Di tengah heningnya pagi yang kelabu, Taka berlari sekuat tenaga, mengabaikan teriakan dan tangisan yang mengisi udara. Suara gemuruh yang mengerikan mengguncang bumi, dan cahaya yang menyilaukan seolah menghapus semua yang ada di hadapannya. Ledakan itu merenggut segalanya—rumah, kenangan, dan yang paling menyakitkan, orang tuanya. Dalam sekejap, dunia yang dikenalnya hancur.
Taka, anak laki-laki berusia sepuluh tahun, terjatuh di antara reruntuhan. Ia mengerang, merasakan sakit di seluruh tubuhnya, tetapi rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehilangan yang menyayat hatinya. Di tengah kepanikan, satu nama terus berulang dalam pikirannya: Matsumi, adiknya yang berusia delapan tahun. Taka berjanji pada dirinya sendiri, ia akan menemukan Matsumi, tidak peduli seberapa jauh ia harus pergi.
Hari-hari berlalu, dan Taka berkelana di antara puing-puing kota yang hancur. Ia melihat wajah-wajah yang penuh kesedihan, orang-orang yang kehilangan segalanya, sama seperti dirinya. Namun, di tengah semua itu, harapan untuk menemukan Matsumi tetap menyala. Ia bertanya kepada setiap orang yang ia temui, tetapi jawaban yang didapatkan selalu sama: tidak ada yang melihat gadis kecil itu.
Taka bertahan hidup dengan mengais sisa-sisa makanan dan air dari tempat-tempat yang ditinggalkan. Ia merasakan kelaparan yang menggerogoti perutnya, tetapi rasa lapar itu tidak sebanding dengan rasa rindu yang menggerogoti hatinya. Setiap malam, ia membayangkan wajah ceria Matsumi, senyumnya yang manis, dan tawa riangnya. Ia berdoa agar adiknya juga selamat, di suatu tempat yang aman.
Suatu malam, saat bulan bersinar redup di langit, Taka menemukan sebuah tenda evakuasi. Harapannya kembali menyala. Ia berlari ke arah tenda itu, berharap menemukan Matsumi di dalamnya. Namun, saat ia memasuki tenda, ia hanya menemukan orang-orang yang terluka dan lelah, tidak ada jejak adiknya. Hatinya hancur, tetapi ia tidak bisa menyerah. Ia terus mencari, meski langkahnya semakin berat.
Hari-hari berlalu menjadi minggu, dan minggu menjadi bulan. Taka semakin lemah, tubuhnya kurus kering, dan penyakit mulai menggerogoti dirinya. Ia terjatuh di jalanan, tak berdaya. Dalam keadaan setengah sadar, ia teringat akan Matsumi. "Di mana kau, adikku?" bisiknya, air mata mengalir di pipinya. Ia merasa seolah dunia ini tidak adil, mengapa ia harus menanggung semua ini sendirian?
Akhirnya, di tengah malam yang sunyi, Taka terkulai di antara reruntuhan. Nafasnya semakin berat, dan ia tahu bahwa waktu telah habis. Dalam detik-detik terakhir hidupnya, ia membayangkan Matsumi, gadis kecil yang selalu ia cintai. "Maafkan aku, Matsumi," ucapnya pelan, sebelum semuanya menjadi gelap.
**Epilog:**
Di tenda evakuasi yang sama, di tempat yang sama di mana Taka mencari, seorang gadis kecil bernama Matsumi duduk dengan tatapan kosong. Ia selamat dari ledakan itu, tetapi terpisah dari kakaknya. Setiap hari, ia menunggu Taka kembali, berharap bisa melihat senyum kakaknya lagi. Namun, harapan itu semakin memudar seiring waktu.
Suatu malam, saat bintang-bintang bersinar di langit, Matsumi mendengar suara yang familiar. "Matsumi!" teriaknya, tetapi tidak ada jawaban. Ia menatap ke arah gelap, merasakan sesuatu yang hilang. Dalam hatinya, ia tahu bahwa Taka tidak akan pernah kembali. Namun, harapan itu tetap ada, meski samar. Ia berdoa agar kakaknya baik-baik saja, di suatu tempat yang aman, di mana mereka bisa bertemu lagi.
Di luar tenda, angin berhembus lembut, membawa bisikan dari masa lalu. Taka dan Matsumi, dua jiwa yang terpisah oleh tragedi, tetapi selamanya terikat oleh cinta yang takkan pernah pudar.