Terdapat sebuah rumah kecil dengan atap genting yang sudah mulai berubah warna, di ujung kota kecil, di tengah perbukitan yang dikelilingi pepohonan hijau. Rumah itu milik Farah, seorang gadis muda yang gemar menulis diari setiap malam.
Hari itu, langit begitu murung. Awan hitam mendominasi langit, dan semilir angin mulai berbisik-bisik seolah mempersiapkan kedatangan hujan. Farah duduk di ambang jendela kamarnya, memandangi awan yang bergerak lambat.
Tak lama kemudian, percikan-percikan hujan mulai jatuh. Farah tersenyum, merasa hangat dan damai. Dalam kamar yang tenang, Farah duduk di atas kursi dekat jendela, membuka diarinya.
Dalam riuh rendah hujan, dia mulai menulis, mencatat setiap titik hujan yang jatuh, setiap aroma tanah yang tercium dari jendela terbuka.
Tiap butir hujan baginya adalah pesan. Pesan tentang kesegaran, tentang kehidupan yang terus berjalan, dan tentang rasa syukur akan setiap momen indah dalam hidupnya.
Saat hujan reda, Farah mengakhiri catatan diarinya dengan kata-kata yang sederhana: "Setetes hujan mengingatkan bahwa kehidupan adalah tentang setiap momen yang mampu membuat hati kita bahagia".
Farah menutup diarinya, tersenyum. Hujan telah memberinya inspirasi, membuatnya merasa hidup. Sebab baginya, hujan bukan hanya air yang turun dari langit, tapi juga kisah kehidupan yang terus berjalan.
Bersambung...