Di sebuah desa kecil bernama Karang Wangi, terdapat sebuah rumah tua yang sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Rumah itu dikenal oleh penduduk sekitar sebagai tempat yang penuh misteri. Anak-anak desa sering menceritakan kisah seram tentang suara-suara aneh yang terdengar di malam hari atau bayangan yang terlihat bergerak di jendela rumah tersebut. Namun, tidak ada yang berani mendekat, kecuali sekelompok remaja yang penasaran akan kebenaran cerita itu.
Malam itu, empat sahabat—Reza, Maya, Fadil, dan Siska—memutuskan untuk menghabiskan malam di rumah tua tersebut. Mereka ingin membuktikan bahwa semua cerita yang beredar hanyalah mitos belaka.
"Serius, kalian yakin mau masuk?" tanya Siska dengan suara gemetar saat mereka berdiri di depan pintu rumah yang berderit.
"Ayolah, ini hanya rumah tua. Tidak ada apa-apa di sini," kata Reza dengan santai, meskipun matanya sesekali melirik ke jendela yang gelap.
"Aku setuju dengan Reza. Kalau kita nggak masuk sekarang, kita nggak akan pernah tahu kebenarannya," tambah Fadil, mencoba terdengar berani.
Maya hanya mengangguk pelan, meskipun tangannya menggenggam erat senter di tangannya.
Mereka masuk ke dalam rumah yang gelap dan berdebu. Bau lembap segera menyergap hidung mereka. Cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah jendela memberikan sedikit penerangan, cukup untuk membuat mereka melihat kondisi di dalam rumah itu.
Di tengah ruangan, mereka menemukan sebuah meja tua dengan sebuah kotak kayu besar di atasnya. Kotak itu tampak terawat, berbeda dengan sisa barang-barang di rumah yang sudah lapuk.
"Ini apa?" tanya Maya sambil membuka kotak itu dengan hati-hati.
Di dalamnya, mereka menemukan sebuah papan permainan ular tangga, lengkap dengan dadu dan bidak-bidak kecil. Namun, papan itu terlihat berbeda dari papan ular tangga biasa. Warna-warna pada kotak-kotaknya gelap, dengan gambar ular yang tampak lebih nyata dan menakutkan.
"Wah, ini antik banget," kata Fadil, mengambil dadu yang terbuat dari kayu.
"Ayo kita coba main," ujar Reza tanpa berpikir panjang.
Siska tampak ragu. "Aku nggak yakin ini ide bagus. Papan ini kelihatan… aneh."
"Ah, jangan penakut. Ini cuma permainan," balas Reza sambil meletakkan bidak-bidak di atas papan.
Akhirnya, mereka semua duduk melingkar di sekitar meja. Reza melempar dadu pertama. Angka lima. Dia memindahkan bidaknya lima langkah maju.
Namun, begitu bidaknya berhenti di kotak kelima, sesuatu yang aneh terjadi. Lampu senter yang mereka bawa berkedip-kedip, dan ruangan menjadi semakin dingin.
"Kamu lihat itu?" bisik Maya, matanya melirik ke arah bayangan di sudut ruangan yang tampak bergerak.
"T-tenang. Itu cuma kebetulan," kata Reza dengan suara yang terdengar lebih pelan.
Gilirannya berlanjut ke Maya. Dia melempar dadu dengan tangan gemetar. Angka tiga. Bidaknya berhenti di sebuah kotak dengan gambar ular kecil.
Tiba-tiba, Maya merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kakinya. Dia melompat kaget dan menjerit. "Apa itu?! Ada yang menyentuhku!"
Fadil menyorotkan senter ke arah kaki Maya, tapi tidak ada apa-apa di sana. "Mungkin cuma perasaanmu," katanya, meskipun wajahnya terlihat pucat.
Permainan berlanjut, meskipun rasa takut mulai menyelimuti mereka. Setiap kali bidak berhenti di kotak dengan gambar ular, sesuatu yang aneh terjadi. Kadang-kadang mereka mendengar bisikan, kadang-kadang ada bayangan yang bergerak di dinding.
Ketika giliran Siska tiba, dia melempar dadu dengan tangan gemetar. Angka enam. Bidaknya berhenti di kotak dengan gambar ular besar yang melingkar.
Begitu bidaknya mendarat, seluruh ruangan berguncang, dan suara mendesis memenuhi udara. Dari sudut ruangan, muncul bayangan ular besar yang bergerak mendekat ke arah mereka.
"Ini nggak mungkin!" teriak Siska, berusaha bangkit dari tempat duduknya.
"Tunggu! Kita nggak bisa berhenti!" seru Reza. "Permainan ini harus diselesaikan!"
"Apa maksudmu?" tanya Fadil dengan panik.
"Ini seperti permainan kutukan. Kita nggak bisa keluar sebelum salah satu dari kita menang," jawab Reza, matanya menatap papan permainan yang kini tampak bersinar aneh.
Mereka semua kembali duduk, meskipun rasa takut semakin besar. Giliran demi giliran berlalu, dan permainan itu semakin menunjukkan keanehan. Setiap ular yang tergambar di papan tampaknya hidup dan mencoba menyerang mereka.
Akhirnya, giliran Maya tiba lagi. Dia melempar dadu, dan bidaknya berhenti di kotak terakhir. Namun, kotak itu dihiasi dengan gambar ular terbesar yang pernah mereka lihat.
Tiba-tiba, ular raksasa muncul dari papan, dengan mata merah menyala dan tubuh yang melingkar di sekeliling mereka. Ular itu membuka mulutnya, menunjukkan taring yang tajam.
"Apa yang harus kita lakukan?!" teriak Siska, menangis ketakutan.
Reza, yang mencoba tetap tenang, berkata, "Kita harus mengakhiri permainan ini. Maya, kamu harus mengatakan 'selesai'!"
Dengan suara gemetar, Maya berteriak, "Selesai! Permainan selesai!"
Ular itu berhenti sejenak, lalu perlahan menghilang ke dalam papan permainan. Ruangan kembali tenang, meskipun hawa dingin masih terasa.
Mereka semua terdiam, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Papan permainan itu kini tampak biasa saja, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
"Kita nggak boleh membawa ini keluar," kata Reza akhirnya.
Mereka sepakat untuk meninggalkan papan itu di rumah tua tersebut dan bersumpah untuk tidak pernah kembali lagi. Malam itu, mereka keluar dari rumah tua dengan langkah tergesa, tidak ingin menoleh ke belakang.
Namun, saat mereka berjalan menjauh, suara tawa pelan terdengar dari dalam rumah. Dan papan permainan itu? Kotak kayunya menutup sendiri, menunggu korban berikutnya.