Dia anak kecil, dia anakku, dia anak sholehahku, apa salahnya padamu? Apa kamu mau melampiaskan amarahmu pada anak sekecil dia, karena anakmu sudah tidak penurut padamu? Dulu anakmu sangat nurut padamu, karena kamu terlalu ikut campur maka dia bertindak tegas bukan berarti melawanmu.
Dulu aku belum punya anak kamu selalu bertanya seolah sangat perhatian pada kami. Setelah kami punya anak kamu juga mau ikut campur cara mendidik anak kami seolah kamulah paling pintar! Ya pintarmu ngeles.
Anakku masih bayi yang harusnya aktif mengekspresikan keinginannya kamu larangi, dia kami ajari tengkurap, duduk, berdiri seolah salah. Ya memang salah, salahnya aku terlalu menghargai yang notabenenya kamu hanya orang lain. Sampai kamu mengatai dia MALAS saat kami mengajarinya berdiri, kenapa aku masih diam? Karena kamu lebih tua jadi aku hargai itu. Tapi lama-lama kamu akan makin sangat ngelunjak seolah kamu bisa mengatur hidup kami sepenuhnya, saatnya untuk berubah menjadi Singa.
Aku selalu berupaya meyakinkan diriku bahwa ini ujian, ini akan jadi pengalaman dan pembelajaran dalam hidup supaya lebih percaya diri karena kami sebagai orang tua ingin yang terbaik buat anak kami. Bodohnya aku yang percaya begitu saja pada orang tua yang tidak pernah menghargai usaha kami untuk patuh. Sekarang kamu lepas tangan karena apa yang kamu inginkan terwujud menjatuhkanku melalui anakku. Allah tidak tidur, Allah akan menunjukkan jalan terbaik dan pasti ada HikmahNya.