Prolog
Hidupku adalah rangkaian kehilangan. Aku pernah berharap bahwa hidup akan membaik, tapi takdir berkata lain. Hari ini, di bawah langit kelabu, aku duduk memandangi gitar tua yang mulai retak. Gitar ini adalah satu-satunya peninggalan ayah—seorang pemusik jalanan yang lebih sering dipandang rendah daripada dihormati.
Ayah selalu berkata, “Haris, peluk takdirmu. Tuhan tidak pernah salah menulis jalan hidupmu.” Tapi kata-kata itu hanya terasa seperti angin lalu saat hidup terus memberiku luka. Sampai aku bertemu dengan Aira, gadis kecil yang membuatku menyadari bahwa takdir, seburuk apa pun, bisa menjadi anugerah terindah.
Bab 1: Gitar yang Menyimpan Luka
Aku tidak pernah menyangka akan menjadi pengamen di jalanan. Awalnya, aku hanya ingin belajar memainkan gitar ayah untuk mengingatnya. Tapi, hidup tidak memberiku banyak pilihan. Ibuku bekerja sebagai buruh cuci, dan aku harus membantu membeli beras untuk makan sehari-hari.
Hari itu, aku memainkan lagu lama di depan sebuah toko roti. Orang-orang berlalu lalang, tidak ada yang peduli. Tapi saat aku hendak berhenti, seorang gadis kecil datang mendekat. Dia tidak memberiku uang, hanya sebuah senyuman.
“Mas, lagunya bagus,” katanya dengan suara lembut.
Aku tersenyum kecil, walaupun hatiku penuh kecewa. “Terima kasih. Kamu suka musik?”
Gadis itu mengangguk. “Iya. Tapi aku nggak bisa beli gitar. Ibuku nggak punya uang.”
Kata-kata itu menamparku. Aku ingin menolak percaya bahwa ada orang lain yang lebih menderita dariku, tapi Aira membuktikan sebaliknya.
Bab 2: Pelajaran dari Jalanan
Sejak hari itu, Aira sering datang menemui aku saat aku mengamen. Dia tidak pernah meminta apa-apa. Kadang, dia hanya duduk mendengarkan, kadang dia bertanya tentang musik. Aku baru tahu kemudian bahwa Aira adalah anak jalanan yang kehilangan ibunya sejak kecil.
Suatu hari, Aira berkata, “Mas, kenapa Mas terus nyalahin Tuhan? Takdir itu bukan untuk disalahin, tapi untuk diterima.”
Aku terdiam. Kata-kata Aira terdengar jauh lebih bijaksana daripada usianya yang baru sepuluh tahun.
“Gimana caranya peluk takdir, kalau takdirnya bikin kita susah?” tanyaku.
Aira tersenyum, menunjukkan gigi depannya yang ompong. “Susah itu hanya bagian kecil dari rencana besar Tuhan. Kalau nggak ada susah, Mas nggak akan tahu rasanya senang.”
Bab 3: Melodi untuk Tuhan
Aira mengubah hidupku. Dia mengajarkanku bahwa setiap nada dalam hidup, bahkan yang terdengar sumbang, adalah bagian dari melodi indah yang dirancang Tuhan. Bersama Aira, aku mulai menulis lagu-lagu baru, bukan lagi tentang luka, tapi tentang harapan.
Satu hari, aku mendapat undangan untuk tampil di sebuah acara amal. Itu adalah kesempatan besar untuk menunjukkan karya kami. Tapi malam sebelum acara, aku menemukan Aira terbaring lemah di pinggir jalan. Tubuhnya demam tinggi, dan dia tidak bisa bicara.
Bab 4: Takdir yang Membuka Mata
Aku membawa Aira ke rumah sakit dengan uang terakhir yang kupunya. Dokter mengatakan bahwa Aira mengidap penyakit serius yang sudah lama dia sembunyikan. Aira tahu bahwa hidupnya tidak lama, tapi dia tidak pernah mengeluh.
“Mungkin Tuhan kasih aku takdir ini supaya aku bisa ketemu Mas,” bisiknya di tengah rasa sakit.
Aku tidak bisa menahan air mata. Selama ini, aku berpikir bahwa hidupku yang paling malang. Tapi Aira, dengan segala keterbatasannya, mampu melihat takdir sebagai anugerah.
Epilog
Setelah kepergian Aira, aku melanjutkan hidup dengan cara yang berbeda. Lagu-lagu yang kubawakan di jalanan sekarang penuh dengan pesan harapan. Takdir mungkin tidak selalu sesuai dengan keinginan kita, tapi jika kita menerimanya dengan ikhlas, takdir akan menjadi jalan menuju kebahagiaan sejati.
Dan saat aku memainkan gitar di bawah langit yang cerah, aku tahu bahwa Aira selalu mendengarkan, di tempat terbaik yang Tuhan siapkan untuknya.
---
Ditulis oleh: Muhammad Sapii Belawong Pringgabaya