Lea duduk di kursi kayu kecil di sebuah kafe dengan pencahayaan temaram. Secangkir kopi hitam di depannya sudah dingin sejak tadi. Pikirannya melayang-layang, kembali kepada pesan terakhir dari Rangga yang terus menghantui pikirannya.
"Aku sayang kamu, Lea. Tapi aku nggak bisa ninggalin Carry."
Kalimat itu seperti palu yang menghancurkan hatinya berkeping-keping. Lea tahu sejak awal hubungan mereka salah. Rangga adalah milik orang lain—Carry, seorang perempuan cantik dan sempurna yang memiliki segalanya. Lea hanyalah bayangan yang selalu ada di sela-sela waktu Rangga.
Namun, bagaimana mungkin ia bisa pergi begitu saja? Bagaimana mungkin ia meninggalkan seseorang yang telah ia cintai sedalam ini?
---
Semua bermula satu tahun yang lalu.
Lea bertemu Rangga di sebuah seminar kampus. Rangga adalah pembicara, sedangkan Lea hanya salah satu peserta. Tetapi entah bagaimana, tatapan pertama Rangga padanya terasa berbeda. Seusai seminar, Rangga menghampirinya dengan senyuman hangat.
“Kamu suka diskusi tadi?” tanya Rangga.
Lea hanya mengangguk. Ia bukan tipe yang mudah berbicara dengan orang baru. Tapi Rangga berbeda. Lelaki itu terus mengajaknya berbicara, membuatnya merasa nyaman dengan cara yang tak pernah dirasakannya sebelumnya.
Obrolan itu berlanjut menjadi pertemuan-pertemuan berikutnya. Rangga selalu memiliki alasan untuk menghubunginya—membahas pekerjaan, bertanya soal tugas, atau sekadar memastikan bahwa Lea baik-baik saja.
Lea tidak tahu kapan perasaan itu mulai tumbuh. Tapi ia tahu perasaan itu salah sejak awal. Rangga sudah punya Carry, pacarnya selama tiga tahun. Tapi Rangga tak pernah sekalipun menyebutkan nama Carry saat bersama Lea, seolah Carry tidak pernah ada di hidupnya.
“Lea, kamu nyaman nggak sama aku?” tanya Rangga suatu malam saat mereka duduk berdua di tepi danau.
Lea menatapnya dengan ragu. “Kenapa nanya begitu?”
“Karena aku nyaman sama kamu,” jawab Rangga tanpa ragu.
Jawaban itu membuat hati Lea bergetar. Tapi ia tahu, jawaban itu juga berbahaya.
---
Hubungan mereka terus berjalan, semakin dalam, semakin sulit untuk dihentikan. Rangga selalu hadir di saat Lea membutuhkan, dan Lea selalu menjadi tempat Rangga bersandar setiap kali ia merasa Carry tidak ada untuknya.
“Kamu tahu, Carry itu terlalu sibuk dengan dunianya,” kata Rangga suatu kali. “Dia sayang sama aku, tapi dia nggak pernah benar-benar hadir.”
“Lalu kenapa kamu nggak putus aja?” tanya Lea, meskipun ia tahu jawabannya.
“Aku nggak bisa, Lea. Dia terlalu berarti buatku. Dia sudah ada di hidupku sejak lama.”
Lea terdiam. Ia ingin marah, ingin menyuruh Rangga berhenti membuatnya berharap. Tapi hatinya terlalu lemah. Ia mencintai Rangga lebih dari yang seharusnya.
---
Namun, hubungan seperti ini tidak pernah berjalan mulus.
Carry mulai mencurigai sesuatu. Ia pernah menghubungi Lea melalui media sosial, mengajaknya bertemu secara langsung.
“Lea, aku tahu kamu dekat sama Rangga,” kata Carry dengan suara tenang tapi tajam.
Lea mencoba menyangkal, tapi Carry menatapnya dengan tatapan penuh keyakinan. “Aku nggak bodoh. Aku cuma mau kamu tahu, aku dan Rangga sudah lama bersama. Kami punya rencana masa depan. Kalau kamu memang peduli sama dia, kamu harus berhenti mengganggunya.”
Kata-kata itu menancap tajam di hati Lea. Tapi yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa Rangga tidak pernah benar-benar memperjuangkannya.
Malam itu, Lea bertemu Rangga untuk mengakhiri semuanya.
“Rangga, aku nggak bisa terus begini,” katanya dengan suara gemetar.
Rangga menatapnya dengan mata penuh kepanikan. “Kenapa, Lea? Apa aku salah? Aku sayang kamu.”
“Tapi kamu juga sayang Carry,” balas Lea. “Dan aku capek jadi pilihan kedua. Aku nggak mau terus-terusan menunggu kamu memilih, sementara aku tahu kamu nggak akan pernah benar-benar memilih aku.”
Rangga terdiam, tidak mampu menjawab.
“Lea, aku butuh kamu,” katanya akhirnya.
“Tapi aku juga butuh seseorang yang mencintai aku sepenuhnya, Rangga. Dan itu bukan kamu.”
Lea berdiri, menatap Rangga untuk terakhir kalinya. “Aku harap kamu bahagia dengan Carry. Aku harap suatu hari kamu bisa jujur pada dirimu sendiri.”
