ROSA POV
"Lepaskaaan aku, toloongg!!"
Teriakan itu terus saja aku dengar setiap malam, membuatku marah sekaligus ingin menangis.
Tiana, anak perempuanku. Masih enam belas tahun umurnya saat kejadian itu berlangsung.
Sungguh, aku sangat menyesal. Andai saja saat itu aku tidak mengijinkannya untuk pergi sendirian. Mungkin putri kesayanganku itu sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan normal.
Sudah hampir dua tahun, tapi Tiana masih saja ketakutan. Tidak pernah sehari pun dia terlihat tenang. Dia selalu meneriakan nama orang-orang bajingan itu dengan raungan kemarahan.
Dia tidak tahu, aku juga lebih marah. Tapi, aku juga membenci diriku sendiri. Karena kesibukanku mencari pundi-pundi uang, aku melupakan tugas sebagai ibu.
****
Aku masih mengingat dengan jelas, saat di pagi buta aku menemukan tubuh Tiana, terbaring di depan rumah kami. Dengan baju robek di sana-sini.
Tubuhnya penuh luka, memar dan berdarah. Tapi, tatapanku terpaku pada darah yang keluar dari sela-sela pahanya.
Aku pun langsung memeluk tubuh putriku itu, hatiku hancur. Anakku satu-satunya, menjadi korban pemerkosaan.
Rasanya aku ingin mati saja, saat tahu ternyata, Tiana. Di perkosa oleh tiga orang bajingan. Dia di cegat saat akan pulang ke rumah.
Aku sudah mencoba menuntut para bajingan itu, tapi upayaku gagal. Karena mereka adalah anak-anak orang penting di kota ini, jadi dengan mudahnya mereka di bebaskan dari tuntutan hukum.
Adilkah?
Tapi aku bisa apa? Ekonomiku saja sudah berantakan semenjak suamiku meninggal.
Tapi, aku tetap akan menuntut keadilan untuk Tiana, dengan caraku sendiri.
****
Ardian Sastrohadi, anak seorang pengusaha kaya raya di kota ini. Masih berkuliah di salah satu kampus ternama di Semarang.
Setiap minggu dia akan pulang ke rumahnya yang juga terletak di kota tempat aku tinggal, untuk bertemu dengan orang tuanya.
Sekarang, aku sedang memperhatikannya, Ardian tengah mencuci mobil Marcedes Benz berwarna hitam miliknya. Sembari bersiul seakan hidupnya baik-baik saja dan bahagia setelah merenggut paksa dan melukai kesucian seorang gadis.
Ingin rasanya aku menyobek mulutnya yang sedang berisul itu. Tapi aku akan lebih bersabar, demi Tiana.
***
Menunggu itu sangat membosankan, seperti yang sedang aku lakukan sekarang. Berdiam di pinggir jalan, menunggu mobil bajingan Ardian, lewat.
Hari ini, aku akan membuat dia membayar apa yang sudah dia perbuat pada putriku.
CIIIIITTT ....
Suara deritan mobil berhenti tepat di depan tubuhku. Lalu, seseorang yang sangat aku benci itu keluar dari mobilnya dengan wajah marah.
"Lo mau mati, ya? Heh!!" bentaknya padaku.
Aku hanya menunduk, agar dia tidak melihat wajahku.
"Dasar gila!" umpatnya lagi.
Karena aku hanya diam, Ardian pun memilih untuk kembali ke mobilnya. Tapi, saat dia berbalik dariku.
Aku bergerak cepat menancapkan sesuatu yang tajam pada punggungnya. Ardian sempat menengok ke belakang, matanya melotot seakan kaget melihat wajahku. Sampai akhirnya dia roboh di atas aspal jalanan yang sepi itu.
"Hallo bajingan, sudah siap ke neraka?"
***
Aku menyeret tubuh Ardian menuju rumah kayu di tengah kebun, yang sudah aku siapkan sebelumnya.
Aku tidak perduli, kepala dan tubuh bajingan ini beberapa kali terkena kerikil tajam atau batu, karena aku bisa melihat darah mulai merembes keluar dari beberapa bagian tubuhnya.
Saat sampai di rumah kayu itu, aku langsung mengikat tubuh Ardian yang sedang pingsan itu.
Sesuatu yang aku tancapkan tadi bukanlah pisau, tapi suntikan yang di dalamnya sudah aku isi dengan cairan bius.
Setelah selesai mengikat tubuhnya, aku mengambil ember yang sudah ku isi air. Lalu aku siramkan ke wajahnya yang tampak sangat menyebalkan.
Bisa aku lihat, Ardian perlahan bangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Akhirnya kamu bangun juga," ucapku dengan nada yang ku buat selembut mungkin.
"Taa..n..tee, kenapa saya di ikat begini?" tanyanya dengan meringis menahan rasa perih, yang di akibatkan oleh gesekan kulitnya dengan tanah dan aspal saat aku seret tadi.
"Untuk menuntut keadilan!!"teriakku di depan wajahnya.
"Maafkan saya, tante. Saya khilaf," ungkapnya dengan suara bergetar.
"Maaf? Khilaf? HAHAHHA,"ejekku "Kemana saja kamu? Aku lihat di pengadilan, kamu tertawa bersama teman-teman brengsekmu itu!!"
Ardian hanya mendunduk, aku bisa melihat wajah ketakutannya.
"Jangan sedih dong, teman-teman kamu yang lain juga nanti akan mendapat giliran," ujarku sebelum berlalu keluar.
****
Aku kembali ke rumah kayu itu dengan membawa gergaji dan golok panjang.
Seakan tahu apa yang akan aku perbuat padanya, Ardian pun memohon padaku.
"Itu untuk apa, Tante? Tolong lepaskan saya," ucapnya dengan sedikit terisak.
"Sebentar lagi juga akan aku lepaskan," balasku dingin
"Apapun yang Tante minta, saya akan turutin. Tante mau uang? Emas? Semua akan saya penuhi."
