Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan lebat, hiduplah seorang pemuda bernama Raka. Raka adalah seorang pemuda tampan, tetapi kesepian selalu menyelimuti hatinya. Dia jatuh cinta pada seorang gadis bernama Maya, yang tinggal di desa yang sama. Namun, Maya tidak pernah memperhatikan Raka. Dia lebih tertarik pada Danu, pemuda kaya yang selalu dikelilingi oleh pengagum.
Suatu malam, saat Raka berjalan pulang dari ladang, dia mendengar bisikan dari dalam hutan. Suara itu memanggilnya, seolah mengundangnya untuk mendekat. Raka, yang penasaran, mengikuti suara itu hingga menemukan seorang nenek tua yang duduk di depan api unggun. Nenek itu mengenakan pakaian lusuh dan memiliki tatapan tajam.
"Anak muda, apa yang kau cari di malam yang gelap ini?" tanya nenek itu.
Raka menceritakan kisah cintanya yang tak berbalas. Nenek itu mendengarkan dengan seksama, lalu tersenyum. "Jika kau ingin mendapatkan cinta Maya, aku bisa membantumu. Tapi ingat, cinta yang dipaksakan tidak akan pernah tulus," katanya.
Raka, yang sudah putus asa, mengangguk. "Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya.
Nenek itu mengeluarkan sebuah botol kecil berisi bubuk berwarna merah. "Ini adalah pelet cinta. Campurkan bubuk ini dengan air dan ucapkan mantra ini saat bulan purnama," katanya, memberikan botol itu kepada Raka.
Mantra yang harus diucapkan adalah:
*"Cinta yang terpendam, datanglah padaku,
Dengan kekuatan bulan, aku memanggilmu.
Maya, oh Maya, hatimu kuinginkan,
Dengan pelet ini, cintamu kuperoleh."*
Raka merasa bersemangat. Dia pulang ke rumah dan menunggu malam purnama. Saat malam tiba, dia mencampurkan bubuk pelet dengan air dan mengucapkan mantra tersebut dengan penuh harapan. Setelah selesai, dia merasa ada sesuatu yang berbeda di udara.
Keesokan harinya, Raka melihat Maya berjalan di pasar. Dia merasa jantungnya berdebar. Tiba-tiba, Maya menghampirinya. "Raka, aku ingin berbicara denganmu," katanya, senyumnya membuat Raka terpesona.
Maya mulai menghabiskan waktu bersamanya. Mereka berbincang, tertawa, dan Raka merasa bahagia. Namun, seiring berjalannya waktu, Raka mulai merasakan ada yang aneh. Maya tampak terlalu terikat padanya, seolah tidak bisa menjauh. Dia tidak lagi tertarik pada Danu, dan semua perhatian Maya tertuju pada Raka.
Raka merasa bersalah. Dia menyadari bahwa cinta yang didapatkan dengan cara seperti itu tidak tulus. Dia ingin Maya mencintainya karena siapa dirinya, bukan karena pelet yang dia gunakan. Raka memutuskan untuk mencari nenek tua itu lagi.
Setelah berhari-hari mencari, Raka akhirnya menemukan nenek itu di tempat yang sama. "Nenek, aku ingin mengembalikan pelet ini. Aku tidak ingin cinta yang dipaksakan," katanya dengan penuh penyesalan.
Nenek itu menatap Raka dengan bijak. "Cinta yang tulus tidak bisa dipaksakan, anak muda. Jika kau ingin mengembalikan pelet ini, kau harus mengucapkan mantra ini," katanya, memberikan Raka mantra baru.
Mantra yang harus diucapkan adalah:
*"Cinta yang terpaksa, aku lepaskan,
Kembali ke alam, aku mohon,
Maya, oh Maya, cintamu kuinginkan,
Tapi biarlah hatimu memilih jalan."*
Raka pulang ke rumah dan menunggu malam purnama berikutnya. Saat bulan bersinar terang, dia mengucapkan mantra itu dengan penuh harapan. Setelah selesai, dia merasa lega, seolah beban di hatinya terangkat.
Keesokan harinya, Raka melihat Maya lagi. Namun kali ini, Maya tampak lebih ceria dan bebas. "Raka, terima kasih telah menjadi teman yang baik. Aku merasa lebih baik sekarang," katanya, senyumnya tulus.
