Oleh Muhammad Sapii
---
Di dalam gelap malam yang mencekam, suara detak jam di dinding menjadi satu-satunya pengingat bahwa waktu terus berjalan. Fira terbangun dari tidurnya, matanya terbuka lebar, namun pikirannya masih terperangkap dalam mimpi yang baru saja meninggalkannya. Mimpi itu begitu nyata, seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang begitu dekat, namun kini terasa semakin jauh.
Di dalam mimpi itu, ia berjalan di sebuah taman yang luas, penuh dengan bunga-bunga yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Ada seorang pria yang berdiri di sana, menunggu dengan senyum yang mengingatkannya pada sesuatu—seseorang yang begitu berarti. Namun, saat ia hendak mendekat, pria itu perlahan menghilang, dan Fira terbangun dengan dada yang sesak, seolah kehilangan sesuatu yang sangat penting.
"Hanya mimpi," bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan hati yang gelisah.
Namun, entah mengapa, mimpi itu terus menghantuinya. Setiap kali ia menutup mata, pria itu hadir lagi, seperti bayangan yang tak bisa dihindari. Fira merasa seperti berada di persimpangan antara dunia nyata dan dunia mimpi, terjebak di antara dua dunia yang tak pernah bisa bersatu. Ia ingin memahami arti dari mimpi itu, ingin tahu siapa pria itu, dan mengapa ia merasa begitu familiar.
Hari-hari berlalu, namun bayangan itu terus mengikuti. Setiap kali ia berjalan di jalanan yang sama, ia merasa seperti pria itu ada di dekatnya, hanya beberapa langkah di depannya. Bahkan di tengah keramaian, ada saat-saat ketika Fira merasa seperti ada yang mengamatinya, meskipun ia tak pernah melihat sosok itu lagi.
Suatu sore, saat Fira duduk di sebuah kafe kecil di pinggir jalan, matanya tak sengaja bertemu dengan seorang pria yang duduk sendirian di meja dekat jendela. Wajahnya tampak biasa, namun ada sesuatu yang mengingatkan Fira pada mimpi-mimpinya. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang dalam, seolah tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Tanpa berkata apa-apa, pria itu tersenyum, dan Fira merasa seolah waktu berhenti sejenak.
"Ini dia," pikir Fira, merasa seolah segala sesuatu di dunia ini mengarah padanya. Ia merasa seperti berada di titik balik dalam hidupnya, di saat mimpi dan kenyataan akhirnya bertemu. Hatinya berdegup kencang, dan dalam hatinya, Fira tahu bahwa ia harus mendekat, meskipun tak tahu apa yang akan terjadi.
Fira mengumpulkan keberanian dan berjalan mendekat. Saat ia sampai di meja pria itu, dia bisa merasakan getaran yang aneh, seperti magnet yang menariknya lebih dekat. Pria itu memandangnya dengan senyum yang begitu familiar, dan Fira tak bisa menahan diri lagi.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Fira dengan suara pelan.
Pria itu hanya tersenyum, tatapannya seolah berkata lebih dari seribu kata. "Mungkin kita belum bertemu di dunia ini, tapi entah mengapa, aku merasa kita sudah lama saling mengenal."
Fira merasa lidahnya kelu. Ia tak bisa menjelaskan perasaan yang datang begitu mendalam, namun ada rasa yang begitu kuat bahwa semuanya bukanlah kebetulan. Mereka duduk bersama, berbicara tentang hal-hal kecil, tentang hidup, tentang mimpi, tanpa sadar waktu berjalan begitu cepat.
Selama percakapan itu, Fira menyadari sesuatu yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Mimpi itu bukanlah sekadar mimpi. Itu adalah petunjuk, sebuah panggilan yang mengarah padanya, untuk menunjukkan bahwa ada hal-hal dalam hidup yang lebih besar dari sekadar kenyataan yang bisa dilihat dengan mata. Kadang, mimpi bukanlah ilusi, melainkan gambaran dari sesuatu yang akan datang, yang hanya bisa dimengerti ketika waktunya tiba.
Saat matahari terbenam, Fira merasa seperti akhirnya menemukan sesuatu yang hilang selama ini. Bukan hanya pria itu, tetapi juga dirinya sendiri. Ia mulai memahami bahwa dalam perjalanan hidupnya, ia harus berani memeluk impian-impian yang selama ini dianggapnya tak lebih dari bayangan, dan mengubahnya menjadi kenyataan.
Mimpi dan kenyataan, meskipun terlihat begitu berbeda, ternyata saling melengkapi. Fira tersenyum, menyadari bahwa mungkin inilah yang disebut takdir—sebuah pertemuan yang telah digariskan, yang hanya bisa dipahami ketika kita berani mengejar mimpi, tanpa takut akan apa yang akan terjadi.
Dan malam itu, saat ia berjalan pulang, Fira merasa seolah ia tidak lagi sendirian. Mimpinya kini bukan hanya sekadar ilusi, tetapi kenyataan yang pelan-pelan mulai membentuk hidupnya, dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.