"Kamu pikir, aku butuh hartamu? HAH?"
Aku berteriak sembari mengayunkan golok ke kakinya yang sebelah kanan. Ardian menjerit kesakitan saat dari kakinya yang hampir putus itu, mengucurkan darah segar.
"Harus di gergaji dulu, biar putus sekalian," ucapku riang.
"Ampuuun, Tante. Ampuuunn ...."
"Ampun katamu? Apa kamu berhenti saat putriku meminta ampun?"
Aku semakin bersemangat menggergaji kakinya, sampai kaki itu putus.
"Arghhhhh ....."
Ardian kembali berteriak saat aku melakukan hal yang sama pada kakinya yang sebelah kiri.
Tampak Ardian sudah lemas karena mungkin hampir kehabisan darah, atau lemas karena sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang dia derita.
Tapi kesakitan itu, tidak akan bisa menebus dosanya pada putriku.
"Harusnya aku akan membiarkanmu hidup dengan tanpa kedua kaki, tapi rasanya, manusia bedabah sepertimu lebih baik mati saja," ujarku sembari menatap tajam wajah Ardian.
"Jaa..aangan Tan...te, saa..yaa mi..intaa ma..aaff," rintihnya.
Tapi aku tidak perduli dengan rintihan merananya, aku jambak rambut warna kecokelatan miliknya.
Lalu ku arahkan golok yang sedang aku pegang ke arah lehernya. Dengan perlahan-lahan aku gorok leher Ardian.
Sengaja aku melakukannya dengan pelan-pelan, agar dia bisa merasakan sakitnya.
"Arrrgghhhh ...." jerit Ardian.
Darahnya bermuncratan, membasahi tanganku. Suara tercekatnya juga terdengar merdu di telingaku.
Lalu badannya berkelojotan, sampai saat akhirnya tubuhnya terdiam.
Membuatku puas sekaligus senang. Akhirnya aku bisa melenyapkan salah satu manusia biadab yang sudah merusak Tiana.
****
Aku harus membuang mayat Ardian, tapi sebelumnya. Aku akan memutilasi tubuhnya dulu agar gampang untuk aku bawa.
Tangannya yang masih terikat, aku lepaskan. Lalu aku potong kedua tangannya.
Kepalanya yang hampir putus pun aku potong sekalian, sedangkan badannya aku robek bagian perutnya. Ku keluarkan organ-organ dalamya dan memasukannya ke sebuah kardus mie instan.
Setelah selesai, aku membawa satu persatu potongan tubuh Ardian ke mobil dan aku letakan di bagasi.
Aku pun masuk ke mobil itu dan membawa mobil itu ke tempat di mana seseorang bisa menemukannya.
Mereka harus melihat hasil karyaku, aku memang sangat jago dalam hal memotong bukan?
****
Sedari tadi melakukan kegiatan menyenangkan itu, aku selalu menggunakan sarung tangan. Aku kan tidak mau ketahuan polisi.
Aku masih belum selesai, ini baru awal. Aku akan membuat bajingan-bajingan tengik itu ketakutan melihat kondisi mayat Ardian.
Akhirnya aku memarkirkan mobil Ardian di pinggir jalan dekat sebuah hotel.
Aku pun keluar dengan santai karena aku memakai hoodie besar, topi dan juga masker. Siapa yang bisa mengenaliku?
Selamat tinggal Ardian, semoga kamu membusuk di neraka.
Sekarang aku harus pulang untuk mengabari Tiana kabar bahagia ini, aku juga harus menyusun rencana untuk melenyapkan dua bedebah lagi.
****
"Di temukan mayat dengan kondisi mengenaskan, di dalam sebuah mobil. Mayat yang di duga korban pembunuhuan itu pertama kali di temukan oleh salah satu sekuriti hotel..."
Aku tersenyum senang melihat berita, yang sedang di bicarakan oleh reporter wanita di televisi.
Pasti sekarang orang tua si bedebah Ardian sedang manangis histeris. Melihat putranya mati dalam kondisi terpotong-potong.
Aku beranjak dari depan TV, menuju kamar Tiana.
Saat ku buka pintu kamarnya, aku melihat, Tiana. Sedang berdiri di depan jendela yang tirainya tidak dia buka.
"Kamu senang, putriku? Satu orang sudah mati," ucapku sembari membelai rambutnya yang panjang.
Tiana hanya diam tanpa menengok ke arahku, aku pun memeluknya dari belakang.
"Maafkan Mama, yang tidak bisa menjagamu," isakku.
Sejak kejadian pemerkosaan itu, Tiana lebih sering diam. Dia hanya bisa berteriak ketakutan sembari menyebut nama para bedebah itu.
Sebenarnya aku tidak tahu, dari mana Tiana kenal para bajingan itu. Aku juga tidak tahu, kenapa Tiana bisa lewat di jalan sepi tempat terjadinya malapetaka itu.
Setiap aku tanya, Tiana hanya diam dan menangis. Kadang dia juga berteriak marah.
***
Sudah satu minggu sejak kematian Ardian, tapi aku melihat kehidupan Wisnu, masih baik-baik saja. Tidak ada rasa takut atau kuatir dalam dirinya.
Wisnu Winata, salah satu bajingan yang sudah merusak masa depan putriku. Anak dari seorang politikus yang masih ada hubungan darah dengan salah seorang gubernur.
Dia pikir, karena statusnya itu. Aku akan takut? Aku akan membiarkannya begitu saja?
Demi Tiana, aku akan membuatnya membayar semua yang sudah dia lakukan pada putriku.
***
Sama seperti Ardian, Wisnu juga kuliah di Semarang. Tapi, karena dia jarang pulang ke rumahnya, terpaksa aku harus menyusulnya ke kota atlas itu. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan keadilan ini.
Aku sudah berhenti bekerja, jadi aku bisa leluasa mengikuti Wisnu selama beberapa hari.
Sedangkan Tiana, aku titipkan pada sahabat baikku, Siska. Aku bilang padanya bahwa aku sedang mencoba mencari pekerjaan di luar kota.
