Di sebuah desa kecil yang terpencil, terdapat sebuah toko barang antik yang sudah berdiri selama puluhan tahun. Toko itu dimiliki oleh seorang pria tua bernama Pak Surya. Barang-barang di toko tersebut terkenal karena keunikannya, mulai dari jam kuno, cermin, hingga koleksi boneka tua. Namun, ada satu boneka yang selalu menarik perhatian, tetapi tidak pernah terjual. Boneka itu diletakkan di lemari kaca di pojok ruangan, dengan pakaian putih lusuh, rambut hitam panjang, dan mata yang seolah hidup.
Boneka itu diberi nama Raisa oleh penduduk sekitar, meskipun Pak Surya tidak pernah mengungkapkan nama sebenarnya. Menurut desas-desus, boneka itu tidak dijual karena menyimpan kutukan. Namun, bagi Nadya, seorang gadis muda yang baru pindah ke desa tersebut, boneka itu terlihat sangat indah dan menarik.
Suatu sore, Nadya masuk ke toko Pak Surya. Matanya langsung tertuju pada boneka Raisa. "Pak, boneka itu dijual, kan?" tanyanya dengan suara penuh antusias.
Pak Surya terkejut. "Boneka ini? Tidak, boneka ini tidak untuk dijual, Nak. Ini hanya pajangan."
Nadya memandang boneka itu dengan penuh kekaguman. "Tapi kenapa? Apa yang spesial dari boneka ini?"
Pak Surya menghela napas, matanya terlihat waspada. "Boneka ini bukan barang biasa. Banyak cerita tentangnya, dan tidak semuanya baik. Percayalah, kau tidak ingin membawanya pulang."
Namun, Nadya merasa penasaran. Ia kembali ke toko itu beberapa kali, memandangi boneka Raisa dari balik kaca. Hingga suatu hari, saat Pak Surya sedang tidak ada di toko, ia melihat lemari kaca itu sedikit terbuka. Tanpa berpikir panjang, Nadya mengambil boneka itu dan membawanya pulang.
Sesampainya di rumah, Nadya menempatkan Raisa di kamarnya, tepat di atas meja dekat tempat tidurnya. Ia merasa senang, seolah memiliki teman baru. Namun, sejak malam pertama boneka itu berada di kamarnya, hal-hal aneh mulai terjadi.
Saat Nadya sedang tidur, ia merasa seperti ada seseorang yang mengawasinya. Ketika ia membuka mata, boneka Raisa tampak berada di posisi yang berbeda dari sebelumnya. Awalnya, Nadya mengira ia hanya lupa, tetapi keanehan itu terus berlanjut.
Suatu malam, Nadya terbangun karena mendengar suara tawa pelan. Suara itu terdengar seperti suara anak kecil. Ia menyalakan lampu kamar dan melihat Raisa, boneka itu, kini duduk di lantai, menghadap ke arahnya.
"Bagaimana bisa kau di sana?" bisik Nadya dengan suara bergetar.
Ia meletakkan Raisa kembali di atas meja dan mencoba tidur lagi. Namun, perasaan tidak nyaman terus menghantuinya. Keesokan paginya, Nadya bangun dan menemukan cermin di kamarnya penuh dengan tulisan aneh yang terlihat seperti tulisan tangan seorang anak kecil.
"Ayo main denganku."
Nadya merasa ketakutan, tetapi ia tidak ingin memberi tahu orang tuanya. Ia mencoba mengabaikan kejadian-kejadian aneh itu, tetapi semuanya semakin memburuk. Barang-barang di kamarnya mulai berpindah tempat, dan ia sering mendengar langkah kaki kecil di malam hari.
Akhirnya, Nadya memutuskan untuk mengembalikan boneka itu ke toko Pak Surya. Namun, saat ia tiba di toko, Pak Surya tampak terkejut.
"Boneka itu... kau mengambilnya?" tanya Pak Surya dengan nada marah.
Nadya mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak tahu ini akan terjadi. Boneka itu... dia hidup."
Pak Surya menghela napas panjang. "Aku sudah bilang, boneka itu bukan untuk dibawa pulang. Raisa adalah boneka keramat, dibuat oleh seorang dukun tua untuk menyimpan roh seorang anak kecil yang meninggal secara tragis. Selama bertahun-tahun, aku menjaga boneka itu agar tidak jatuh ke tangan yang salah."
"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Nadya panik.
Pak Surya memandang Nadya dengan serius. "Kau harus mengembalikan Raisa ke tempat asalnya. Ada sebuah makam tua di hutan di belakang desa. Di sanalah tubuh anak kecil itu dimakamkan. Kau harus meletakkan boneka ini di atas makamnya dan pergi tanpa menoleh ke belakang."
Nadya gemetar mendengar penjelasan itu, tetapi ia tahu bahwa ini satu-satunya cara untuk menghentikan teror yang terjadi padanya.
Malam itu, dengan ditemani oleh Pak Surya, Nadya pergi ke hutan. Mereka menemukan makam tua yang ditutupi oleh semak belukar. Pak Surya mengucapkan beberapa mantra, lalu meminta Nadya untuk meletakkan boneka Raisa di atas makam tersebut.
Namun, saat Nadya hendak pergi, ia merasa seperti ada sesuatu yang menariknya untuk menoleh ke belakang. Ia mendengar suara tawa lagi, tetapi kali ini lebih jelas. Dengan susah payah, ia menahan dirinya untuk tidak menoleh, mengikuti perintah Pak Surya.
Begitu mereka keluar dari hutan, Nadya merasa lega. Boneka itu telah dikembalikan ke tempat asalnya. Namun, sebelum mereka berpisah, Pak Surya memberikan peringatan terakhir.
"Jangan pernah bermain-main dengan barang yang kau tidak tahu asal-usulnya. Beberapa hal memang seharusnya dibiarkan sendiri."
Sejak malam itu, Nadya tidak pernah lagi melihat boneka Raisa atau mendengar suara-suara aneh. Namun, ia tidak pernah lupa dengan pengalaman menyeramkan yang hampir merenggut kewarasannya. Dan toko Pak Surya? Tertutup beberapa minggu kemudian, tanpa penjelasan apa pun. Boneka Raisa, bersama semua cerita misterinya, tetap menjadi bagian dari legenda desa yang menakutkan.