Aku yakin suamiku selingkuh.
Pikirkan ini: setiap hari Rabu, tepat pukul tujuh malam, Damar tiba-tiba punya alasan untuk keluar rumah. Kadang rapat mendadak, kadang teman lama minta tolong, kadang katanya mau nge-gym—padahal perutnya makin maju, bukan mundur.
Awalnya aku nggak curiga. Tapi setelah empat minggu berturut-turut? Aku mulai waspada.
"Aku pergi dulu, ya," katanya suatu malam, tepat pukul tujuh.
Aku melirik jam dinding. Tepat waktu seperti biasa. "Ke mana?" tanyaku santai.
"Teman kantor ada masalah, aku bantuin sebentar."
Hah, alasan baru lagi. Aku menyilangkan tangan, menatapnya tajam. "Bantuin apa?"
Damar terdiam sepersekian detik. "Dia... kesulitan pindahan."
Aku pura-pura berpikir. "Pindahan jam segini? Hari Rabu?"
Damar tertawa kecil, meraih jaketnya. "Iya, kamu tahu sendiri jalanan macet kalau siang."
Aku menyipitkan mata. Baiklah, Pak Suami. Kalau memang kamu punya rahasia di hari Rabu, aku akan cari tahu.
---
Minggu berikutnya, aku sudah siap. Begitu Damar pamit, aku langsung menyambar jaket, memesan ojek online, dan mengikutinya diam-diam.
Motor ojek yang kunaiki melaju di belakang mobilnya dengan hati-hati. Aku nyaris kehilangan jejak saat lampu merah menyala, tapi untunglah jalanan sedang sepi.
Mobilnya berhenti di sebuah restoran kecil di pojokan kota. Bukan tempat mahal atau romantis. Justru terlihat biasa saja, hampir lusuh. Aku mengernyit. Ini tempat selingkuh?
Damar turun dari mobil, masuk ke dalam restoran. Aku mengikuti, mencoba bersikap setenang mungkin.
Begitu aku masuk, aku langsung melihatnya. Duduk di meja pojok, dengan seorang wanita. Wanita itu cantik, berambut sebahu, dan... tertawa terbahak-bahak.
Dadaku panas. Ternyata benar dugaanku!
Aku berjalan mendekat dengan langkah mantap, bersiap memergoki suamiku. Tapi sebelum aku sempat membuka mulut, wanita itu berkata, "Mas Damar, aku nggak bisa, sumpah! Kalau aku ngomong ‘Aku cinta padamu’ pakai nada itu, pasti aku ketawa duluan!"
Aku berhenti.
Damar tertawa. "Coba lagi, Nia. Kalau mau audisi sinetron, kamu harus serius. Percaya diri!"
Audisi?
Aku melirik meja mereka. Ada naskah berserakan. Aku mengambil satu lembar dan membaca tulisan di atasnya:
"Skenario Sinetron: Cinta di Antara Dua Hati"
Otakku memproses informasi ini dengan lambat. Aku melihat Damar dan wanita itu bergantian.
"Apa ini?" tanyaku akhirnya.
Damar tersentak, matanya membesar melihatku. "Sayang?! Kok kamu di sini?"
"Aku yang harusnya nanya begitu," jawabku tajam. "Kamu latihan sinetron?"
Nia, wanita yang bersamanya, langsung berdiri. "Astaga, ini pasti Mbak Rani, ya? Aku Nia, teman komunitas Mas Damar."
"Komunitas?" aku mengulang.
Damar menarik napas panjang. "Aku mau kasih kejutan buat kamu, tapi kayaknya malah jadi salah paham, ya?"
Aku menatapnya tajam. "Keju—"
"Dia ikut audisi sinetron!" potong Nia cepat. "Mas Damar gabung di komunitas teater buat seru-seruan, terus kami tantang dia ikut audisi. Dia latihan setiap Rabu di sini!"
Aku terdiam. Mulutku terbuka, lalu tertutup lagi. Sinetron? Teater?
Aku menatap suamiku yang sekarang tampak canggung. "Jadi... kamu nggak selingkuh?"
Damar menggeleng. "Aku cuma nggak mau kamu tahu sampai aku keterima. Aku pikir kamu bakal ketawa kalau tahu aku main sinetron."
Aku tertawa. "Ya jelas ketawa! Aku kira kamu punya wanita simpanan!"
Damar menghela napas lega. "Ya Tuhan, jadi kamu curiga selama ini?"
Aku mengangguk. "Ya iya! Kamu selalu pergi setiap Rabu! Siapa yang nggak curiga?"
Nia tertawa. "Wah, aku nggak enak, deh. Tapi tenang, Mbak. Mas Damar jujur-jujur banget. Bahkan adegan pegangan tangan aja dia canggung banget!"
Aku melirik Damar yang wajahnya sedikit memerah. Aku menghela napas panjang, lalu ikut tertawa. "Astaga, jadi aku buang-buang energi buat mikirin yang nggak-nggak?"
Damar tersenyum. "Ya, maaf, ya. Tapi ini juga lucu, kok."
Aku menepuk dahinya pelan. "Lain kali ngomong! Biar aku nggak merasa kayak detektif dadakan!"
Damar menggenggam tanganku. "Deal. Tapi kalau aku keterima, kamu nonton sinetronnya, ya?"
Aku menyeringai. "Tergantung. Kalau aktingnya jelek, aku bakal nyebar video kamu ke grup keluarga!"