Padahal yang sebenarnya, aku sedang mengikuti Wisnu tiap hari, agar aku bisa mencari celah untuk melancarkan rencanaku.
Rasanya aku tidak sabar untuk mendengar suara teriakannya. Pasti itu akan terdengar merdu.
Ternyata Wisnu sangat suka sekali pergi clubbing. Membuatku makin muak saja, tapi ini pertanda bagus.
Dia akan pulang ke kosannya dengan keadaan mabuk. Jadi aku bisa mempergunakan kesempatan ini untuk membawanya ke tempat sepi.
***
Sepertinya dewi fortuna berada di sisiku, karena aku melihat Wisnu keluar dari klub dengan di papah oleh dua orang temannya. Terlihat dia mabok parah.
Aku sempat mendengar salah satu temannya akan memesankan taksi online untuk Wisnu. Ini benar-benar kesempatanku.
Aku berjalan perlahan ke arah mereka bertiga, dengan langkah santai namun pasti.
"Ya ampun, ini Wisnu?" tanyaku pura-pura kaget saat sudah berada di dekat mereka.
Dua teman Wisnu tampak bingung melihatku.
"Tante siapa, ya?" tanya teman Wisnu yang memakai kacamata.
"Saya tantenya, Dik. Dari tadi tante nunggu Wisnu di kosan. Kata tetangga kosnya, Wisnu lagi pergi ke sini. Jadi tante nyusulin," ucapku bohong.
Mereka sempat melihatku dengan seksama, mungkin untuk memastikan bahwa omonganku benar atau tidak.
Tapi malam ini, aku benar-benar berusaha untuk berakting, seperti tante yang sangat menghawatirkan keadaan keponakannya.
Akhirnya dengan mudah, dua teman Wisnu menyerahkan Wisnu beserta kunci mobilnya padaku. Dasar anak-anak bodoh.
"Makasih ya, sudah ikut menjaga Wisnu. Anak ini emang bandelnya ampun, dibilang jangan suka mabok tapi masih saja di lakuin,"omelku dengan nada yang kubuat agar terdengar kesal sekaligus khawatir.
"Sama-sama, Tante," balas mereka serempak.
Setelah berbasa-basi sebentar, aku pun melaju membawa mobil dan Wisnu yang sekarang ada di jok belakang.
***
Aku akan membawa Wisnu ke rumah yang sudah aku sewa, rumah yang jauh dari rumah lainnya dan hanya di kelilingi tanah kosong.
Mereka bilang tidak ada yang mau menyewa rumah ini, karena berhantu. Dasar manusia lemah, padahal hantu kadang lebih manusiawi dari pada manusianya sendiri.
Harusnya orang-orang lebih takut pada sesamanya dari pada hantu. Hanya manusia yang sanggup menjatuhkan manusia lain, bahkan orang terdekatnya sendiripun.
Manusia juga bisa lebih jahat dari iblis, seperti bedebah Wisnu ini dan teman brengseknya yang lain. Kadang aku berpikir mereka adalah iblis yang menyamar sebagai manusia, ataukah mereka memang manusia berhati iblis?
Kalian boleh menyalahkan perbuatanku, menghilangkan nyawa orang lain. Tapi dunia ini sudah terlalu sempit untuk di tinggali para bedebah seperti mereka.
Jika hukum negara tidak bisa menjatuhkan mereka, biarlah orang-orang sepertiku yang akan melenyapkannya. Bukankah dunia akan lebih baik tanpa orang-orang sampah seperti mereka?
Ah, aku terlalu banyak bicara, mungkin akhir-akhir ini aku memang jarang sekali mengobrol dengan makhluk sosial lain.
Semenjak berhenti bekerja menjadi kepala toko, aku memang jarang sekali mengobrol dengan orang lain. Hanya Tiana dan Selby tempatku bercerita.
Saat sedang menyetir, aku mendengar suara dengkuran dari arah belakang. Aku pun menengok dan melihat Wisnu tengah tidur pulas setelah teler.
Tidur dan mimpilah dengan indah, Wisnu. Karena sebentar lagi kamu akan menghadap raja neraka bersama sahabat brengsekmu, Ardian.
****
Mobil berhenti tepat di depan rumah yang aku sewa, sesaat setelah berhenti. Aku sudah di sambut oleh suara gonggongan anjing, aku memang sengaja membawa Selby, anjing kesayanganku.
Aku kan tidak ingin kesepian, jadi aku mengikut sertakan anjingku yang setia ini.
Tanpa basa-basi, aku membuka pintu mobil belakang dan menarik dengan keras tubuh Wisnu hingga terjatuh ke tanah.
"Aawwww ...." teriak Wisnu kaget.
"Bangun juga kamu, bajingan cilik," desisku.
Wisnu menatapku dengan tatapan jengkel.
"Dasar jalang," umpatnya dengan berusaha bangun.
Tapi sebelum dia bangun untuk berdiri, aku sudah membekap wajahnya dengan sapu tangan yang sudah aku bubuhi klorofom.
Hanya sekian detik, tibuh Wisnu kembali lunglai dan jatuh ke tanah.
Kamu tidak akan pernah bisa melarikan diri dariku.
****
Aku tarik tubuh Wisnu, seperti saat aku tarik tubuh Ardian tempo hari. Setelah sampai ke dalam rumah, aku mengambil tali tambang yang ada di atas meja.
Ku ikat tangan dan kakinya kencang, dengan posisi tubuh terlentang. Sengaja ku posisikan tubuhnya seperti huruf X agar aku lebih leluasa untuk bekerja.
Lalu aku gunting baju serta celananya, agar dia telanjang.
Aku ingin melakukannya dengan santai dan tidak terburu-buru. Ku biarkan dulu Wisnu pingsan. Sementara aku, akan mempersiapkan hal yang mungkin akan aku butuhkan.
Kali ini aku hanya membutuhkan pisau kecil yang tajam, kompor dan tentu saja Selby.
