Malam itu, di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh hutan lebat, angin bertiup pelan, membawa aroma basah dari hujan yang baru saja reda. Sekelompok anak muda berkumpul di rumah tua milik keluarga Reyhan. Rumah itu sudah lama kosong sejak nenek Reyhan meninggal beberapa tahun lalu, dan sejak itu, banyak cerita seram beredar tentang tempat itu. Namun, bagi Reyhan dan teman-temannya, rumah tua itu adalah tempat yang sempurna untuk menghabiskan malam dengan bermain petak umpet.
"Ayo, ini cuma permainan biasa," ujar Reyhan dengan senyum lebar, mencoba meyakinkan teman-temannya yang tampak ragu-ragu.
"Permainan biasa?" tanya Lia, gadis dengan rambut hitam panjang yang tampak waspada. "Rumah ini katanya angker, Rey. Kita nggak tahu apa yang mungkin terjadi."
"Nggak usah takut. Kita cuma main sebentar, lalu pulang," balas Reyhan santai. "Lagi pula, bukankah ini seru? Malam-malam main petak umpet di rumah tua seperti ini."
Akhirnya, lima dari mereka setuju. Ada Reyhan, Lia, Dika, Sarah, dan Arif. Mereka semua berkumpul di ruang tamu yang suram, diterangi hanya oleh cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar. Reyhan mengambil inisiatif untuk menjadi penjaga pertama.
"Baik, aku akan menghitung sampai 30. Kalian semua sembunyilah. Tapi ingat, jangan keluar dari rumah ini. Itu aturan pertama," katanya, dengan nada serius.
Semua mengangguk. Mereka mulai berpencar, mencari tempat persembunyian masing-masing, sementara Reyhan menutup matanya dan mulai menghitung. "Satu... dua... tiga..."
Suara langkah kaki terdengar bergema di lantai kayu yang berderit. Lia bersembunyi di balik lemari besar di kamar lantai dua. Dika memilih untuk berjongkok di bawah tangga, sementara Sarah masuk ke gudang kecil di ujung lorong. Arif, yang dikenal paling pemberani, bersembunyi di loteng, tempat yang katanya paling menyeramkan.
"29... 30! Aku datang!" seru Reyhan, membuka matanya.
Ia mulai berjalan pelan, matanya tajam mengawasi setiap sudut rumah. Setiap langkahnya terdengar jelas di rumah yang hening itu. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan Dika di bawah tangga.
"Ketemu!" teriak Reyhan, menunjuk Dika yang terlihat kecewa.
Giliran mencari terus berlanjut. Reyhan menemukan Sarah di gudang kecil, lalu Lia di balik lemari. Hanya Arif yang belum ditemukan.
"Di mana si Arif?" tanya Dika, bingung. "Dia nggak mungkin keluar dari rumah, kan?"
"Enggak mungkin," jawab Reyhan yakin. "Dia pasti di atas."
Mereka semua naik ke lantai dua, mencari Arif di setiap ruangan. Tapi anehnya, tidak ada tanda-tanda keberadaan Arif. Bahkan di loteng yang ia sebutkan sebelumnya.
"Arif, ini bukan lucu lagi. Keluar, dong!" panggil Sarah, mulai khawatir.
Namun, tak ada jawaban.
Mereka mulai panik. Reyhan memutuskan untuk memeriksa loteng sekali lagi. Kali ini, dia membawa senter. Loteng itu penuh dengan debu dan sarang laba-laba, dengan kotak-kotak tua yang berserakan.
"Arif? Kamu di sini?" panggil Reyhan, suaranya sedikit bergetar.
Tiba-tiba, senter yang dipegang Reyhan berkedip-kedip, lalu mati. Ruangan itu menjadi gelap gulita. Reyhan merasakan hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang saat ia mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Arif, ini nggak lucu!" serunya lagi, namun tetap tak ada jawaban.
Lalu, sesuatu yang dingin menyentuh bahunya. Reyhan berbalik dengan cepat, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Ia mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Di bawah, Lia, Dika, dan Sarah juga merasa ada yang aneh. Mereka mendengar suara-suara dari lantai atas, seperti langkah kaki yang bergerak cepat.
"Reyhan, kamu baik-baik saja?" teriak Dika dari bawah.
Tidak ada jawaban.
Lia memutuskan untuk naik, diikuti oleh Sarah dan Dika. Saat mereka sampai di loteng, mereka menemukan Reyhan berdiri di pojok ruangan, memandang ke arah sebuah sudut yang gelap.
"Reyhan, apa yang kamu lakukan?" tanya Lia, mendekatinya dengan hati-hati.
Reyhan perlahan berbalik, wajahnya pucat dan matanya tampak kosong. "Arif... dia di sini..."
Mereka semua memandang ke arah yang ditunjuk Reyhan, tetapi tidak ada apa-apa di sana, hanya kegelapan.
"Kita harus keluar dari sini," bisik Sarah, merasakan bulu kuduknya meremang.
Namun, sebelum mereka sempat bergerak, pintu loteng tiba-tiba menutup dengan keras, membuat mereka terperangkap. Suara tawa kecil terdengar, namun tidak ada yang tahu dari mana asalnya.
"Apa itu?" tanya Dika, suaranya bergetar.
Tiba-tiba, cahaya kecil muncul di sudut ruangan. Itu adalah Arif, berdiri dengan wajah yang tampak aneh, senyumnya menyeramkan.
"Kalian suka main petak umpet, kan?" katanya dengan suara yang tidak seperti biasanya. "Sekarang, giliran kalian yang sembunyi... atau kalian tidak akan pernah keluar dari sini."
Lia, Sarah, dan Dika memandang Arif dengan ketakutan. Reyhan yang masih berdiri kaku mulai berbisik, "Itu... bukan Arif."
Malam itu, permainan petak umpet yang awalnya hanya untuk bersenang-senang berubah menjadi mimpi buruk. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Arif, tetapi satu hal yang pasti: sesuatu yang jahat telah menguasai rumah itu, dan mereka harus menemukan cara untuk keluar sebelum semuanya terlambat.
Namun, pintu-pintu terkunci, dan waktu seolah berhenti. Dan di tengah kegelapan, suara tawa itu terus bergema, semakin mendekat, memanggil mereka satu per satu. "Ayo... giliran kalian yang sembunyi..."