Anya selalu mengagumi Rio dari kejauhan. Cowok populer dengan senyum yang mampu meluluhkan hati siapa saja. Setiap hari, saat bel istirahat, ia akan menyelinap ke perpustakaan, mencari sudut tersembunyi di mana ia bisa melihat Rio dari balik rak buku. Di sana, ia akan mengeluarkan buku diarynya dan menuliskan segala perasaan yang berkecamuk di hatinya.
"Rio, kau seperti matahari yang menerangi hari-hariku. Cahayamu begitu hangat, membuatku merasa hidup. Tapi, aku hanya seperti bulan yang hanya bisa memantulkan cahayamu," tulis Anya di buku diarynya.
Suatu hari, secara tidak sengaja, buku diary Anya terjatuh saat ia sedang asyik menulis. Dengan jantung berdebar kencang, ia memungutnya dan hendak berlalu. Namun, tangan besar Rio sudah lebih dulu meraih buku itu.
"Buku apa ini?" tanya Rio sambil tersenyum.
Anya terpaku. Wajahnya memerah padam. Dengan tergagap, ia menjawab, "B-buku catatan biasa."
Rio membuka buku itu dan matanya terbelalak membaca beberapa halaman pertama. Ia tersenyum tipis. "Puisi yang bagus," ucapnya.
Anya semakin malu. Ia ingin sekali merebut kembali buku diarynya, tapi Rio sudah lebih dulu menutupnya. "Boleh aku pinjam?" tanya Rio.
Anya mengangguk ragu. Ia tidak menyangka Rio akan tertarik dengan puisinya.
Beberapa hari kemudian, Rio mengembalikan buku diary Anya. "Terima kasih sudah membacakan puisimu," kata Rio. "Aku tidak menyangka kamu bisa menulis seindah ini."
Anya terkejut. Ia tidak menyangka Rio akan memberikan komentar seperti itu. Sejak saat itu, hubungan Anya dan Rio mulai berubah.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang banyak hal. Anya merasa sangat bahagia, tapi di saat bersamaan, ia juga merasa takut. Takut jika Rio mengetahui perasaannya yang sebenarnya.
Suatu hari, saat mereka sedang berjalan pulang bersama, Rio tiba-tiba berhenti dan menatap Anya. "Anya, aku ingin bertanya sesuatu," katanya. "Apa kamu pernah merasa... berbeda dari yang lain?"
Anya terdiam. Ia tahu apa yang ingin Rio tanyakan. Dengan hati berdebar kencang, ia mengangguk pelan.
"Aku juga," balas Rio. "Aku sering merasa kesepian di balik popularitasku ini. Aku ingin memiliki teman yang bisa mengerti aku seutuhnya."
Anya menatap mata Rio. Ia melihat ketulusan di dalamnya. Tiba-tiba, ia merasa keberanian yang selama ini ia pendam.
"Aku... aku suka padamu, Rio," ucap Anya dengan suara lirih.
Rio tersenyum lebar. "Aku juga suka padamu, Anya."
Dan akhirnya, mereka saling berpelukan. Anya merasa seperti sedang berada di atas awan. Mimpi yang selama ini ia harapkan akhirnya menjadi kenyataan.