"Kita akam berpesta malam ini, Selby," ucapku pada anjing kesayanganku.
****
Sudah hampir satu jam, tapi bajingan Wisnu belum juga bangun. Akhirnya aku memilih menelfon siska dulu, untuk menanyakan kabar Tiana.
"Hallo, Sis. Gimana kabar Tiana?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Dia baik, Ros. Tadi temen sekolahnya dulu, mampir kesini jenguk Tiana," balas Siska, sahabatku.
"Teman? Siapa?"
"Dia cewek, namanya Giana."
Giana adalah sahabat baik Tiana sewaktu sekolah, gadis kalem yang manis dan sopan.
Aku lega, Giana masih mau menjenguk Tiana. Karena setahuku dari dulu, Tiana hanya mempunyai Giana, sebagai temannya.
Setelah mengobrol sebentar, aku pun menutup telfon itu dan kembali ke ruang tengah untuk melihat keadaan Wisnu.
Rupanya dia sudah bangun, aku melihatnya sedang berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
"Percuma, tidak akan bisa lepas," ejekku sembari perlahan menghampirinya.
"Lo mau apa?" tanyanya dingin dan tidak sopan. Rupanya selain tidak bermoral, dia juga tidak punya sopan santun.
Sepertinya Wisnu lebih pemberani dari pada Ardian. Dia masih bisa bersikap sok jago di depanku. Padahal dia tahu, nasibnya ada ditanganku.
"Balas dendam, pastinya," jawabku sumringah.
"Balas dendam? Untuk apa?"
"Untuk apa kamu bilang?!! Dasar ibliss!!!!" teriakku marah.
Apa dia bodoh atau pura-pura lupa? Dia sudah merusak dan melukai putriku. Apa tidak ada nilainya Tiana di matanya? Baiklah jika di berpikir begitu, aku akan membuatnya membayar dengan mahal.
****
Hal yang pertama aku lakukan adalah menyalakan kompor yang di atasnya sudah ada teko berisi air.
"Kamu tahu, Wisnu? Dulu aku sangat takut melihat film thriller, apalagi ada adegan memotong atau menusuk tubuh seseorang," paparku dengan terus menatapnya, "Tapi, kelemahanku itu ternyata sekarang adalah keahlianku, aku bahkan sekarang sangat menikmati menusuk-nusuk tubuh manusia, apalagi manusia bajingan sepertimu!!"
"Sepertinya lo udah gila! Lepaskan gue, dasar pelacuur!!" raung Wisnu, sembari menarik-narik tangannya berharap tambang itu akan lepas.
"HAHHAHA, teruslah berusaha. Aku suka korban yang agresif. Membuatku bertambah semangat. Tidak seperti Ardian yang lemah dan gampang di bunuh."
"Jaa..add..ii yang membunuh Ardian itu, lo?" tanyanya dengan wajah mulai terlihat ketakutan.
"Tentu saja, apa kamu sempat melihat mayatnya? Karya pertamaku yang luar biasa bukan? Dan kamu akan menjadi yang ke dua," balasku sembari mendekat pada Selby, anjing pittbul kesayanganku.
Aku jongkok di dekatnya dan ku bisikan sesuatu pada telinga Selby, sesaat setelah aku membisikan sesuatu padanya. Selby langsung merangsak ke depan, ke arah Wisnu.
Wisnu yang melihat itu terlihat sangat kaget, apalagi saat Selby, mulai menggigit alat kelaminnya yang tidak tertutup sehelai benang pun.
"Aaaarrgghhhhh..... ampun Tan...tee...." jerit Wisnu.
Tapi jeritannya tidak aku perdulikan, aku tetap membiarkan Selby mengoyak alat kelaminnya hingga berdarah-darah.
Bajingan sepertinya yang suka merendahkam kaum wanita, memang pantas di perlakukan begitu.
Selby masih saja asyik menggigit dan merobek alat kelamin Wisnu, aku sengaja tidak memberi, Selby makan sedari pagi. Agar dia lapar, sekarang dia sudah mendapatkan makanannya.
Aku melihat air mata membasahi wajah Wisnu, membuatku puas dan senang.
****
"Berhenti, Selby!" perintahku pada anjing kesayanganku itu.
Selby pun berhenti dari aktifitasnya memangsa alat kelamin Wisnu, lalu dia berjalan perlahan ke arahku.
Mulutnya masih belepotan darah dan masih ada daging yang terselip di sana.
"Kamu sudah kenyang, Selby?" tanyaku pada Selby sembari mengelus kepalanya.
Selby hanya menggonggong dan mulai bersikap manja padaku.
Ku lihat Wisnu menangis sesenggukan, wajahnya merah dan meringis menahan perih.
"Sakit?" tanyaku dengan suara manja.
Wisnu hanya diam sembari terus saja menatap ke arah kelaminnya yang sudah hampir habis di makan Selby.
"Ini masih pemanasan, masih ada kejutan untukmu," ucapku dengan senyum mengejek.
"Psikopat gila, lepasin gue!!!!" teriak Wisnu dengan sisa-sisa tenaganya.
Aku hanya menyeringai menanggapi sumpah serapahnya itu, lalu aku pun berjalan ke arah kompor.
"Sepertinya airnya sudah mendidih, sekarang waktunya membersihkan darah di tubuhmu," ujarku sembari menatap Wisnu.
"Gue bersumpah akan membuat hidup lo menderita, wanita gila! Gue juga akan membuat anak lo menjadi budak seks laki-laki di kota ini!!" ancam Wisnu.
Kata-katanya membuatku bertambah marah, ingin rasanya aku langsung saja membunuhnya sekarang. Tapi, aku tidak ingin dia mati dengan semudah itu.
"Apa kamu yakin bisa keluar dari sini? Dasar bodoh!"
Aku lalu berjalan perlahan ke arahnya, sembari membawa teko berisi air mendidih dan berjongkok di sebelahnya.
Ku tatap bagian yang tadi di koyak oleh Selby, tidak bisa ku tahan senyum lebarku.
