Dilan, seorang pemuda berusia 27 tahun, terbangun dari tidurnya dengan perasaan aneh. Ia merasa seolah baru saja menjalani sebuah mimpi yang sangat nyata, namun detailnya samar. Dalam mimpinya, ia melihat seorang gadis cantik dengan senyuman yang menawan, dan namanya adalah Milea. Dilan menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir rasa bingung yang mengganggu pikirannya. Ia bangkit dari tempat tidur dan bersiap untuk menjalani hari.
Dilan adalah seorang arsitek sukses yang tinggal di Jakarta. Ia memiliki segalanya: karier yang cemerlang, teman-teman yang setia, dan kehidupan yang nyaman. Namun, di dalam hatinya, ada kekosongan yang tak bisa ia jelaskan. Ia sering merasa seolah ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang sangat berarti baginya.
Sementara itu, di sisi lain kota, Milea, seorang wanita berusia 62 tahun, duduk di beranda rumahnya. Ia memandangi halaman yang dipenuhi bunga-bunga yang ia tanam sendiri. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, senyumnya tetap memancarkan kehangatan. Namun, di dalam hatinya, ada rasa kesepian yang mendalam. Ia sering teringat pada cinta pertamanya, Dilan, yang pergi terlalu cepat dari hidupnya.
Dilan dan Milea pernah saling mencintai di masa lalu, saat mereka masih muda. Mereka adalah sepasang kekasih yang penuh impian dan harapan. Namun, takdir berkata lain. Dilan tewas tragis dalam sebuah kecelakaan mobil, meninggalkan Milea dalam kesedihan yang mendalam. Sejak saat itu, Milea berusaha melanjutkan hidupnya, tetapi bayangan Dilan selalu menghantuinya.
Suatu hari, saat Dilan sedang berjalan di sekitar kota, ia melihat sebuah toko buku kecil yang menarik perhatiannya. Tanpa berpikir panjang, ia masuk ke dalamnya. Di dalam toko, ia menemukan sebuah buku tua yang berjudul "Cinta Abadi". Dilan merasa tertarik dan membelinya. Saat ia membuka halaman pertama, ia menemukan sebuah gambar yang sangat familiar—gambar seorang gadis dengan senyuman yang sama persis seperti yang ia lihat dalam mimpinya. Nama gadis itu tertulis di bawah gambar: Milea.
Dilan merasa jantungnya berdebar. Ia tidak bisa menjelaskan mengapa, tetapi ada sesuatu yang membuatnya merasa terhubung dengan gambar itu. Ia mulai membaca buku tersebut dan menemukan kisah cinta antara Dilan dan Milea yang ditulis dengan indah. Setiap halaman membawa kembali kenangan yang terlupakan, dan Dilan merasa seolah ia sedang membaca kisah hidupnya sendiri.
Di sisi lain, Milea juga merasakan perubahan dalam hidupnya. Suatu malam, saat ia sedang duduk di beranda, ia melihat bintang-bintang di langit. Ia berdoa agar bisa bertemu kembali dengan Dilan, meskipun ia tahu bahwa itu hanya harapan kosong. Namun, saat ia menutup matanya, ia merasakan kehadiran Dilan di sampingnya, seolah cinta mereka tidak pernah padam.
Keesokan harinya, Dilan kembali ke toko buku untuk mencari tahu lebih banyak tentang buku yang ia beli. Ia bertanya kepada pemilik toko, seorang pria tua yang bijaksana. "Apa yang bisa Anda ceritakan tentang buku ini?" tanya Dilan. Pemilik toko tersenyum dan menjawab, "Buku itu adalah kisah cinta yang abadi. Banyak orang percaya bahwa cinta sejati tidak akan pernah mati, bahkan setelah kematian."
Dilan merasa tergerak oleh kata-kata itu. Ia mulai menyadari bahwa mungkin ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar kehidupan ini. Ia merasa seolah ada ikatan yang kuat antara dirinya dan Milea, meskipun mereka terpisah oleh waktu dan ruang. Ia memutuskan untuk mencari Milea, berharap bisa menemukan jawaban atas perasaannya.
Setelah mencari informasi, Dilan akhirnya menemukan alamat Milea. Dengan penuh harapan dan rasa gugup, ia pergi ke rumahnya. Saat ia tiba di depan pintu, jantungnya berdebar kencang. Ia mengetuk pintu, dan setelah beberapa saat, Milea membukanya. Ketika mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti. Milea terkejut melihat sosok Dilan yang tampak sama persis seperti yang ia kenal di masa lalu.
"Milea," Dilan memanggil namanya dengan lembut. "Aku kembali."
Milea merasa seolah dunia di sekelilingnya menghilang. Ia tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. "Dilan? Apakah itu benar-benar kamu?" tanyanya dengan suara bergetar. Dilan mengangg uk, "Ya, ini aku. Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, tetapi aku merindukanmu."
Milea merasa air mata mengalir di pipinya. Ia tidak bisa menjelaskan perasaannya, tetapi hatinya dipenuhi dengan harapan dan kerinduan yang telah lama terpendam. "Aku juga merindukanmu, Dilan. Sejak kepergianmu, hidupku tidak pernah sama lagi," ucapnya sambil memeluk Dilan erat-erat.
Mereka berdua duduk di beranda, berbagi cerita tentang kehidupan mereka selama ini. Dilan menceritakan tentang kariernya, sementara Milea berbagi tentang perjalanan hidupnya setelah kehilangan Dilan. Mereka tertawa dan menangis, merasakan kembali ikatan yang telah lama terputus. Dilan merasa seolah waktu tidak pernah berlalu, dan cinta mereka tetap utuh meskipun terpisah oleh kematian.
