Danu adalah seorang pria yang penuh harapan. Ia percaya bahwa cinta itu sejati, bahwa dua hati yang saling mencintai akan selalu bersama, apapun yang terjadi. Ia merasa beruntung memiliki Clara, wanita yang ia anggap sebagai bagian dari takdir hidupnya. Mereka sudah bersama selama dua tahun, dan Danu merasa bahwa ia telah menemukan belahan jiwa yang selama ini ia cari.
Namun, segala sesuatunya berubah pada suatu malam yang gelap. Danu merasa ada yang aneh dengan Clara belakangan ini. Clara lebih sering menjauh, tidak seceria dulu, dan percakapan mereka semakin jarang. Tapi Danu berusaha untuk tetap sabar, berharap bahwa ini hanya fase sementara.
Pada malam itu, ketika Clara mengatakan akan keluar bersama teman-temannya, Danu merasakannya—rasa tidak nyaman yang menyelimuti hatinya. Ia mencoba menenangkan dirinya, berusaha mempercayai Clara. Namun, rasa khawatir itu semakin membesar ketika malam semakin larut, dan Clara tak kunjung pulang.
Setengah tidak percaya, Danu memutuskan untuk mengunjungi tempat yang biasa Clara sering kunjungi. Dan apa yang ia temukan di sana membuat dadanya sesak. Clara berada di sebuah kafe, tertawa bahagia di samping seorang pria lain—pria yang tidak pernah ia kenal.
Danu merasa seluruh dunia runtuh seketika. Ia melihat Clara memeluk pria itu, dan senyum mereka begitu nyata, begitu tulus. Hati Danu seakan diremas-remas, merasa dikhianati oleh orang yang selama ini ia percayai.
Dengan langkah goyah, Danu berbalik dan berjalan keluar dari kafe itu. Perasaannya campur aduk—marah, terluka, bingung, dan hampa. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa seperti ada bagian dari dirinya yang hilang. Ia merasa bodoh, karena selama ini ia terlalu mempercayai cinta, terlalu yakin bahwa ia dan Clara akan selalu bersama.
Di rumah, Danu duduk diam di sudut kamar, mencoba menenangkan diri. Handphone-nya bergetar. Itu Clara, yang mengirim pesan singkat: "Danu, maafkan aku... aku tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya."
Danu tidak membalas pesan itu. Ia sudah tidak bisa lagi mempercayai kata-kata Clara. Perasaan sakit yang ia rasakan jauh lebih dalam daripada apapun yang bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Keesokan harinya, Clara datang ke rumah Danu. Matanya merah, tampak jelas bahwa ia menangis. "Danu, aku... aku khilaf. Aku sangat menyesal."
Danu menatapnya dengan tatapan kosong. "Khilaf?" ucapnya pelan. "Kamu sudah membuat pilihan, Clara. Kamu sudah memilih untuk pergi, memilih untuk menyakitiku."
Clara mencoba mendekat, tetapi Danu mundur. "Cinta itu bukan hanya tentang janji, Clara. Tapi tentang kesetiaan. Kamu mengkhianatiku."
Dengan air mata yang mengalir, Clara memohon. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, Danu. Aku tidak bermaksud menyakitimu."
Danu menatapnya, dan meski hatinya terluka, ia tahu satu hal: ia tidak bisa lagi hidup dalam kebohongan. "Kita selesai, Clara. Aku tidak bisa lagi percaya padamu."
Clara terdiam, tubuhnya goyah. Ia tahu bahwa ia telah kehilangan semuanya—kepercayaan yang telah Danu berikan padanya, dan cinta yang telah lama tumbuh di antara mereka. Dengan hati yang berat, Clara pergi, meninggalkan Danu yang kini hanya bisa menatap pintu yang tertutup.
Danu kembali ke kamarnya, duduk di tepi ranjang, dan merasakan rasa sakit yang begitu dalam. Ia tahu cinta itu kadang datang dengan luka, tetapi tidak pernah menyangka bahwa ia akan terluka seberat ini.
---
Cerpen ini menggambarkan rasa sakit seorang pria yang dikhianati oleh orang yang ia cintai, dan bagaimana perasaan kehilangan dan kecewa bisa merobek hati seseorang.