Lalu, dengan perlahan aku pun menuangkan air mendidih itu ke arah alat kelamin, Wisnu yang sudah terkoyak itu.
"Aarrrrgghhhhhhhh panaaaassss, tooolooongggg ...," jerit Wisnu histeris sembari badannya menggelepar-gelepar seperti ikan yang jatuh ke tanah.
Aku benar-benar sangat menikmati teriakan Wisnu, membuatku bertambah semangat untuk menyiksanya.
Setelah isi teko itu habis, aku membuang teko itu ke sembarang arah. Sedangkan Wisnu, sekarang hanya diam, wajahnya terlihat kepayahan.
Bagaimana tidak? Alat kelaminnya yang terkoyak tadi, sekarang melepuh karena ku siram air mendidih.
Terlihat perlahan dia menutup matanya, tapi aku tahu. Wisnu belum mati, dia hanya pingsan.
****
Sekarang waktunya bagian terakhir, aku mengambil pisau kecil yang tajam. Selby juga terlihat sudah tertidur, mungkin dia sudah kenyang dengan makanannya tadi.
Ku gunakan pisau kecil itu untuk menyayat-nyayat tubuh Wisnu, dari wajah hingga kaki. Bagian terkahir yang aku sayat adalah kedua pergelangan tangannya.
Darah mulai merembes keluar dari tubuh Wisnu, dia pasti akan mati karena kehabisan darah.
Kematian perlahan dan menyakitkan, sama seperti sakitnya perasaanku saat tahu, bahwa putriku menjadi korban kebrutalan manusia-manusia durjana sepertinya.
Aku juga tidak lupa memotret tubuh Wisnu yang pastinya sedang sekarat itu, untuk aku jadikan kenang-kenangan.
****
Aku menunggu hingga pagi buta, saat aku cek keadaan, Wisnu. Ternyata dia sudah mati kehabisan darah. Tepat seperti dugaanku.
Ku tendang wajah pucat itu dan kuludahi, rasanya benar-benar puas membuatnya mati dengan cara yang menyakitkan.
Sekarang aku akan membawanya ke tempat kos nya, agar mayatnya segera di temukan.
Ku seret mayat Wisnu dengan kasar, tubuhnya memang lebih besar dari Ardian. Jadi, aku harus lebih berusaha keras untuk membawanya kembali ke mobil.
KREEKK ....
Terdengar suara tulang patah, saat dengan kuat aku memaksa tubuh Wisnu masuk sepenuhnya ke bagasi mobilnya yang sempit.
Masa bodo tulangnya patah atau hancur, aku tidak perduli. Lagi pula, dia sudah mati.
Aku menyetir dengan santai di temani Selby, tidak lupa aku bersenandung dengan riang gembira.
Tinggal satu orang lagi dan aku sudah menyusun rencana yan bagus untuknya.
Rencana yang tidak kalah seru dibanding dua temnnya yang terlebih dahulu menghadap raja neraka.
***
Aku memarkirkan mobil Wisnu, tidak jauh dari kos mewah tempat dia tinggal.
Dari kemarin aku menyamar jadi tantenya Wisnu, aku merubah total penampilanku dengan wig rambut pendek, kacamata minus dan tahi lalat palsu.
Sekarang aku juga masih meggunakan penyamaranku, agar tidak ada yang mengenaliku.
Setelah memarkirkan mobil yang di dalamnya ada mayat Wisnu, aku pun pergi dengan membawa Selby.
Aku harus cepat pergi dari kota ini juga, lagi pula aku juga sangat merindukan, Tiana.
Pastinya aku juga akan memberi kabar luar biasa ini padanya, Tiana pasti akan senang.
Selamat tinggal Wisnu, titip salamku pada sahabat biadabmu si Ardian, di neraka.
****
Semalam aku sudah melihat berita tentang penemuan mayat Wisnu. Aku benar-benar bodoh. Kenapa tempo hari aku meludahi mayatnya?
Sekarang aku jadi tidak tenang. Hari ini bahkan aku hanya menemui Tiana, sebentar setelah aku kembali dari semarang.
"Kamu baik-baik di rumah sama tante Siska ya," ucapku sedih di depan Tiana.
Tiana hanya menatapku, entah kenapa wajahnya yang biasa terlihat tanpa ekspresi. Sekarang menampakan kilat sendu, membuatku kembali memeluknya.
Tubuhnya bergetar dan suara isakan terdengar dari mulut Tiana.
"Kamu baik-baik saja kan? Apa ada yang sakit?" tanyaku kuatir.
Tiana hanya diam, tatapannya masih tertuju padaku. Ada linangan air mata di pipinya. Lalu ku hapus air mata itu, aku tidak ingin melihat putriku terus-terusan menderita.
Mungkin aku akan tertangkap atas tindakanku. Tapi aku tidak merasa menyesal, bajingan-bajingan itu pantas mati.
Tapi aku belum selesai, masih ada satu bajingan yang belum aku kirim ke neraka.
Deny Baskara, orang terakhir yang harus aku lenyapkan. Bagaimana pun caranya, aku akan membuat Deny menyusul teman-teman bajingannya.
"Mama harus pergi. Kalau mama tidak bisa pulang lagi. Pergilah ke rumah nenek mu," ujarku sembari mencium kening Tiana.
Dadaku sesak, karena aku harus meninggalkan Tiana. Dari semenjak aku menikah dengan ayah Tiana, hidupku penuh dengan kepayahan.
Dulu aku adalah putri pengusaha kaya, sampai sekarang pun, papiku masih kaya raya.
Hanya saja aku harus merelakan di kucilkan oleh keluargaku, karena aku memilih menikahi laki-laki biasa yang miskin. Bahkan Papi, sudah menganggapku mati.
Aku pun tidak berani untuk pulang, walaupun ayah Tiana, sudah meninggal. Aku tidak berpikir untuk kembali.
Tapi Tiana berhak mengenal keluarganya, aku berharap keluargaku mau menerima Tiana.