Seiring berjalannya waktu, Dilan dan Milea semakin dekat. Mereka menghabiskan waktu bersama, mengenang kenangan indah di masa lalu dan menciptakan momen-momen baru. Dilan merasa hidupnya kini lebih berarti, dan Milea merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang. Namun, di dalam hati mereka, ada kesadaran bahwa waktu tidak berpihak pada mereka.Suatu malam, saat mereka duduk di bawah sinar bulan, Dilan berkata, "Milea, aku merasa kita memiliki kesempatan kedua. Mungkin ini adalah takdir yang mempertemukan kita kembali." Milea menatap Dilan dengan penuh harapan. "Aku ingin percaya itu, Dilan. Namun, kita harus menghadapi kenyataan bahwa kita tidak bisa mengubah masa lalu."
Dilan mengangguk, tetapi ia tidak ingin menyerah pada cinta mereka. "Aku akan selalu ada untukmu, Milea. Kita bisa menciptakan kenangan baru bersama, meskipun kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi." Milea tersenyum, merasakan kehangatan cinta Dilan yang selalu ada di dalam hatinya.
Namun, seiring waktu berlalu, Milea mulai merasakan dampak dari usianya. Kesehatannya mulai menurun, dan ia tahu bahwa waktu yang tersisa tidak banyak. Dilan melihat perubahan itu dan merasa cemas. Ia tidak ingin kehilangan Milea lagi. "Milea, kita harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu," ucapnya dengan penuh emosi.
Milea meraih tangan Dilan dan berkata, "Dilan, kita tidak bisa melawan takdir. Namun, aku ingin kita menghabiskan waktu yang tersisa dengan penuh cinta dan kebahagiaan." Dilan mengangguk, bertekad untuk membuat setiap momen berharga.
Mereka mulai melakukan perjalanan bersama, mengunjungi tempat-tempat yang pernah mereka impikan. Dilan membawa Milea ke pantai, tempat mereka sering menghabiskan waktu di masa lalu. Mereka berjalan di tepi pantai, merasakan angin laut yang sejuk dan mendengarkan deburan ombak. Dilan menggenggam tangan Milea, merasakan kehangatan yang selalu ada di antara mereka.Suatu malam, saat mereka duduk di tepi pantai, Dilan berkata, "Milea, aku ingin kau tahu bahwa cintaku padamu tidak akan pernah pudar. Bahkan jika kita terpisah lagi, aku akan selalu mencintaimu." Milea menatap Dilan dengan penuh kasih sayang. "Aku juga mencintaimu, Dilan. Cinta kita adalah sesuatu yang abadi."
Hari-hari berlalu, dan kesehatan Milea semakin menurun. Dilan berusaha sekuat tenaga untuk merawatnya, tetapi ia tahu bahwa waktu semakin mendekat. Suatu malam, saat mereka berbaring di ranjang, Milea memegang tangan Dilan dan berkata, "Dilan, aku tidak ingin kau bersedih. Ingatlah bahwa cinta kita akan selalu ada, meskipun kita terpisah."
Dilan merasa air mata mengalir di pipinya. "Aku tidak ingin kehilanganmu, Milea. Kau adalah segalanya bagiku." Milea tersenyum, "Kita akan bertemu lagi, Dilan. Cinta kita tidak akan pernah padam."
Beberapa hari kemudian, Milea menghembuskan napas terakhirnya di pelukan Dilan. Hatinya hancur, tetapi ia tahu bahwa cinta mereka akan selalu hidup. Dilan merasakan kehadiran Milea di sekelilingnya, seolah ia tidak pernah pergi. Ia berjanji untuk menjaga kenangan mereka selamanya.Setelah kepergian Milea, Dilan merasa kehilangan yang mendalam. Namun, ia juga merasakan kedamaian, mengetahui bahwa cinta mereka tidak akan pernah pudar. Ia melanjutkan hidupnya dengan membawa kenangan Milea di dalam hatinya, dan setiap kali ia melihat bintang-bintang di langit, ia merasa seolah Milea selalu ada di sampingnya.
Dilan memutuskan untuk menulis sebuah buku tentang cinta mereka, mengisahkan perjalanan hidup mereka yang penuh suka dan duka. Ia ingin dunia tahu bahwa cinta sejati tidak mengenal batas waktu dan ruang. Dalam setiap kata yang ditulisnya, Dilan menuangkan semua perasaan yang ia miliki untuk Milea, berharap bahwa kisah mereka bisa menginspirasi orang lain untuk menghargai cinta yang ada dalam hidup mereka.
Buku itu menjadi bestseller, dan banyak orang tergerak oleh kisah cinta Dilan dan Milea. Mereka merasakan kehangatan dan kedalaman cinta yang abadi, meskipun terpisah oleh kematian. Dilan sering diundang untuk berbicara di berbagai acara, membagikan kisahnya dan mengingatkan orang-orang tentang pentingnya mencintai dan menghargai orang-orang terkasih.
Suatu malam, saat Dilan duduk di beranda rumahnya, ia melihat bintang-bintang berkelap-kelip di langit. Ia teringat pada janji Milea bahwa mereka akan bertemu lagi. Dengan penuh harapan, Dilan menutup matanya dan berdoa, "Milea, aku akan selalu mencintaimu. Aku percaya kita akan bertemu lagi di suatu tempat, di waktu yang tepat."
Dilan merasa tenang, seolah cinta mereka akan selalu menjadi bagian dari dirinya. Ia tahu bahwa meskipun Milea telah pergi, cinta mereka akan terus hidup dalam setiap kenangan, setiap detik yang mereka habiskan bersama. Cinta yang tak pernah padam, cinta yang akan selalu ada, meskipun terpisah oleh waktu dan ruang.