Di sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh pegunungan, hiduplah seorang wanita bernama Maya. Dia adalah sosok yang ceria, penuh semangat, dan selalu mampu membuat orang di sekitarnya tersenyum. Namun, di balik senyumnya yang menawan, Maya menyimpan sebuah rahasia besar yang hanya dia yang tahu. Dia adalah seorang pengidap HIV, dan penyakit itu telah mengubah cara pandangnya terhadap cinta dan kehidupan.
Maya bertemu dengan Arman, seorang pria yang tulus mencintainya. Arman adalah sosok yang sederhana, pekerja keras, dan selalu ada untuk Maya. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbagi cerita, dan merencanakan masa depan. Namun, ada satu hal yang selalu mengganjal di hati Maya. Dia tidak bisa membiarkan Arman mengetahui tentang penyakitnya. Dia takut, jika Arman tahu, cinta yang mereka miliki akan hancur.
Setiap kali Arman mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Maya, hatinya terasa berat. Dia ingin sekali menerima cinta Arman, tetapi dia juga tahu bahwa dia tidak bisa memberikan masa depan yang layak untuk pria itu. Maya berusaha keras untuk menyembunyikan kondisinya, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dia ingin Arman mencintainya tanpa beban, tanpa mengetahui kebenaran yang menyakitkan.
Hari-hari berlalu, dan kesehatan Maya semakin menurun. Dia sering merasa lelah dan sakit, tetapi dia berusaha untuk tetap kuat di hadapan Arman. Dia tidak ingin pria itu melihatnya dalam keadaan lemah. Suatu malam, saat mereka duduk di bawah bintang-bintang, Arman memegang tangan Maya dan berkata, "Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, Maya. Aku ingin menikahimu."
Maya tersenyum, tetapi air mata mengalir di pipinya. "Arman, aku... aku tidak bisa," jawabnya dengan suara bergetar. "Ada hal yang harus kau ketahui, tetapi aku tidak bisa memberitahumu sekarang."
Arman terlihat bingung, tetapi dia tidak memaksa. Dia hanya mengangguk dan menarik Maya ke dalam pelukannya. "Aku akan menunggu, Maya. Aku akan selalu menunggu."
Waktu berlalu, dan kondisi Maya semakin memburuk. Dia tahu bahwa dia tidak memiliki banyak waktu lagi. Dalam hatinya, dia merasa sangat bersalah karena telah menyembunyikan kebenaran dari Arman. Dia ingin sekali memberitahunya, tetapi rasa takut dan malu menghalanginya. Dia tidak ingin Arman merasa terjebak dalam cinta yang tidak sempurna.
Akhirnya, pada suatu pagi yang cerah, Maya terbangun dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Dia tahu bahwa saatnya telah tiba. Dengan sisa-sisa tenaganya, dia memanggil Arman dan meminta agar mereka berbicara. Arman datang dengan wajah khawatir, dan saat melihat Maya yang terbaring lemah, hatinya terasa hancur.
"Maya, apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat begitu sakit?" tanya Arman dengan suara penuh kepanikan.
Maya menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian. "Arman, aku... aku harus memberitahumu sesuatu yang sangat penting. Aku... aku mengidap HIV," katanya dengan suara bergetar.
Arman terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Apa? Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?" tanyanya, suaranya penuh dengan kebingungan dan kesedihan.
"Aku takut, Arman. Aku takut kau akan meninggalkanku. Aku tidak ingin kau merasa terjebak dalam cinta yang tidak sempurna. Aku mencintaimu, tetapi aku tidak bisa memberikan masa depan yang kau inginkan," jawab Maya sambil menahan air mata.
Arman merasa hatinya hancur. Dia tidak peduli dengan penyakit itu; yang dia inginkan hanyalah Maya di sisinya. "Maya, aku mencintaimu apa adanya. Penyakitmu tidak akan mengubah perasaanku. Aku ingin bersamamu, tidak peduli apapun yang terjadi," katanya dengan tegas.
Namun, Maya tahu bahwa waktu mereka sudah hampir habis. Dia merasakan tubuhnya semakin lemah. "Maafkan aku, Arman. Aku tidak bisa bersamamu. Aku tidak ingin kau menderita karena aku," ucapnya dengan suara pelan.
Hari-hari berikutnya adalah masa-masa yang penuh kesedihan. Maya semakin melemah, dan Arman berusaha sekuat tenaga untuk merawatnya. Dia tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya. Namun, takdir berkata lain. Suatu malam, saat bintang-bintang bersinar terang, Maya menghembuskan napas terakhirnya di pelukan Arman.
Setelah kepergian Maya, Arman merasa hancur. Dia tidak bisa memahami mengapa wanita yang dicintainya memilih untuk menyimpan rahasia itu. Namun, seiring berjalannya waktu, dia mulai menyadari bahwa cinta sejati tidak mengenal batasan. Maya mencintainya dengan tulus, meskipun dia tidak bisa memberikan masa depan yang diinginkan.
Di hari pemakaman Maya, Arman berdiri di samping makamnya dengan hati yang penuh duka. Dia berjanji untuk selalu mengenang cinta mereka, meskipun singkat. Dia tahu bahwa cinta Maya adalah cinta yang tulus, dan dia akan selalu menyimpannya di dalam hatinya.
Cinta mereka mungkin tidak berakhir dengan bahagia, tetapi itu adalah cinta yang sejati. Cinta yang mengajarkan Arman arti pengorbanan dan ketulusan. Meskipun Maya telah pergi, kenangan dan cinta mereka akan selalu hidup dalam hati Arman, selamanya.