****
Benar dugaanku, polisi sudah tahu bahwa akulah dalang di balik kematian Wisnu. Sekarang saja rumahku, sudah di kepung oleh segerombolan polisi.
Untung saja instingku kuat, aku cepat melarikan diri. Tapi tetap saja, pikiranku di penuhi oleh Tiana.
Semoga Siska, bisa menjaga Tiana untuk sementara waktu. Sebelum aku mengabari Mami, tentang keberadaan cucunya, Tiana.
Sekarang aku harus fokus untuk melenyapkan Deny, mungkin sekarang dia sedang gemetar menunggu giliran. Atau mungkin dia sama seperti Wisnu, tetap santai seperti tidak terjadi apa-apa.
****
Deny rupanya sedang bersiap diri untuk pergi. Berbeda dengan dua temannya yang berkuliah, Deny lebih memilih membuka usaha kafe yang sekarang menjadi tempat tongkrongan anak muda di kota ini.
Aku membuntuti mobil Deny, menggunakan taksi online. Terpaksa aku harus membuat akun baru, karena wajahku saja sudah terpampang jelas di televisi tadi pagi.
Hari ini aku benar-benar sudah jadi buronom polisi, beritaku saja sudah berseliweran di portal online dengan judul beraneka ragam yang membuatku geli sendiri.
****
Mobil Deny, ternyata berhenti di depan sebuah rumah. Aku tidak tahu pasti, itu rumah siapa.
Setelah menunggu beberapa saat, terlihat perempuan muda membuka pagar rumah itu. Mobil Deny pun masuk dan ketika keluar dari mobil. Deny langsung mencium bibir dan memeluk perempuan muda itu.
Sepertinya perempuan muda itu adalah pacarnya. Aku pun lekas membayar taksi online itu cepat dan mencoba bersembunyi agar Deny, tidak melihatku.
Cukup lama aku memperhatikan rumah itu, tapi karena haus dan lapar. Aku pun mencari warung di dekat rumah itu. Sekalian aku mencari info.
Aku tidak khawatir orang akan mengenaliku sebagai buronan polisi karena saat ini, aku memakai atribut penyamaranku.
Jika kemarin aku memakai wig rambut pendek, sekarang aku memakai wig rambut panjang dengan warna burgundy. Berbeda dengan rambut asliku yang berwarna hitam dan sedikit bergelombang.
Belum lagi riasan yang ku gunakan, aku terlihat seperti wanita sosialita. Sangat bertolak belakang dengan keseharianku yang biasa orang lihat.
*****
Aku memilih warung makan di seberang rumah yang Deny masuki. Sembari makan, aku pun bertanya-tanya tentang kondisi rumah di depan warung ini tanpa mencolok.
Menurut pelayan bermulut ember yang sedari tadi melayaniku, rumah itu hanya di huni oleh perempuan yang berprofesi sebagai wanita malam.
Lagi-lagi keberuntungan berpihak padaku, aku bisa masuk kerumah itu dengan gampang.
***
Tok ... Tok ... Tok ....
Aku mengetuk pintu rumah itu, tapi tak kunjung di buka. Setelah bersabar beberapa saat, akhirnya pintu itu terbuka tepat saat hujan mulai turun.
Sedari siang memang cuaca mendung, tapi baru sekarang hujan. Untung saja aku tepat waktu, terlalu banyak yang harus aku rencanakan hingga larut malam, jadi aku baru bisa beraksi.
"Cari siapa, ya?" tanya perempuan muda itu dengan wakah judes.
"Denny," jawabku dengan senyum manis.
"Dia tidak ada di sini," balasnya ketus.
Dasar jalang, padahal jelas-jelas mobilnya ada di depan rumahnya.
Tanpa menunggu persetujuannya, aku merangsek masuk ke dalam rumah.
"Heyy! Yang sopan dong!!!" bentaknya padaku.
Aku tidak ingin berlama-lama mengahabiskan waktu dengan perempuan ini. Dengan cekatan, aku menusukan suntikan yang berisi cairan bius.
Perempuan muda itu hanya melotot sebelum ambruk ke lantai. Aku tidak perduli, kepalanya membentur lantai. Karena aku langsung mengikatnya.
Saat aku sedang mengikat perempuan itu, Deny muncul dari dalam rumah.
"Ada apa sih ...."
Ucapan Deny tidak di lanjutkannya, karena keburu kaget melihatku yang sedang mengikat perempuannya.
"Hello, Deny," sapaku ramah.
"Kamu siapa?"
Tanpa menjawab, aku langsung membuka rambut palsuku.
"Ingat?" tanyaku dingin.
Seketika wajah Deny berubah menjadi pucat.
"Taa...tee mau apa?" tanyanya syok.
"Pertanyaan basi, persis seperti pertanyaan kedua temanmu yang sudah aku kirim ke neraka!"
Seperti tau apa yang akan aku lakukan, Deny yang masih setengah bertelanjang itu langsung lari ke arah dalam rumah.
Tapi aku tidak membiarkannya lari begitu saja, ku lepas stiletto dengan heels runcing yang aku pakai. Lalu ku lempar ke arah Deny.
Sepatu itu tepat mendarat ke arah kepalanya, hingga membuat Deny terjungkal jatuh.
Aku langsung lari ke arahnya dan ku injak leher bagian belakangnya dengas stiletto yang masih aku pakai.
Dengan posisi tertelungkup, Deny sulit untuk bergerak. Tapi rupanya aku terlalu meremehkannya.
Deny berontak yang mmebuatku terjungkal ke belakang. Saat aku sedang berusaha bangun, Deny sudah menendangku.
Dia juga memukul wajahku. Rasanya lumayan sakit, tapi aku tidak sudi menjerit. Saat dia sedang memukuliku, tanganku merogoh saku celanaku untuk mengambil sapu tangan yang sudah aku bubuhi dengan klorofom.
