Di sebuah rumah kecil yang hampir runtuh di ujung desa, Mita duduk termenung. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat. Namun matanya menyiratkan kepintaran yang tak biasa. Hari itu, tubuhnya semakin lemah, tapi ia tak mau mengeluh. Ayahnya, seorang kuli pasar, sedang bekerja keras demi sesuap nasi untuk mereka.
Tiba-tiba, ruangan itu menjadi dingin. Sesosok makhluk tinggi berjubah hitam berdiri di sudut kamar. Suaranya berat namun lembut.
“Mita, waktumu telah tiba,” kata Malaikat Maut.
Mita menatap makhluk itu dengan tenang, meski hatinya bergetar. Ia tahu hari ini akan datang, tapi ia masih memiliki satu harapan.
“Tunggu… Jangan sekarang,” pinta Mita pelan.
“Waktu tidak menunggu siapa pun,” jawab sang malaikat tanpa ekspresi.
Mita menggelengkan kepala. “Aku tahu kamu punya tugas, tapi aku punya permintaan. Kumohon, tunggu sampai ayahku pulang.”
Malaikat itu terdiam sejenak. “Mengapa? Tidak ada yang bisa kau lakukan. Semuanya telah ditentukan.”
Air mata mengalir di pipi Mita. “Aku hanya ingin melihat ayahku untuk terakhir kali. Dia sudah kehilangan segalanya. Ibu meninggalkan kami saat aku masih kecil. Ayah berjuang sendiri untuk membesarkan aku. Aku tidak mau pergi tanpa mengatakan padanya bahwa aku sangat mencintainya.”
Malaikat Maut mengamati Mita, lalu berkata, “Cinta itu tidak memerlukan kata-kata, Mita. Ayahmu tahu.”
“Tapi aku ingin dia mendengarnya langsung dariku. Aku ingin dia tahu bahwa semua perjuangannya tidak sia-sia. Aku ingin memeluknya sekali lagi.”
Keheningan melingkupi ruangan itu. Sang malaikat melihat jiwa yang begitu tulus dalam tubuh kecil itu. Namun, tugasnya adalah mutlak.
“Mita, aku tidak bisa menunggu lebih lama.”
Mita memandang malaikat itu dengan penuh air mata. “Kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi ayahku. Dia bekerja dari pagi sampai malam, mengangkat beban berat di pasar, semua demi aku. Dia bahkan jarang makan agar aku bisa kenyang. Jika aku pergi tanpa bertemu dengannya, itu akan menghancurkan hatinya.”
Malaikat itu terdiam lebih lama. Ia melihat sebuah cinta yang begitu murni, sesuatu yang jarang ia temui.
“Baiklah, aku akan memberimu waktu. Tapi hanya sampai ayahmu pulang.”
Mita tersenyum tipis, meski tubuhnya semakin lemah. Ia menunggu dengan sabar, berbaring di kasur tipisnya, berharap mendengar langkah kaki ayahnya.
Ketika akhirnya pintu terbuka dan sosok ayahnya masuk, Mita memaksakan diri tersenyum.
“Ayah…” panggilnya lirih.
Ayahnya segera menghampiri, memeluknya dengan penuh kasih sayang. “Mita, maaf ayah baru pulang. Ayah bawa makanan untuk kita.”
Mita menatap wajah ayahnya, mencoba menghafalkan setiap garisnya. “Ayah, aku ingin bilang sesuatu. Terima kasih sudah jadi ayah yang luar biasa. Aku sayang sekali sama Ayah.”
Sang ayah tertegun, air matanya jatuh tanpa ia sadari. “Kenapa kamu bicara seperti itu, Nak? Kamu hanya perlu sembuh. Ayah akan berusaha lebih keras untuk mengobatimu.”
Mita tersenyum, matanya mulai menutup perlahan. “Ayah, aku lelah. Tapi aku bahagia. Aku akan selalu mencintai Ayah.”
Dan sebelum ayahnya sempat berkata lebih banyak, napas terakhir Mita terhembus. Di sudut ruangan, Malaikat Maut menyaksikan dalam diam, mengangkat jiwa kecil itu dengan penuh kehormatan.
Cinta Mita kepada ayahnya menjadi kenangan yang tak pernah hilang, bahkan setelah kepergiannya.
Penulis Muhammad Sapii belawong pringgabaya