percaya bahwa Aksa sedang berbicara padanya. "Uh... di sana, rak ketiga dari kanan," jawabnya gugup sambil menunjuk ke arah rak yang dimaksud.
"Terima kasih, ya," kata Aksa, lalu pergi dengan langkah tenang.
Alina merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Itu adalah pertama kalinya ia berbicara dengan Aksa, meskipun hanya percakapan singkat. Ia menggelengkan kepala, mencoba kembali fokus pada bukunya, tetapi bayangan wajah Aksa terus terlintas di pikirannya.
Keesokan harinya, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Alina dipanggil oleh guru pembina OSIS ke ruang rapat. Ternyata, Aksa membutuhkan seseorang untuk membantu menyusun proposal acara bakti sosial, dan entah bagaimana namanya terpilih.
"Aku dengar kamu pintar menulis dan menyusun laporan," kata Aksa ketika mereka bertemu di ruang rapat. "Kamu bisa bantu aku, kan?"
Alina hanya bisa mengangguk, meskipun hatinya berdebar-debar. Ia tidak tahu bagaimana namanya bisa muncul, tetapi ia tidak mungkin menolak.
Hari-hari berikutnya, Alina dan Aksa mulai sering bertemu. Mereka menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, mencari referensi untuk proposal. Meskipun awalnya Alina merasa canggung, ia mulai merasa nyaman berbicara dengan Aksa.
"Aku nggak tahu kalau kamu suka baca buku sejarah," kata Aksa suatu hari, ketika mereka sedang membahas dokumen.
"Aku suka belajar tentang masa lalu. Kadang, kita bisa belajar banyak hal dari sejarah," jawab Alina sambil tersenyum tipis.
Aksa memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu berbeda dari cewek-cewek lain, ya."
Alina terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Kata-kata Aksa membuatnya merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
Seiring waktu, hubungan mereka semakin dekat. Aksa mulai sering mencari Alina, bahkan di luar urusan OSIS. Teman-teman Alina mulai menyadari perubahan ini.
"Lin, aku rasa Aksa suka sama kamu," goda Rina suatu hari.
"Jangan konyol. Dia cuma butuh bantuan," jawab Alina, meskipun hatinya berkata lain.
Namun, semua menjadi jelas ketika suatu sore, setelah mereka selesai rapat, Aksa mengantar Alina pulang. Saat mereka berhenti di depan rumah Alina, Aksa tiba-tiba berkata, "Alina, aku punya sesuatu yang ingin aku katakan."
Alina menatapnya dengan bingung. "Apa?"
Aksa menghela napas, seolah sedang mengumpulkan keberanian. "Aku suka sama kamu."
Kata-kata itu membuat Alina terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. "Tapi... kenapa aku? Kamu kan bisa punya siapa saja."
Aksa tersenyum. "Karena kamu berbeda. Kamu nggak pernah berusaha menjadi orang lain untuk menarik perhatian. Kamu jadi diri kamu sendiri, dan itu yang membuat aku suka."
Alina merasa hatinya melompat. Ia tidak pernah membayangkan bahwa ketos yang selalu dianggapnya sempurna ternyata menyukainya.
Setelah pengakuan itu, hubungan mereka perlahan berubah. Aksa mulai lebih sering menghabiskan waktu bersama Alina, dan mereka menjadi pasangan yang tidak terduga di mata semua orang.
Namun, bagi Alina, ini bukan hanya tentang menjadi pasangan ketos yang populer. Ini adalah tentang menemukan seseorang yang bisa melihatnya apa adanya dan mencintainya dengan tulus.
Dan bagi Aksa, Alina adalah bukti bahwa cinta tidak selalu harus dimulai dari hal yang megah. Kadang, cinta dimulai dari percakapan sederhana di perpustakaan.