"Mati kau, ibliisss!!!!" teriak Deny, sembari mengayunkan stiletto-ku yang sudah lepas ke arah wajahku.
Dengan cepat ku arahkan sapu tangan itu ke wajahnya, wajah Deny yang tadi terlihat garang berubah kaget.
Dia berusaha tetap mengayunkan stiletto milikku itu, tapi tangannya tertahan di udara.
Lalu aku tendang tubuhnya dari atas tubuhku, terlihat dia sudah pingsan.
Aku pun bangun dan baru ku sadari wajahku dan beberapa bagian tubuhku mengeluarkan darah.
Ku seka darah yang keluar dari sudut bibirku. Aku bersumpah, Deny akan membayar atas semua yang dia lakukan pada Tiana dan aku.
Akan aku buat dia sangat menderita dan memohon padaku untuk mati saja. Tapi pertama-tama aku harus mengikat bajingan ini.
Aku tidak sabar bermain-main dengannya.
Tas yang tertinggal di ruang depan, aku ambil. Ku keluarkan barang-barang yang aku butuhkan.
Tali, pisau cutter, bensin dan tentu saja korek api.
****
"PERGII!!!"
Suara papi begitu menakutkan, aku tidak pernah melihatnya semarah ini padaku.
"Mulai sekarang, kau akan ku anggap mati!" lanjutnya dengan menatap wajahku tajam.
Ada sengatan rasa sakit di jantungku, saat aku mendengar omongan papi.
"Minta ampunlah ke papimu, Ros," pinta mamiku dengan suara bergetar karena menangis.
"Aku hanya mencintai, kenapa aku harus minta ampun? Apa salahku?" jawabku keras yang membuat wajah papiku bertambah merah.
"Dia tidak sederajat dengan kita, mau di taruh dimana mukaku jika sampai kau menikah dengan gembel seperti dia!!" bentak papiku.
"Dia bukan gembel, Pih! Dia seniman yang luar biasa!" teriakku frustasi.
Aku memang lebih mirip papi dari pada mami yang lembut, aku keras kepala dan tidak suka di atur.
Berbeda dengan adikku yang kalem, pintar, lembut seperti mami. Tapi sayangnya dia berhati ular. Muka dua bedebah, padahal dia adalah orang munafik yang gila pujian.
"Seniman jalanan yang tidak ada masa depannya," ejek papi.
"Papi bukan Tuhan, tidak ada yang tahu masa depan seseorang."
"Baiklah, teruslah bela laki-laki gembel itu. Sekarang kau harus memilih. Pilih keluargamu atau dia!"
Pilihan papi begitu sulit, aku sayang keluargaku. Kecuali adik munafikku, Helen. Tapi aku juga mencintai Mas Devon. Aku tidak ingin kehilangan dia.
"Aku tidak bisa memilih, Pih. Keduanya sangat berarti bagiku," balasku dengan suara lirih.
"Pergilah, hiduplah dengan menderita bersama laki-laki pilihanmu itu. Mulai sekarang, kau bukan lagi putriku," ujar papi dengan suara dingin yang bahkan memapu membuatku menggigil.
Itulah saat terakhir aku melihat papi, kerena setelah aku keluar dari rumah itu dan memilih menikah dengan Mas Devon. Aku tidak pernah berani pulang, meskipun rasa rindu pada mereka tak pernah padam di hatiku.
****
Kenangan menyedihkan itu kembali mengusikku, entah kenapa di saat seperti ini aku justru begitu merindukan mereka.
Aku ingin pulang, membawa Tiana. Tapi ucapan papi dulu membuatku takut sekaligus sedih. Aku takut jika nanti, Tiana akan melihat mamanya di usir seperti hewan.
Ah, aku tidak ingin mengingat atau membayangkan hal-hal seperti itu. Sekarang, aku harus melenyapkan Deny terlebih dahulu.
Seperti biasa, aku mengikat tubuh bedebah ini dengan posisi X.
Mulutnya aku sumpal dengan celana dalam yang aku temukan di ruang tengah tadi. Mungkin celana dalam bekas perempuan jalang yang sekarang sedang pingsan di ruang depan.
Aku menunggunya bangun, tapi sebelum itu aku juga menutup mulut perempuan tadi dengan taplak meja. Agar nanti saat aku sedang bermain dengan Deny, dia tidak berisik.
Setelah menunggu hampir satu jam, Deny pun bangun. Matanya melotot marah ke arahku. Seakan ingin menelanku bulat-bulat.
Ikatan tangannya yang aku ikatkan pada kaki ranjang berusaha dia lepaskan. Aku sangat suka melihatnya berjuang seperti itu.
Ku lihat pergelangan tangannya sampai berdarah. Dengan sabar aku tetap memperhatikannya melakukan usaha melepaskan diri.
"Lelah?"ejekku sembari melihat Deny yang sekarang sudah diam dan putus asa.
Deny hanya menatapku, tatapannya masih sama seperti tadi. Tatapan marah hingga wajahnya bersemu merah.
"Mari kita mulai permainan ini, brengsek!"
****
Ku ambil pisau cutter yang sudah aku bawa sedari tadi, aku akan melakukannya dengan perlahan. Agar bajingan ini merasakan pedih yang teramat sangat.
Aku mulai dari pahanya sebelah kanan, perlahan-lahan aku goreskan cutter itu di permukaan kulitnya.
Deny meraung dengan suara tidak jelas karena mulutnya tersumpal, sangat di sayangkan aku tidak bisa mendengar dengan jelas teriakannya.
Aku kuliti perlahan paha kanannya, tanganku juga sudah di penuhi oleh darahnya.
Aku harap Deny tidak cepat pingsan, karena aku ingin dia merasa kesakitan ini lebih lama.
****
Setelah puas menguliti paha kanannya, aku berpindah ke alat kelaminnya.
Sembari bersenandung, aku kuliti alat kelaminnya itu. Deny semakin berontak dan membuatku semakin kesal.