Raka merasa bahagia melihat Maya kembali menjadi dirinya sendiri. Dia menyadari bahwa cinta sejati tidak bisa dipaksakan. Dia berjanji untuk selalu mendukung Maya, apapun pilihannya.
Sejak saat itu, Raka dan Maya menjadi teman baik. Raka belajar untuk mencintai tanpa mengharapkan balasan, dan Maya menemukan kebahagiaan dalam hidupnya sendiri. Mereka berdua menyadari bahwa cinta yang tulus adalah yang paling berharga, dan tidak ada pelet atau mantra yang bisa menggantikan keikhlasan hati.
Malam-malam di desa itu menjadi lebih cerah, dan Raka merasa damai. Dia tahu bahwa cinta sejatinya akan datang pada waktu yang tepat, tanpa perlu memaksakan diri. Dan di ujung malam, saat bulan bersinar, Raka berjanji untuk selalu menunggu cinta yang tulus, yang akan datang dengan sendirinya. Di suatu pagi yang cerah, Raka terbangun dengan semangat baru. Dia memutuskan untuk menghabiskan waktu di ladang, merawat tanaman dan menikmati keindahan alam. Sambil bekerja, pikirannya melayang pada Maya. Dia merasa bersyukur bisa melihat senyumnya kembali, meskipun mereka hanya berteman.
Hari-hari berlalu, dan Raka semakin dekat dengan Maya. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbagi cerita dan impian. Raka merasa hatinya bergetar setiap kali Maya tertawa. Namun, dia juga menyadari bahwa meskipun mereka dekat, ada batasan yang tidak bisa dia lewati. Raka ingin lebih dari sekadar teman, tetapi dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Suatu malam, saat mereka duduk di bawah bintang-bintang, Raka memberanikan diri untuk berbicara. "Maya, aku ingin jujur padamu. Aku menyukaimu lebih dari sekadar teman," katanya, suaranya bergetar. Maya terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Raka, aku juga merasa ada sesuatu yang spesial di antara kita. Tapi aku ingin kita melakukannya dengan cara yang benar."
Raka merasa lega mendengar kata-kata Maya. Mereka sepakat untuk saling mengenal lebih dalam, tanpa tekanan dari pelet atau mantra. Raka berjanji untuk mencintai Maya dengan tulus, tanpa memaksakan perasaannya.
Seiring waktu, hubungan mereka semakin kuat. Raka dan Maya saling mendukung dalam setiap langkah. Mereka berbagi impian dan harapan, membangun masa depan yang cerah bersama. Raka merasa bahagia melihat Maya tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan mandiri.
Suatu hari, saat mereka berjalan-jalan di tepi sungai, Raka melihat Maya menatap air dengan penuh harapan. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya. Maya tersenyum, "Aku berpikir tentang masa depan kita. Aku ingin kita bisa menjalani hidup yang bahagia bersama."
Raka meraih tangan Maya, "Aku berjanji akan selalu ada untukmu. Kita akan menghadapi segala tantangan bersama." Mereka berdua saling menatap, dan Raka merasakan cinta yang tulus mengalir di antara mereka.
Malam itu, saat bulan purnama bersinar terang, Raka dan Maya duduk di bawah pohon besar. Raka mengeluarkan sebuah kalung sederhana yang terbuat dari kayu. "Ini untukmu, sebagai tanda cinta dan komitmenku," katanya, memasangkan kalung itu di leher Maya. "Aku ingin kita selalu mengingat momen ini."
Maya terharu, "Terima kasih, Raka. Ini sangat berarti bagiku." Mereka berdua saling berpelukan, merasakan kehangatan cinta yang tulus. Raka tahu bahwa cinta sejati tidak perlu dipaksakan, dan dia bersyukur telah menemukan Maya.
Sejak saat itu, Raka dan Maya menjalani hidup dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Mereka belajar untuk saling menghargai dan mendukung satu sama lain. Raka menyadari bahwa cinta yang tulus adalah anugerah terindah yang bisa dimiliki seseorang.
Di desa kecil itu, kisah cinta Raka dan Maya menjadi inspirasi bagi banyak orang. Mereka menunjukkan bahwa cinta sejati tidak perlu menggunakan pelet atau mantra, tetapi cukup dengan keikhlasan dan ketulusan hati. Raka dan Maya terus menjalani hidup mereka, menantikan masa depan yang penuh harapan dan cinta.