Tanpa menunggu jawaban, Lea melangkah pergi.
---
Di luar, hujan mulai turun. Lea berjalan tanpa payung, membiarkan air hujan bercampur dengan air matanya.
Malam itu, Lea menyadari sesuatu. Ia memang mencintai Rangga, tapi ia mencintai dirinya sendiri lebih. Dan itu adalah cinta yang selama ini ia lupakan.
Ia tahu luka itu akan tetap ada. Tapi ia juga tahu, waktu akan menyembuhkan segalanya. Dan suatu hari nanti, ia akan menemukan seseorang yang mencintainya tanpa keraguan, tanpa perhitungan, tanpa kebohongan.
Lea tersenyum kecil di tengah hujan. Untuk pertama kalinya, ia merasa bebas.
Dua Tahun Kemudian
Lea duduk di sebuah ruangan kantor yang luas dan minimalis. Ia kini bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan besar, sesuatu yang selalu menjadi mimpinya sejak kecil. Tangannya lincah mengetik revisi naskah di laptopnya, sementara secangkir kopi hangat di meja menguarkan aroma harum.
Ponselnya bergetar di atas meja. Lea melirik layar dan melihat sebuah nama yang tak asing lagi: Rangga.
Ia terdiam sejenak. Nama itu sudah lama tidak muncul di hidupnya. Dua tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. Setelah malam penuh hujan itu, Rangga tidak pernah lagi menghubunginya, dan Lea pun memilih untuk memutuskan semua kontak dengannya.
Dengan hati-hati, Lea membuka pesan itu.
"Hai, Lea. Apa kabar? Aku ada di kota kamu sekarang. Bisa ketemu?"
Pesan itu membuat dadanya berdesir. Namun, bukan lagi rasa sakit atau harapan yang muncul, melainkan campuran keingintahuan dan kehati-hatian. Lea menarik napas panjang, lalu membalas singkat.
"Hai, Rangga. Baik. Kapan?"
---
Mereka bertemu di sebuah kafe sederhana yang pernah menjadi tempat favorit mereka. Ketika Rangga masuk, Lea menyadari bahwa waktu juga telah mengubah lelaki itu. Wajahnya masih sama, tapi ada garis-garis lelah di sekitar matanya yang tidak pernah ada sebelumnya.
“Lea,” sapa Rangga sambil tersenyum.
Lea hanya mengangguk sopan, menyembunyikan perasaannya dengan senyuman kecil. Mereka duduk berhadapan, dan sejenak hanya keheningan yang mengisi ruang di antara mereka.
“Aku nggak tahu harus mulai dari mana,” kata Rangga akhirnya. “Tapi aku ingin minta maaf.”
Lea mengangkat alis. “Minta maaf?”
“Untuk semuanya. Untuk semua yang aku lakukan ke kamu dulu,” kata Rangga dengan nada tulus. “Aku tahu aku salah. Aku egois. Aku nggak pernah benar-benar berpikir soal perasaan kamu.”
Lea tersenyum kecil. “Kamu butuh dua tahun untuk menyadari itu?”
Rangga menunduk, merasa malu. “Iya. Dua tahun ini banyak yang berubah. Aku dan Carry sudah nggak bersama lagi.”
Lea terdiam sejenak. “Kenapa?”
“Hubungan kami memang sudah retak sejak lama. Setelah kamu pergi, aku mulai sadar bahwa aku hanya bertahan dengan Carry karena takut kehilangan zona nyaman, bukan karena benar-benar cinta.”
Lea mengangguk pelan. Ia tahu ia seharusnya merasa lega mendengar itu, tapi yang ia rasakan hanyalah kekosongan.
“Jadi, kenapa kamu ingin bertemu?” tanya Lea akhirnya.
Rangga menatapnya dalam. “Karena aku ingin memperbaiki semuanya. Aku tahu aku nggak pantas minta kesempatan kedua, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu, Lea. Dan aku menyesal telah menyia-nyiakan kamu dulu.”
Kata-kata itu menusuk hati Lea. Dulu, ia mungkin akan menangis bahagia mendengarnya. Tapi sekarang, ia hanya merasa tenang.
“Rangga,” kata Lea pelan, “aku sudah memaafkan kamu. Tapi aku nggak bisa kembali ke masa lalu.”
Rangga terkejut. “Maksud kamu?”
“Aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang. Aku sudah belajar mencintai diriku sendiri. Dan aku sadar, aku nggak butuh seseorang yang hanya datang ketika mereka kehilangan segalanya.”
Wajah Rangga berubah. Ada penyesalan di matanya, tapi juga rasa hormat. “Aku mengerti. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik, Lea.”
Lea tersenyum lembut. “Terima kasih, Rangga. Untuk semuanya.”
---
Ketika Lea keluar dari kafe itu, ia merasa ringan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar bebas dari bayang-bayang masa lalunya.
Ponselnya bergetar, sebuah pesan dari seseorang yang kini mengisi hari-harinya.
"Sudah selesai? Aku di depan kafe. Aku jemput kamu."
Lea tersenyum. Ia tahu, masa lalunya adalah bagian dari dirinya. Tapi masa depannya kini bersama seseorang yang mencintainya sepenuh hati.