Karena tubuhnya terus bergoncang-goncang. Aku berlari ke arah dapur rumah itu untuk mencari pisau, tapi sebelum ke dapur. Aku melihat gunting besar yang di letakkan di atas meja makan.
Aku ambil gunting besar itu dan kembali ke kamar.
"Kamu sudah membuatku tidak sabar!" bentakku sembari mencoba menggunting alat kelamin Deny.
Deny kembali meraung dan berontak, tapi aku mencoba lebih keras menggunting alat kelaminnya.
Sampai akhirnya alat kelamin Deny putus menyisakan sedikit daging di sana dengan darah berlumuran.
Aku mendengar isakan Deny, air matanya mengalir. Membuatku semakin puas.
"Ini hukuman untuk laki-laki yang suka merusak perempuan. Kamu pikir, kejahatan kamu akan termaafkan? Hanya karena latar belakang keluargamu?!!!" bentakku lagi sembari berdiri dan menginjakkan kakiku ke alat kelamin Deny yang berlumuran darah.
Membayangkan Tiana kesakitan dan ketakutan saat di lecehkan oleh Deny dan teman-teman bajingannya itu. Aku semakin marah.
****
Aku ambil gunting besar dengan lumuran darah yang tergeletak di lantai, lalu dengan membabi buta aku tusuk-tusuk tubuh dan wajah Deny.
Darah bermuncratan hingga mengotori badanku. Setelah puas melihat Deny yang sudah mati dengan keadaan mengenaskan. Aku pun langsung mengambil botol berisi bensin.
Aku siramkan bensin itu ke tubuh Deny yang sudah tidak bernyawa. Lalu ku lemparkan korek api ke tubuhnya yang langsung memunculkan kobaran api.
Dengan cepat aku berlari keluar dari rumah itu sebelum api menjalar kemana-mana. Sesaat aku lihat perempuan jalang yang tadi aku ikat.
Rupanya dia sudah sadar dan saat melihatku, dia mencoba berteriak ingin meminta tolong.
Tapi aku tidak sudi menolongnya, biarlah dia mati terpanggang bersama Deny. Siapa tau di neraka mereka bisa menjadi pasangan serasi.
****
Aku berhenti lari di sebuah tanah kosong yang terdapat beberapa pohon mangga. Suasana yang remang-remang memudahkan aku untuk berbaur dengan keaadan sekitar.
Aku bisa melihat, beberapa warga keluar rumah untuk menyaksikan kebakaran hebat yang sudah aku buat.
Dengan tetap masih bersembunyi di balik pohon mangga besar, aku mencoba kembali mengaktifkan smartphonku yang sedari tadi aku matikan.
Aku tahu, dengan mengaktifkannya akan membuat polisi dengan gampang melacak keberadaanku. Tapi aku tidak perduli, aku ingin menelfon Siska untuk berbicara dengan Tiana.
Tapi belum juga aku menelfon Siska, ada panggilan telefon dengan nomer baru. Apakah ini polisi?
Dengan hati-hati aku pun mengangkatnya.
"Hallo," ucapku lirih.
"Rosa, dimana kamu, Nak?" balas suara lembut di sebrang telfon.
Suara yang selama ini begitu aku rindukan, suara mami.
"Mami," ucapku sembari terisak.
Sekarang setelah semua dendamku terbalaskan, kini hanya tersisa rasa sedih.
"Kembalilah, Ros. Kami merindukanmu, Tiana juga ada di sini."
"Tiana?"
"Mama dimana?" tanya Tiana dengan terisak.
Untuk pertama kalinya aku bisa mendengar Tiana, memanggilku setelah kejadian pelecehan seksual yang di alaminya.
"Maafkan mama, Tiana. Kamu hiduplah dengan baik dengan oma dan opa, jangan takut danp sedih lagi. Kamu pantas bahagia, putriku."
"Mama harus pulang! Jangan tinggalin Tiana," tangis Tiana.
"Ros, apa yang akan kamu lakukan? Mami mohon, kamu pulang. Papi akan mengurus semuanya."
"Mi, apa boleh Ros minta tolong?" tanyaku berusaha tegar, "jaga Tiana untuk aku, Mi."
"Mami akan jaga Tiana, tapi kamu harus pulang. Kami menunggumu, Ros," isak mami.
Aku tidak sanggup lagi meneruskan percakaan ini.
"Aku sayang mami dan sampaikan ke Tiana. Aku sangat mencintainya, aku akan terus menemaninya." ucapku dan langsung menutup panggilan telefon itu.
****
Suasana yang tadi lumayan rame karena rumah yang terbakar, kini berangsur mulai menyepi.
Aku pun memakai kesempatan itu untuk mengendap-endap mengambil kursi yang ada di depan rumah salah satu warga.
Kursi kayu yang lumayan ringan ini aku bawa ke tanah kosong tempat aku bersembunyi.
Aku gunakan kursi itu untuk tempatku berpijak saat menali tambang pada batang pohon mangga.
Setelah jadi, aku pun mulai memasang tambang itu ke leherku. Aku harus mati, karena tidak ingin membuat malu keluargaku untuk kedua kalinya.
Aku juga tidak ingin membuat Tiana, mempunyai orang tua seorang narapidana.
Maafkan mama, Tiana. Mama janji akan terus menemanimu, melindungimu.
Setelah mengatakan itu, aku tendang kursi tempatku berpijak. Sekarang aku merasa sangat kesakitan, aku tidak bisa bernafas. Dadaku dan leherku terasa sangat sakit.
Kematian ternyata sesakit ini, membuatku sedikit meronta karena tidak tahan akan kesakitan ini.
Bayangan tentang Tiana, Mas Devon dan keluargaku berkelebat dalam satu waktu mengiringi kesakitan akan kematianku ini.
Setelah itu aku merasa tubuhku terasa sangat ringan. Tapi tetap saja aku merasa sangat sakit di leherku.
Rasanya ini hanya seperti mimpi, kini aku berdiri menghadap tubuhku sendiri yang sedang tergantung.
Apa ini kehidupan setelah mati?
****